Dokter dan pasien (Ilustrasi)

Jakarta - Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, prevalensi Orang Dengan Skizofrenia (ODS) di Indonesia mencapai 1,27 permil. Kemudian di antara ODS tersebut terdapat 14,3 persen yang dipasung oleh keluarganya sendiri.

"Pemasungan biasanya dilakukan karena keluarga masih menganggap perubahan perilaku karena skizofrenia bukanlah masalah medis, tetapi spiritual. Kemudian mereka juga kesulitan mencari pengobatan, terutama yang berada di daera-daerah," kata Eka Viora, SpKJ, Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementrian Kesehatan RI pada acara Kampanye Kesadaran Publik Terhadap Skizofrenia "Lighting the Hope for Schizophrenia" di Jakarta, Jumat (14/2).

Kultur atau budaya sosial yang ada di masyarakat yang menyebabkan ODS terlambat ditangani, sehingga sulit mendapatkan kesempatan untuk benar-benar pulih.

Diungkapkan Eka, memang populasi ODS tidak terlalu banyak bila dibandingkan gangguan emosional lain seperti depresi dan cemas, yang prevalensinya 6 persen dari populasi Indonesia.

"Memang populasinya tidak terlalu banyak, tetapi ini adalah gangguan jiwa yang paling memiliki beban ke keluarga, masyarakat dan juga kualitas hidupnya," tuturnya.

Pada saat yang sama Emil Agustino, M. Kes, Deputi menko Kesra Bidang Koordinasi Kesehatan, Kependudukan dan Keluarga Berencana juga menyatakan bahwa skizofrenia akan menjadi prioritas atau agenda penting pemerintah dalam 5 tahun ke depan.

Penulis: Kharina Triananda/FAB