Krisbiantoro

Selama lebih dari tiga dekade Kris Biantoro berjuang keras demi kesembuhan penyakit gagal ginjalnya. Meski hingga kini kesehatannya belum juga pulih, tapi semangat hidupnya tetap membara.

Merdeka! Sapaan lantang dan penuh semangat diteriakkan Kris Biantoro yang sedang berbaring di tempat tidurnya saat beritasatu menyambangi rumahnya di bilangan Cibubur, Jakarta Timur.

Meski 39 tahun menderita gagal ginjal, Kris tetap bersemangat seolah tak merasakan sakitnya itu. Padahal untuk bernapas pun MC, penyanyi sekaligus aktor ternama era 70 sampai 80-an itu sering dibantu selang oksigen yang ditempelkan ke hidungnya.

"Kalau berbicara terlalu lama misalnya 1 jam saja, saya sudah nggak kuat. Napas tersengal-sengal makanya selalu ada tabung oksigen disamping tempat tidur saya," jelasnya mengawali perbincangan.

Tak hanya itu, perutnya juga terlihat membesar karena di dalamnya dipasang alat khusus untuk membantu kerja ginjalnya yang nyaris tak berfungsi lagi. Kris mengatakan ginjalnya kini hanya berfungsi 30 persen. Sementara ia kini sudah tak mau lagi menjalani cuci darah yang sempat dijalaninya selama sekitar dua tahun. Sekali cuci darah dia harus mengeluarkan uang sekitar Rp700 ribu.

"Cuci darah amat membebani saya. Selain harus menyediakan waktu khusus dan biaya yang mahal, energi dan pikiran saya pun banyak terkuras. Tentu saja itu amat memengaruhi psikologis saya," jelasnya sembari menunjukkan perutnya.

Sejak itulah Kris memutuskan berhenti cuci darah dan menggantinya dengan terapi peritoneal dialisis (CAPD), dengan cara memasang alat di dalam rongga perut. Dengan alat tersebut ia tak perlu secara rutin ke rumah sakit untuk cuci darah.

"Saya cukup mengganti cairan 3 jam sekali di rumah. Ini merupakan proses pencucian secara mandiri di rumah," jelasnya.

Sejak menderita gagal ginjal, Kris juga membatasi minum air putih. Paling banyak hanya satu liter dalam sehari. Bahkan pernah pula lelaki kelahiran 17 Maret 1938, Magelang, Jawa Tengah ini hanya minum beberapa tetes saja.

"Jika terlalu banyak, paru-paru saya bisa penuh air. Fungsi ginjal yang hanya 30 persen membuat saya tidak boleh minum banyak," jelasnya tersenyum.

Yang paling parah saat ia mengalami gejala prakoma pada November 2009. Waktu itu Kris mengaku, ingatannya mulai memudar dan tubuhnya pun terkulai lemas di tempat tidur.

Berkat semangat hidupnya yang tinggi membuat Kris mampu bertahan dan berjuang melewati masa-masa kritis tersebut.

Luncurkan Buku Kedua
Dalam kondisi fisik yang tak sehat, Kris masih mampu menulis buku keduanya berjudul Belum Selesai:Kisah 38 Tahun Perjuangan Pendekar Ginjal Soak", pada tahun 2010. Buku setebal 130-an halaman itu sangat bermanfaat dan inspiratif karena menceritakan tentang perjuangan hidupnya melawan penyakitnya itu. 

"Meski buku tersebut mengisahkan tentang penyakit saya, tapi pembaca tetap terhibur karena saya selalu menyelipkan dengan humor-humor segar. Bahasanya pun saya kemas begitu ringan," jelas Kris yang sebelumnya meluncurkan buku pertama bertajuk, Manisnya Ditolak, tahun 2004.

Kris menjelaskan, hasil penjualan buku keduanya itu disumbangkan untuk anak-anak dan pemuda Indonesia yang juga menderita gagal ginjal.

Meski mangalami ujian hidup yang begitu berat tak membuat Kris terus menerus meratapi nasib. Apalagi ia memiliki istri yang begitu setia, mencintainya dan selalu mensuportnya di saat suka dan duka.

"Saya sangat beruntung memiliki istri yang kuat, tegar dan sabar. Ia pun sangat bijak mengelola uang dan mau hidup apa adanya. Kalau tidak, mungkin sekarang saya sudah jatuh miskin karena biaya pengobatan sangat mahal," jelas suami Maria Nguyen Kim Dung, perempuan asal Vietnam ini.

Kris kini tinggal berdua dengan istri, ditemani pembantu dan tukang kebun di rumahnya yang asri dan sejuk. Kedua anaknya, Invianto Soebiantoro dan Ceasefiarto Soebiantoro, sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Dari kedua anaknya itu Kris memiliki lima cucu yang semakin melengkapi hidupnya.

Hanya saja di usianya yang menginjak 73 tahun, ia tak bisa lagi jalan-jalan mengelilingi halaman rumah atau melakukan olahraga yang disukainya yaitu berenang. 

"Saya sudah tidak kuat lagi. Bahkan untuk ke kamar saya di lantai 2 pun sudah tak sanggup. Makanya sekarang saya tidur dan banyak beraktivitas di kamar tamu yang berada di lantai bawah," jelas lelaki yang dulunya gemar menyantap masakan Padang ini.

Akibat Gaya Hidup Tak Sehat
Kris mengaku gagal ginjal yang dideritanya diduga merupakan akibat dari pola makan dan gaya hidup masa lalunya yang tak sehat.

Bagaiman tidak? Saat masih muda terutama ketika kariernya di panggung hiburan begitu padat, Kris gemar berburu makanan-makanan enak yang notabene tidak sehat seperti masakan padang, daging, jeroan, kacang-kacangan, makanan bersantan, susu, dan cokelat.

Bahkan ketika sudah sakit ginjal pun ia masih berani makan intip goreng (serupa rengginang-red) dan minum kopi atau teh.

"Itu pun makan atau minumnya nyolong-nyolong saat istri saya nggak lihat. Kalau ketahuan pasti dimarahi," ucapnya tertawa sembari mengatakan kalau istri tercintanya itu bersikap seperti "polisi" terhadapnya. Semua itu dilakukan sang istri tentu saja demi kebaikan Kris. "Sayanya saja yang bandel, habis saya juga kan masih ingin merasakan makanan dan minuman favorit saya," ujarnya beralasan.

Akibat gaya hidupnya yang tidak sehat itulah yang membuatnya menderita penyakit ginjal. Ia ingat betul saat berusia 34 tahun, tepatnya tahun 1972, suatu hari perutnya terasa nyeri sekali. Lama-kelamaan rasa sakitnya menjalar ke pinggang dan sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, serta perutnya terasa mual.

"Saya panik sekali waktu itu. Apalagi istri dan anak pertama saya sedang pulang kampung ke Vietnam, jadi saya sendiri di rumah," kenangnya. Esok paginya barulah Kris ke dokter dan ternyata setelah diperiksa ada batu di ginjalnya.

Sayangnya waktu itu Kris tak terlalu serius mengobati penyakitnya lantaran jadwal kegiatan yang sangat padat. Pola makan tak teratur dan diet tanpa konsultasi ke dokter, tanpa disadarinya menyebabkan batu ginjalnya kian parah.

Akibatnya Kris ambruk dan dilarikan ke rumah sakit pada tahun 1977. "Waktu itu saya berpikir, hidup saya akan berakhir. Syukurlah setelah menjalani pengobatan saya kembali sehat," ucapnya seraya menjelaskan, bahwa waktu itu belum ada pengobatan laser untuk menghancurkan batu ginjalnya itu.

Berobat ke Cina Tak Membuahkan Hasil
Sayangnya kesehatannya kembali menurun dengan ditandai tubuh dan wajahnya yang membengkak. Itu terjadi karena fungsi ginjalnya semakin menurun.

Lantaran khawatir kondisinya semakin memburuk akhirnya Kris dan istri memutuskan untuk berobat ke Guang Zhou, Cina, untuk melakukan transplantasi ginjal. Sayangnya setiba di sana bukan jalan keluar yang didapat malah nasib tak menentulah yang dialaminya.

Bagaimana tidak, Kris mengaku, salah satu rumah sakit di Cina yang didatanginya tidak memberikan rekomendasi untuk menjalani transplantasi, tapi di rumah sakit lain malah menyarankan. "Cuma masalahnya tidak ada ginjal yang cocok buat saya," keluhnya.

Karena merasa dipingpong akhirnya Kris dan istri memutuskan pulang ke Indonesia. "Umpama saya memaksakan diri, bukan nggak mungkin nyawa saya jadi taruhannya. Tuhan memang memberi kekuatan kepada saya," ucapnya bijak.

Semangat hidup Kris kian menyala tatkala beberapa bulan lalu ada beberapa anak muda berniat menggelar acara penggalangan dana untuk membantu pengobatannya yang begitu mahal. "Saya terharu sekali dengan niat mulia mereka. Padahal saya tidak mengenal secara pribadi tapi mereka rela membuat acara amal untuk saya," ucapnya bangga.

Malam penggalangan dana bertajuk 1000 MC Untuk Kris Biantoro yang digelar beberapa bulan lalu itu, tak hanya melibatkan para MC ternama tapi juga musisi dan komedian tanah air. "Berapa pun jumlah uang yang terkumpul waktu itu, saya sangat menghargai kerja keras mereka,"  tandas pelantun Juwita Malam ini.

Meski hingga kini kondisi kesehatannya belum membaik, Kris berusaha agar hidupnya bermakna dan menjadi berkah bagi orang lain. "Saya merasa bukan orang suci, makanya saya terus berusaha agar di sisa hidup ini tetap bisa berkarya dengan cara yang sesuai dengan kemampuan saya. Bisa lewat tulisan atau yang lainnya," jelasnya bijak.

Terus berjuang dan bersemangat dalam menjalani hidup Pak Kris. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik. 

Penulis: Ririn Indriani