Sejumlah ibu memanen kebun gizi keluarga (KGK) bagian dari program Wahana Visi Indonesia di Desa Balodano, Kabupaten Nias Barat.

Sengatan matahari semakin terasa di atas kepala, ketika jarum jam di atas bumi Desa Balodano, Kecamatan Mandrehe Utara, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara (Sumut), sekitar pukul 12.00 WIB.

Teriknya suasana itu ternyata tidak membuat masyarakat di desa yang mempunyai arti di ujung dunia tersebut menghentikan aktivitasnya, apalagi dalam menyambut tamu yang datang dari kejauhan.

Mereka berkumpul di bilik papan yang dijadikan kantor cabang pembantu pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas). Satu sama lainnya mempersiapkan penyambutan. Padahal, tamu yang disambut itu bukan pejabat negara maupun perwakilan provinsi apalagi kabupaten di daerah tersebut. Namun, ada terpancar harapan besar dari mereka saat menanti kedatangan tamu desa itu.

"Yahowu... Yahowu... Yahowu...". Suara salam itu dikumandangkan. Mulai dari pelajar sekolah, masyarakat petani sampai perangkat desa. Sambutan hangat itu mereka sampaikan sebagai wujud kebahagiaan. Pasalnya, desa yang belum tersentuh tersebut, sangat jarang dikunjungi orang luar. Kehangatan dari kebersamaan masyarakat itu diperlihatkan, seakan memperlihatkan pendatang agar lebih kerasan di desa itu.

"Perkenalkan, nama saya Julius Daily. Saya pendeta Gereja Banua Niha Keriso Protestan (BNKP) di desa ini. Saya menganggap penting untuk hadir di sini, supaya pertemuan ini semoga diberkati Tuhan," kata Julius kepada SP, belum lama ini.

Kemudian, Julius bersama masyarakat di sana diajak masuk ke dalam kantor Puskesmas Pembantu. "Beginilah kondisi nyata di desa kami. Kebersamaan ini yang bisa dibanggakan," katanya.

Nama Desa Balodano mengandung makna. Desa itu bila diartikan sebagai ujung dunia. Lokasi menuju desa itu pun memang sangat jauh. Jarak dari Bandara Bhinaka, Gunung Sitoli, sekitar 75 kilometer (Km). Jalan menuju lokasi desa itu berliku naik turun, dan penuh dengan tikungan tajam. Sarana insfrastruktur jalan menuju desa terpencil itu pun banyak mengalami kerusakan, sampai kedalaman lebih dari satu meter.

Keselamatan pengendara bisa terancam bila mengemudi tidak ekstra hati - hati. Sebab, pinggiran sepanjang perjalanan yang dilalui tersebut sangat terjal. Kedalaman jurang ada yang lebih dari 15 meter. Meski itu hanya memakan waktu sekitar 2,5 jam, kelokan perjalanan itu sangat terasa melelahkan di badan.

Kondisi desa terpencil itu memang sangat miris. Balodano merupakan salah satu desa yang membutuhkan sentuhan. Baik itu perhatian dari pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten setempat. Selain itu, masyarakat desa itu juga mengharapkan pihak swasta dan lembaga pendonor, supaya berpartisipasi memajukan pembangunan, utamanya ekonomi masyarakat di sana.

"Dulunya, banyak anak - anak asal desa ini, yang kekurangan gizi. Ini tidak terlepas karena minimnya pengetahuan masyarakat atas gizi anak. Selain itu, tidak ada dokter yang ditempatkan di desa, semakin menambah daftar jumlah anak kurang gizi. Hanya saya seorang bidan yang melayani masyarakat di desa ini. Ini sudah berubah dengan kondisi sekarang. Kesadaran ibu - ibu atas gizi anak sangat besar," ujar Novelina Solin.

Novelina adalah bidan di tiga desa di Kecamatan Mandrehe, yang bertugas atas penempatan pemerintah provinsi. Banyak rintangan yang dihadapi wanita lajang berusia 27 tahun itu selama setahun melayani di sana. Dia harus bisa mengubah pola pikir masyarakat yang tergantung kepada dukun beranak. Selain itu, profesi yang dilakoninya itu, otomatis menjadi saingan dukun. Permasalahan ini masih menjadi tantangan terbesar.

Menurutnya, cara pandang masyarakat yang masih rendah itu bisa berubah setelah Wahana Vision Indonesia (WVI). Sentuhan yang diberikan lembaga kemanusiaan tersebut, dalam mengembangkan pendidikan dan kesehatan masyarakat, secara berangsur membawa nilai yang positif. Masyarakat juga diajarkan untuk bisa mandiri, dan diberikan pengertian untuk berpartisipasi, mengembangkan kebun gizi keluarga.

Manager Area Development Perwakilan (ADP) Nias Barat, Fortun menyampaikan, ada 39 desa di Nias Barat yang menjadi bagian dari program kerja VWI. Seluruh desa itu adalah kawasan yang tertinggal, dan tidak memahami pentingnya kesehatan buat ibu dan anak. Bahkan, pendidikan buat anak - anak di sana masih tertinggal, mengingat sarana dari pemerintah di tengah masyarakat desa, masih minim.

"Kami juga menjalin koordinasi dengan pemerintah kabupaten setempat untuk menyentuh masyarakat puluhan desa itu. Kondisi desa yang terpencil mengakibatkan anak - anak di sana minim atas pengetahuan, termasuk kurang menyadari atas pentingnya kesehatan. Peningkatan gizi akhirnya membawa perubahan setelah mereka mau membuka kebun gizi. Tanaman yang ditanam itu berupa, terung, kacang panjang, kacang hijau, bayam dan lainnya," jelasnya.

Ditambahkan, banyak manfaat yang dirasakan masyarakat dari membuka kebun gizi tersebut. Selain membantu pertumbuhan anak, hasil dari perkebunan itu sendiri dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Bahkan, ada di antara warga desa itu, yang memiliki penghasilan sekitar Rp 3 juta selama dalam sebulan. Hasil kebun itu dijual ke luar desa yang dominan mengandalkan pendapatan dari bertanam karet.

Dalam mengubah pola pikir yang dulunya primitif di sana pun membutuhkan kesadaran dan kemauan yang kuat dari masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang berpartisipasi pun harus rela mengorbankan waktu untuk membantu anak - anak agar melek menggunakan bahasa Indonesia dari bahasa daerah di sana. Selain itu, mereka diajarkan agar bisa hidup mandiri, menjalin kerjasama di antara kelompok pelajar, untuk mendapatkan biaya pendidikan dari kreativitas.

"Mereka mempunyai kelompok tarian dan bernyanyi selain bersama membuat keripik khas desa ini. Sebagian dari hasil pembuatan keripik itu ditabung untuk membiayai pendidikan di sekolah. Jika mengandalkan bantuan dari pemerintah belum tentu diperoleh. Makanya, saya berdayakan mereka untuk bisa mandiri, dan tidak kalah dengan pelajar di kota," ujar Hati Nurani Waruwu.

Hati Nurani berharap, pemerintah maupun pihak swasta dapat memberikan kesempatan buat kelompok remaja sekolah tersebut, supaya bisa mengundang mereka dalam memperlihatkan tarian budaya masyarakat desa tersebut. Sebab, undangan itu bisa membuat orang luar dapat mengetahui kondisi desa mereka, yang jauh tertinggal jika dibantingkan dengan masyarakat kota. Semangat kelompok remaja itu diyakini bisa membawa nilai positif buat desa itu.

Media Relation WVI, Shintya Kurniawan menyampaikan, lembaga ini merupakan organisasi Kristen yang bergerak di bidang kemanusiaan, bekerja menciptakan perubahan dengan fokus pelayanan pada kehidupan anak – anak, keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan. Bentuk pelayanan WVI itu tidak melihat latar belakang suku, agama, ras, budaya dan antar golongan.

Karya kemanusiaan WVI ini menjalin kerjasama dengan Kementrian Sosial RI itu sudah berjalan selama 52 tahun,. Daerah yang ditangani ada sebanyak 1.400 desa, yang terbentang mulai dari Nanggroe Aceh Darussalam sampai ke Papua. Saat ini, lebih dari 90,000 anak mendapat dukungan dari program-program yang dilaksanakan tersebut.

Secara nasional, masalah gizi balita masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas 2007, menunjukkan balita stunting (pertumbuhan terhambat/pendek) di Indonesia cukup tinggi, sebesar 36,8%. Jumlah tersebut belum banyak berubah di tahun 2010, yaitu sebesar 35,6%. Salah satu faktor penyebab utama masalah gizi balita adalah asupan makanan yang kurang atau tidak tepat. Selain itu, fungsi konseling tentang Pemberian Makanan pada Bayi dan Anak (PMBA) baik di tingkat puskesmas maupun di tingkat pos pelayanan terpadu (posyandu) belum berjalan maksimal.

Suara Pembaruan

Penulis: Arnold S/WBP

Sumber:Suara Pembaruan