llustrasi HIV/AIDS.

Jakarta - Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nafsiah Mboi mengatakan, angka kematian akibat AIDS di Indonesia menurun dari 3,21 persen pada 2012 menjadi 0,30 persen pada Juni 2013. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya jumlah orang yang melakukan tes HIV untuk mengetahui status HIV-nya.

“Dengan menemukan infeksi ini sedini mungkin, kematian akibat AIDS bisa dicegah dan penderita HIV dapat tetap produktif dengan meminum obat ARV. Karena itu, tahun ini kita betul-betul berupaya meningkatkan jumlah orang yang melakukan tes HIV,” kata Nafsiah Mboi saat ditemui di Jakarta, belum lama ini.

Namun meski angka kematian akibat AIDS menurun, kasus infeksi HIV untuk kelompok usia produktif mengalami peningkatan. Data temuan Global Report UNAIDS 2013 memperkirakan, sebanyak 34 juta orang terinfeksi HIV di dunia dan Indonesia adalah salah satu dari 9 negara yang mengalami peningkatan kasus infeksi HIV untuk usia produktif (15-49 tahun).

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, sejak pertama kali kasus HIV ditemukan pada 1987 hingga Juni 2013, tercatat sebanyak 108.600 orang telah terinfeksi HIV, di mana 43.667 orang di antaranya telah pada tahap AIDS.

Jumlah AIDS tertinggi tercatat pada wiraswasta (5.131), ibu rumah tangga (5.006), karyawan (4.521) dan buruh kasar (1.746).

Secara kumulatif jumlah kasus AIDS berdasarkan provinsi, Papua menempati posisi pertama, diikuti Jawa Timur dan DKI Jakarta. Sementara berdasarkan prevalensi, kasus AIDS per 100 ribu penduduk berdasarkan provinsi, Papua menempati posisi pertama, kemudian Bali dan DKI Jakarta.

Untuk menuju tercapainya zero new HIV infection, zero discrimination, dan zero AIDS related dead, ILO atau International Labour Organization dan UNAIDS bekerja sama dengan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga telah meluncurkan program 'VCT@Work' di Indonesia.

Michiko Miyamoto selaku Wakil Direktur ILO Indonesia menjelaskan, VCT atau Voluntarily Counseling and Tasting HIV adalah layanan tes HIV secara sukarela yang disertai dengan pra-konseling dan pasca-konseling.

Program 'VCT@Work' ini diinisiasi oleh ILO untuk memastikan kemudahan akses layanan tes HIV bagi para pekerja, sehingga siapapun yang terdeteksi HIV positif dapat lebih cepat mengakses pelayanan, dukungan dan pengobatan.

“Program ini akan memfasilitasi akses tes dan perawatan bagi pekerja, keluarga dan lingkungannya,” jelas Michiko.

Penulis: Herman