Ilustrasi kawat gigi (behel).

Semarang - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Jawa Tengah, mengingatkan masyarakat untuk tidak memasang kawat gigi (behel) tanpa ditangani ahlinya, yakni dokter gigi, karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan.

"Sekarang ini banyak yang menawarkan pemasangan kawat gigi. Bahkan di salon kecantikan pun bisa (pasang kawat gigi, red)," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, dr Widoyono di Semarang, Rabu (17/4).

Menurut dia, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan kawat gigi, seperti sterilisasi dan akurasi, serta dampak-dampak akibat pemasangan yang tidak tepat, misalnya mengakibatkan radang.

Sebenarnya, kata Widoyono, pelayanan kesehatan gigi pada masyarakat sudah tertuang dalam beberapa regulasi, antara lain mengatur layanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh tenaga selain dokter gigi.

Ia mengakui, selama ini banyak tukang gigi yang membuka praktik pelayanan pada masyarakat, tetapi sebenarnya dibatasi pada layanan membikin gigi tiruan, baik sebagian maupun keseluruhan dan memasangnya.

"Mereka (tukang gigi, red) tidak boleh menambal, mencabut, melakukan implan gigi, termasuk pasang kawat gigi. Jadi, hanya boleh membikin dan memasang gigi tiruan. Itu pun yang memiliki izin praktik," katanya.

Pembinaan untuk Tukang Gigi
Berdasarkan data Dinkes Kota Semarang, saat ini setidaknya tercatat 67 tukang gigi yang membuka layanan di wilayah itu, tetapi pihaknya belum mengecek kepemilikan izin praktik puluhan tukang gigi tersebut.

Widoyono mengatakan, Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 1871/2011 mengatur tukang gigi yang punya izin praktik boleh melanjutkan hingga izinnya habis, sebatas layanan membikin dan memasang gigi tiruan.

"Regulasi itu mengatur pencabutan Permenkes Pekerjaan Tukang Gigi yang pelaksanaannya ditangguhkan hingga September 2012. Perkembangannya, ada pengajuan 'judicial review' ke Mahkamah Konstitusi," katanya.

Widoyono mengatakan, MK mengabulkan gugatan atas UU Praktik Kedokteran yang intinya tukang gigi tidak dihapus, melainkan harus dibina yang nantinya ditindaklanjuti dengan aturan dari Kemkes.

"Dari putusan MK itu nantinya kan akan ada Permenkes, kami masih menunggu. Namun, sementara ini kami akan lakukan pendataan tukang gigi yang ada di Semarang untuk memudahkan pembinaan," kata Widoyono.

Penulis:

Sumber:Antara