Deddy Corbuzier.

Jakarta - Sejak kali pertama diperkenalkan oleh Deddy Corbuzier, metode Obsessive Corbuzier's Diet (OCD) sudah banyak dipraktikkan oleh masyarakat. Salah satu yang tertarik untuk menerapkannya adalah seorang mahasiswa bernama Yan Winata.

Ia mengaku, kali pertama mengetahui OCD dari situs jejaring sosial Facebook. Yan kemudian mencari tahu lebih banyak lewat twitter Deddy Corbuzier dan juga eBook OCD yang ditulis mentalist ternama Indonesia itu.

“Sebelum melakukan diet OCD, saya tidak pernah melakukan metode diet lainnya. Karena metode diet lain terlihat sangat menyiksa, sedangkan OCD sama sekali tidak,” kata Yan kepada Beritasatu.com di Jakarta, belum lama ini.

Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengaku, mulai menjalankan diet OCD sejak satu bulan lalu. “Pertama kali menjalankan OCD, orangtua sempat bilang kalau tidak sarapan itu tidak baik. Tapi saya buktikan dengan hasilnya, dan ternyata tidak terjadi apa-apa dengan saya. Justru saya merasa semakin sehat,” aku Yan.

Program OCD yang dijalani pria kelahiran 5 April 1992 ini adalah dalam seminggu menjalankan 5 hari dengan jendela makan 4 jam (mulai makan jam 2 siang, dan terakhir makan jam 6 mlm), dan 2 hari puasa 24 jam.

“Saat pertama memulainya, saya memang langsung ke jendela makan 4 jam. Tidak ada rasa pusing atau lemas, tapi memang kalau merasa sangat lapar iya. Mungkin karena baru pertama kali. Tapi setelah 2 hari, tubuh dan perut saya sudah mulai terbiasa,” paparnya. Yan juga mengimbangi OCD dengan olahraga angkat beban tanpa kardio (treadmill).

Yan sendiri mengaku, langsung merasakan manfaatnya saat kali pertama memulai metode ini. “Keesokan harinya saya merasa perut saya menjadi lebih ringan. Dari sini saya tahu kalau metode ini pasti berhasil. Bahkan berat badan saya sekarang dari 73,6 kg menjadi 65,5 kg dan perut buncit saya sudah mengempis,” kata pemilik tinggi badan 173 cm ini.

Ditambahkan Yan, metode diet ini juga tidak membatasinya dalam menyantap makanan yang disukainya. “Selama sebulan menjalankan diet ini, saya sering makan bakmie porsi 1,5 dan berat badan saya masih turun keesokan harinya. Bayangkan, betapa enaknya diet ini? Saya masih bisa makan bakmie dengan porsi 1,5,” ujar dia.

Gagal Jalani OCD
Ada yang berhasil, tapi ada juga yang gagal. Biasanya karena pelaku diet ini tidak mematuhi prinsip-prinsip dasar OCD yang harus dijalani.

“Di minggu pertama mulai OCD, pola puasa saya 20 jam dengan jendela makan 4 jam. Tapi di hari kedua puasa, badan saya langsung keringat dingin dan hampir pingsan,” aku Dewi (31) kepada Beritasatu.com di Depok, Sabtu (7/9).

Karena alasan ini, Dewi mengaku, belum berani mencoba metode diet ini kembali. “Sebelumnya saya memang doyan makan. Pokoknya harus ada makanan yang masuk. Mungkin kaget aja kali ya,” tambahnya.

Lain lagi pengakuan Endang (35). Walau mengaku sudah menjalani metode ini selama dua pekan dengan pola puasa 16 jam, diakui ibu rumah tangga ini kalau berat badannya belum mengalami banyak perubahan. “Terakhir kali nimbang belum ada perubahan, masih tetap 75 kg,” aku dia.

Menurut Deddy Corbuzier, banyak pelaku diet OCD yang gagal. karena mereka tidak paham tentang kalori. “Intinya selama berpuasa, Anda memang masih boleh minum air putih atau teh, yang penting tidak ada asupan kalori apapun selama dalam masa berpuasa. Jadi kalau ada yang bertanya apakah selama puasa boleh minum susu, makan buah atau bubur, jawabannya tentu tidak boleh karena itu kan mengandung kalori,” jelas Deddy.

Yang juga sangat penting adalah jangan menjadi rakus ketika periode jendela makan. “Di waktu jendela makan, Anda memang boleh makan apa saja. Intinya jangan rakus. Makan yang sewajarnya saja seperti biasanya. Jangan mentang-mentang karena waktu makannya dibatasi, Anda lalu makan apa saja, padahal makanan itu tidak biasa Anda makan. Sebab OCD akan gagal apabila Anda menjadi rakus saat buka puasa,” tegas Deddy.

Pola puasa pun sebaiknya dijalani secara bertahap. “Di minggu pertama, coba dulu di jendela makan 8 jam, setelah itu baru 6 jam, 4 jam, lalu diselingi dengan puasa 24 jam. Setelah itu tubuh dengan sendirinya akan beradaptasi,” sarannya.

Bila sudah mencapai berat badan ideal seperti yang diinginkan, Deddy menyarankan, untuk tetap menjalankan diet ini. “Basic dari puasa sebetulnya adalah detoksifikasi, jadi tetap lakukan saja. Jangan takut berat badan akan terus turun karena metabolisme tubuh kita akan mengikuti,” jelasnya.

Bila dilakukan dengan cara yang benar, metode diet ini menurut Deddy, akan memberikan banyak manfaat untuk kesehatan. “Selain memperbaiki semua sistem tubuh kita, dalam waktu seminggu minimal 3 kg berat badan kita akan turun,” tambahnya.

Penulis: Herman