Dukungan istri dan anak membuat sutradara Iqbal Rais bersemangat menjalani proses pengobatan.

Jakarta - Mungkin tak banyak yang tahu kalau sutradara muda, Iqbal Rais (29) yang berhasil mencetak film-film laris seperti The Tarix Jabrix, Radio Galau FM, Si Jago Merah, dan Kata Hati, kini tengah berjuang melawat ganasnya kanker darah (leukemia) yang menyerang tubuhnya sejak 2011.

Saat ini, ia masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.

Dikisahkan pria kelahiran Samarinda, 21 Januari 1984 ini, kali pertama mengetahui terdiagnosis leukemia jenis AML M2 (Acute myelogenous leukemia myeloblastic dengan kematangan) pada November 2011.

“Sejak pertengahan tahun 2011, saya mulai sering pucat dan gampang capek. Kepala di daerah belakang juga sering terasa pusing, dan itu mengganggu sekali,” kata Iqbal saat dihubungi Beritasatu.com, Rabu (4/9).

Ia lalu memeriksakan diri ke salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Setelah melalui serangkaian pemeriksaan darah, Iqbal divonis menderita anemia akut. “Saya juga sempat melakukan transfusi darah sampai dua kantong, tapi tidak ada perubahan. Bahkan setelah 1 bulan, badan lemas dan kepala pusing yang sempat dirasakan muncul lagi,” lanjutnya.

Ketika itu, kebetulan orangtua Iqbal berencana untuk melakukan medical check up ke salah satu rumah sakit di Malaysia. Ia lalu berinisiatif untuk ikut memeriksakan kondisi kesehatannya di sana. Namun tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya tentang penyakit leukemia yang ternyata sudah bersarang di tubuhnya.

Betapa kagetnya orangtua Iqbal saat mengetahui putra kesayangannya itu terdiagnosis leukemia. Iqbal sendiri saat itu mengaku tidak terlalu risau. Ia justru drop ketika keluarga dan orang-orang di sekitarnya mulai tahu kondisinya itu dan berempati kepadanya.

“Saya pribadi saat divonis Leukemia tidak terlalu kaget. Kalau keluarga jelas kaget dan sedikit tidak percaya. Justru yang membuat saya drop adalah ketika semua orang tahu dan berempati. Saya jadi merasa kalau leukemia itu sesuatu yang mengerikan,” tutur Iqbal.

Jalani Proses Kemoterapi

Karena minimnya pengetahuan tentang pengobatan leukemia, Iqbal sempat mencoba beberapa pengobatan alternatif. Namun setelah satu bulan, kondisinya justru semakin menurun. Ia pun akhirnya memutuskan kembali ke Malaysia untuk mendapatkan perawatan intensif. “Sebetulnya sempat mau berobat di Jakarta, tapi tidak dapat kamarnya dan tidak ada kepastian dari rumah sakit,” akunya.

Januari 2012, putra pasangan H. Abdul Munsi dan Chairunnisa ini mulai menjalani kemoterapi di Rumah Sakit KPJ Kuching, Malaysia.

“Saat itu efek kemoterapi membuat saya sering mual. Yang paling terasa berat adalah susah makan. Suhu badan juga panas dan harus beberapa kali transfusi darah. Tapi kalau yang sekarang obat anti mualnya lebih bagus dari pada awal saya dikemo, jadi hampir tidak pernah mual lagi,” urai suami dari Mia Andriana ini.

Agustus 2012, dokter menyatakan Iqbal sudah memasuki tahap remisi, artinya pengobatan untuk menghancurkan tanda-tanda leukemia dalam tubuh dan menghilangkan gejalanya dinyatakan berhasil. Iqbal girang bukan main. Setelah delapan bulan menjalani proses kemoterapi yang melelahkan, ia kini bisa menjalani aktivitas seperti sebelum divonis leukemia. Sayangnya, Iqbal lupa kalau penyakit ganasnya itu masih bersarang di tubuhnya dan bisa muncul kembali kapan pun.

“Karena terlalu senang dan bersemangatnya, saya sampai lepas ckntrol. Saya bekerja nonstop merampungkan film terbaru berjudul Kata Hati. Hanya dalam waktu dua bulan setelah memasuki tahap remisi, penyakit saya itu kambuh lagi,” kata sineas muda yang sudah menyutradarai sepuluh film ini.

Yang semakin memperparah keadaan adalah karena selama proses pengobatan, Iqbal juga sering mencuri-curi kesempatan untuk melakukan syuting. Itu ia lakukan ketika pulang ke Indonesia. “Saat itu saya butuh biaya yang lumayan banyak untuk pengobatan, tidak bisa hanya mengandalkan orangtua. Apalagi saya juga harus mencukupi kebutuhan keluarga,” urainya.

Setalah mengalami fase relapse (kambuh), Iqbal akhirnya memutuskan untuk cuti dahulu dari dunia perfilman dan fokus dengan pengobatannya. “Saya juga baru tahu kalau penderita Leukemia itu sangat berbahaya kalau sampai kambuh lagi. Karena pengobatannya akan lebih panjang dan susah,” kata dia.

Oktober 2012 saat menghadiri pernikahan salah seorang kerabat di Kuala Lumpur, Iqbal memang menyempatkan diri untuk check up ke dokter yang biasa menanganinya. Hasil pemeriksaan menunjukkan kadar leukositnya di atas normal. Di situlah ia baru mengetahui kalau penyakitnya itu kambuh lagi.

Ayah dari Ami Kiara Sun Rais ini pun kembali harus menjalani pengobatan di Kuala Lumpur. Namun baru dua bulan di rawat, Iqbal merasa jenuh dan ingin kembali ke Indonesia. Dia lalu dirawat di salah satu rumah sakit di Jakarta selama dua bulan. Di tempat ini, kondisinya juga tidak memperlihatkan kemajuan. Ia dan keluarga akhirnya memutuskan untuk menjalani pengobatan di Surabaya.

“Sekarang ini saya sedang melakukan transplantasi stem cell di RS. Dr Soetomo Surabaya. Pengobatan ini rencananya akan dilakukan selama dua bulan dan dipimpin langsung oleh dokter hematologiku yang sekarang, yaitu Prof Dr Ami Ashariati. Spd Khom. Di Surabaya juga sudah ada tim yang terbentuk,” terang Iqbal.

Ingin Membuat Film Tentang Kanker

Meski kondisi fisiknya masih naik turun, Iqbal tak ingin semangatnya dalam melawan ganasnya kanker darah menjadi surut. Apalagi ada istri dan anaknya yang selalu setia menemani Iqbal selama menjalani proses pengobatan.

“Keluarga, istri, anak dan orang-orang yang sudah mendonorkan darahnya untuk saya, dan orang-orang yang selalu memberikan saya semangat adalah sumber kekuatan saya,” jelasnya.

Iqbal juga berharap bisa segera diberi kesembuhan agar ia bisa kembali berkarya dan membahagiakan keluarganya. “Bila diberi kesembuhan, saya ingin lebih peduli lagi kepada sesama dan banyak meluangkan waktu untuk keluarga. Saya juga ingin membuat film tentang kesehatan, khususnya kanker,” terangnya bersemangat.

Saat ini menurut Iqbal sudah ada dua judul film yang masih tertunda penggarapannya lantaran kondisi kesehatannya yang menurun. Dua film tersebut berjudul Hati Borneo dan Kamu Sekuat Aku, sebuah novel karangan Ashni Sastrosubroto yang juga berkisah tentang Leukemia.

Penulis: Herman