Ilustrasi pasien menjalani cuci darah.

Jakarta - Mengambil momen menjelang Hari Ginjal Sedunia, 7 Maret 2013, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) mengimbau masyarakat agar menjaga pola hidup demi ginjal yang sehat, karena penyakit ginjal kronik kian mengincar masyarakat Indonesia.


Menjaga kesehatan ginjal dapat dilakukan dengan 8 langkah, yaitu: menjaga kesehatan dan rutin berolahraga, menjaga kadar gula darah tetap stabil, menjaga tekanan darah dalam batas normal, mengonsumsi makanan sehat dan menjaga berat badan, minum banyak air putih, tidak merokok, tidak mengonsumsi obat sembarangan, serta memeriksa fungsi ginjal segera apabila memiliki salah satu atau lebih faktor risiko.


Ketua Pernefri dr Dharmeizar mengatakan, saat ini yang menjadi masalah utama di Indonesia adalah penyakit ginjal kronik. “Orang yang menderita penyakit ginjal kronik akan mengalami penurunan fungsi ginjal secara perlahan-lahan. Kondisinya tidak akan pernah bisa kembali ke normal sehingga harus menjalani pengobatan seumur hidup. Yang bisa dilakukan hanyalah mencegah progresivitas supaya tidak menjadi gagal ginjal,” ujar Dharmeizar, konferensi pers menyambut Hari Ginjal Sedunia 2013 yang diadakan di Hotel Grand Sahid, Jakarta pada Rabu (6/3).


Ia juga mengatakan banyak orang yang tidak menyadari bahwa ia telah menderita penyakit ginjal. Bila tidak ditangani dari awal, penderita akan memasuki tahap penyakit ginjal tahap akhir (PGTA). Ginjal kronik terjadi ketika kerusakan ginjal sudah lebih dari 3 bulan.


Penyebab dari penyakit ginjal kronik ini yaitu: hipertensi, diabetes melitus, radang ginjal, batu ginjal dan infeksi, serta penyakit ginjal polikistik. Hasil penelitian menunjukkan diabetes merupakan penyumbang terbesar penyebab PGTA. “Di Amerika dan Eropa, saat ini diabetes sebagai penyumbang terbesar, sampai 50%,” ucap Dharmeizar.


Umumnya, kata dr Dharmeizar, gejala penyakit ginjal kronik baru terlihat pada stadium 4 dan 5. Padahal sangat penting untuk menangani penyakit ini di stadium awal. Stadium 4 dan 5 akan memperlihatkan gejala fisik, seperti lemah dan lelah, mual, muntah-muntah, nafsu makan berkurang, meningkatnya tekanan darah tinggi, bengkak pada kelopak mata, tungkai, atau tangan, serta berkurangnya keinginan buang air kecil.

Berdasarkan studi yang dilakukan Pernefri, prevalensi ginjal kronik dari 9.412 subjek di daerah Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali, sekitar 12,5%. Sementara itu, prevalensi ginjal kronik stadium 5 yang memerlukan terapi pengganti ginjal berupa cuci darah dan transplantasi ginjal adalah 400/1 juta penduduk. Jadi, bila dikalkulasikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta, jumlah pasien yang perlu terapi pengganti ginjal sekitar 96 ribu.


Dharmeizar mengatakan ada sekitar 7000 orang baru yang menjadi pasien PGTA setiap tahunnya. Mulai tahun 2014, akan ada program universal coverage (layanan semesta untuk kesehatan), yakni masyarakat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan, berupa cuci darah dan transplantasi ginjal bagi penderita ginjal kronik stadium 5. “Sayangnya, saat ini mesin cuci darah baru bisa melayani sekitar 23.000 pasien. Masih ada sekitar 60.000 orang yang belum tertangani,” ucapnya.

Ahli ginjal dan hipertensi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Parlindungan Siregar mengatakan asupan air sangat penting untuk mencegah infeksi saluran kemih dan batu ginjal. Bila asupan air tinggi, kemampuan antibakteri akan meningkat.


Bagi orang yang ginjalnya masih normal, disarankan untuk mengonsumsi air sebanyak 2-3 liter per hari. Sementara, bagi yang sudah berusia di atas 65 tahun, disarankan untuk tidak minum air terlalu banyak.
“Bagi mereka yang sudah berusia lanjut, maksimal 1,5 liter sehari. Kalau sampai lebih dari itu, natrium dalam darah akan turun dan menyebabkan orang tersebut mudah terjatuh,” ucap Parlindungan. Selain mengonsumsi air, disarankan pula untuk mengonsumsi makanan rendah protein untuk menjaga ginjal agar tetap sehat. Sebab, protein tinggi yang dikonsumsi dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal.

Penulis: Yohannie Linggasari/NAD