Ilustrasi ginjal manusia
Cuci darah lewat perut yang dikenal dalam istilah medis dialisis peritoneal (continuous ambulatory peritoneal dialysis) ini, merupakan alternatif terapi pengganti cuci darah yang dapat dilakukan panderita secara mandiri di rumah.

DR. Dr. Suhardjono, SpPD-KGH, KGer dari Divisi Ginjal-Hipertensi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM mengatakan, cuci darah secara mandiri di rumah lewat terapi (continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) memiliki banyak keuntungan seperti, zat racun aktif dikeluarkan tubuh secara lebih maksimal karena dilakukan 24 jam penuh.

Selain itu kadar hemoglobin juga bisa lebih tinggi sehingga meningkatkan kualitas hidup penderita. Manfaat lainnya, menurunkan risiko terkena penyakit hepatitis, dan pasien  dapat melakukan aktivitas seperti biasa karena tidak perlu secara rutin datang ke rumah sakit untuk cuci darah.

CAPD dilakukan mandiri oleh pasien sebanyak 3 - 4 kali per hari dengan cara memasang sebuah kateter di perut. Kateter tersebut berfungsi untuk mengeluarkan cairan dan racun dari dalam tubuh. Waktu yang diperlukan setiap kali menjalani terapi tersebut sekitar 30 menit. Karenanya kunci keberhasilan dari terapi ini adalah kesadaran dan kedisiplinan pasien.

"Terapi ini cenderung sedikit kontradiksinya.Infeksi bisa timbul bila pasien tak mematuhi aturan kebersihan pemasangan," imbuhnya.

Pasien juga tak perlu khawatir dengan terapi ini, karena dokter akan mengajarkan cara-caranya hingga pasien bisa melakukannya sendiri di rumah. Tentu saja tetap dengan bantuan anggota keluarganya.

Terapi CAPD bisa dilakukan pada semua penderita gagal ginjal dengan tingkat kronis yang berbeda-beda. Hanya saja, pasien yang telah menjalani pembedahan di daerah perut dan mengalami gangguan di bagian kulit perut tidak dianjurkan menggunakan terapi ini untuk mencegah terjadinya infeksi.

Sementara itu dr Eric Tapan MHA, pendiri sekaligus pengurus Indonesia Kidney Care Club (IKCC) mengungkapkan, penyakit ginjal muncul kebanyakan akibat masih banyaknya orang yang tidak terlalu aware dengan ginjal.

Kondisi inilah yang menyebabkan penderita baru mengetahui menderita penyakit tersebut setelah dokter memvonis harus cuci darah. Dr Erik menjelaskan, padahal  penyakit ginjal sulit bahkan tidak terdeteksi. "Seseorang yang mengidap penyakit tersebut tiba-tiba akan mengalami gejalanya pada tingkat pertengahan hingga kronis," tulisnya dalam blog.

Padahal fungsi ginjal bagi tubuh amat vital karena organ tersebut bertugas menyaring dan mengeluarkan racun maupun kelebihan mineral dari dalam tubuh melalui urin.

Tak hanya itu, ginjal juga berfungsi mengatur tekanan darah. "Gangguan pada ginjal dapat menyebabkan tekanan darah tinggi," tandasnya.

Fungsi ginjal lainnya dapat mengeluarkan hormon untuk menunjang pembentukan sel darah merah dan menetralkan sifat asam makanan yang dikonsumsi manusia. Bila ginjal terganggu, maka fungsi seluruh organ tubuh akan terganggu.

"Agar ginjal tetap sehat, idealnya minum air putih dua liter per hari, olahraga teratur dan jangan merokok," pesannya.


Penulis:

Sumber: Indonesia Kidney Care Club