Ilustrasi obat-obatan.

Surabaya - Pil Keluarga Berencana khusus bagi pria yang terbuat dari tanaman gandarusa segera diproduksi, dan siap beredar di masyarakat pada pertengahan 2014.

"Penelitiannya sudah selesai, dan penyerahan ekstrak dari Unair kepada Indofarma, itu berarti pil siap edar," kata peneliti gandarusa dari Universitas Airlangga, Dr Bambang Prajogo, di Surabaya, Minggu (18/8).

Wakil Rektor Unair Prof Achmad Syahrani telah menyerahkan ekstrak ethanol terpurifikasi dari Gandarusa kepada Dirut PT Indofarma Elfiano Rizaldi dalam Reuni Alumni Fakultas Farmasi Unair Surabaya (1963-2013) yang dihadiri 720-an alumni, Sabtu (17/8) malam. Penyerahan ekstrak tersebut menandai proses selanjutnya di tangan industri untuk mengurus izin edar dan memproduksinya.

"Pil KB itu nanti sejenis fitofarmaka (obat/herbal yang sudah menjalani uji pada manusia). Kami melakukan penelitian sejak tahun 1985, dan selesai tahun 2013 atau 28 tahun, tapi itu sudah percepatan, karena penelitian di luar negeri bisa sampai 100 tahun," katanya.

Menurut dia, penelitian selama puluhan tahun tersebut membutuhkan pengorbanan dan dana yang besar, karena pihaknya menemukan tanaman itu di pedalaman Papua yang sudah dimanfaatkan masyarakat adat setempat untuk menunda kehamilan. Kemudian pihaknya meneliti.

"Saya melalukan penelitian dalam empat fase. Fase pertama untuk orang biasa yang sifatnya umum, lalu fase kedua penelitian kepada objek, yakni pasangan usia subur (PUS)," katanya.

Untuk fase kedua, penelitian dilakukan pada 120 PUS dengan minum pil KB pria itu selama 108 hari, dan hasilnya 100% berhasil (tidak hamil).

"Fase ketiga penelitian pada 350 PUS dengan minum selama 30 hari, dan hasilnya 99,96 persen berhasil, kemudian saya serahkan kepada industri, tapi saya akan mengembangkan terus hingga fase keempat dengan waktu minum semakin pendek hingga 15 hari minum," katanya.

Apalagi, gandarusa di Papua dimanfaatkan masyarakat adat setempat hanya selang waktu beberapa jam dari mengonsumsi. "Nanti, peredaran akan bekerja sama dengan BKKBN, sedangkan di apotek harus menggunakan resep dokter agar tidak disalahgunakan," katanya.

Secara terpisah, Dirut PT Indofarma Elfiano Rizaldi menegaskan, pil KB pria dari gandarusa tersebut merupakan kerja sama tiga pihak yakni Unair, Indofarma, dan BKKBN.

"Tapi, penyerahan eksrak itu masih contoh, nanti kami akan melakukan uji dalam skala laboratorium industri yang biasanya 3-6 bulan, lalu uji stabilitas," katanya.

Bersamaan dengan uji stabilitas itulah, pihaknya akan mengurus registrasi ke Badan POM. "Biasanya izin edar obat herbal tersebut lebih mudah. Semoga tahun depan sudah bisa dapat izin dan langsung beredar di masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, pil KB pria itu akan berbentuk kapsul, dan peredarannya akan bekerja sama dengan BKKBN yang sudah memiliki jaringan. "Kalau untuk umum tergantung kepada BKKBN, karena KB wanita juga bermula dari BKKBN, lalu beredar umum," katanya.

Penulis: /NAD

Sumber:Antara