Tunarungu

Perjuangan Dewi Yull Membesarkan 2 Anak Penyandang Tunarungu

Dewi Yull bersama Panji Surya Putra, putra bungsunya yang tunarungu. (Beritasatu.com/Herman)

Oleh: Herman | Senin, 27 Oktober 2014 | 19:05 WIB

Jakarta - Memiliki dua anak yang tuli atau tuna rungu tidak pernah dianggap Dewi Yull sebagai suatu hal yang memberatkan hidupnya. Justru ia merasa kehadiran anak-anaknya, dengan kondisi apa pun, sebagai kado terindah dari Tuhan.

“Saya seorang ibu yang dipercaya Tuhan untuk dititipi dua anak yang tuli. Buat saya, itu suatu anugerah yang harus disyukuri,” ungkap Dewi Yull di Jakarta, baru-baru ini.

Dari pernikahannya dengan Ray Sahetapy, Dewi Yull memiliki tiga orang anak. Pertama (almarhumah) Giska Puteri, seorang pelukis penyandang tunarungu. Lalu anak kedua, Rahma Putra, tumbuh dengan kondisi sehat dan saat ini kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kemudian, Panji Surya Putra, anak bungsunya yang juga tuli. Saat ini, Surya kuliah di Universitas Siswa Bangsa Internasional (SBI) jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.

Penyanyi yang juga pernah membintangi sinetron Losmen ini berkisah, perjuangannya untuk membesarkan kedua anaknya yang tuli memang tidak mudah. Dimulai dengan Giska yang dilahirkannya saat Dewi masih berusia 21 tahun. “Saya ini penyanyi dan sudah menyanyi sejak kecil. Namun, selama dua tahun meninabobokan, ternyata anak saya tidak pernah mendengar suara saya,” kata Dewi memulai cerita.

Sebagai manusia biasa, tentu ada perasaan sedih dan kecewa karena mendapati anak pertamanya tidak bisa mendengar. Namun diakui Dewi, kesedihan itu tidak dibiarkannya berlarut. Ia pun seolah dipaksa dewasa secara mendadak di usia muda agar bisa menerima takdir terbaik yang diberikan Tuhan.

“Awalnya saya bertanya, why me? Kenapa harus saya? Tetapi akhirnya saya tersadar bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji, itu pegangan saya. Kalau kita percaya dan menjaga titipan Tuhan, Dia pasti tidak akan mengabaikan kita,” ucap penyanyi berusia 53 tahun tersebut.

Meski berat, perjuangan Dewi membesarkan Giska perlahan memperlihatkan hasil. Giska tumbuh menjadi pelukis yang produktif dan pandai berkomunikasi secara verbal. “Saya bersyukur dia bisa tumbuh menjadi sosok yang percaya diri. Dia sekolah di tempat yang tepat dan membuatnya nyaman, sampai akhirnya menikah dan menjadi pelukis yang bisa membiayai hidupnya sendiri. Di usia 12 tahun, dia juga sudah bisa pameran tunggal dengan 60 lukisan,” katanya bangga.

Namun diakui Dewi, proses yang harus dilalui memang tidak ringan. Dimulai saat mengajarkan anaknya bicara dan mulai memberikan pendidikan untuk Giska. "Usia empat tahun, Giska sudah mulai dilatih bicara verbal di Yayasan Ibu Nasution, sampe akhirnya dinyatakan boleh ikut sekolah. Usia 7 tahun, dia mulai masuk Sekolah Dasar (SD) umum di dekat rumah. Selama tiga tahun di SD itu, dia ternyata mengalami tekanan yang berat karena tidak bisa berkomunikasi dengan teman-temannya. Akhirnya saya ajak dia keliling mencari SLB yang dia mau, di Tebet, Lenteng Agung, Matraman, di mana saja. Tapi akhirnya dia memilih SLB di Kebun Jeruk. Walau pun jauh dari rumah, buat saya tidak apa-apa. Yang penting dia merasa nyaman dan tidak lagi tertekan," kisahnya.

Proses melatih Giska agar bisa bicara juga tidak mudah. Setiap hari setelah pulang sekolah, Dewi membutuh waktu hingga satu jam hanya untuk sekedar mengajarkan berbicara satu kata saja.

“Usia sembilan tahun, perbendaharaan kata yang dia kuasai sudah cukup banyak. Suatu hari saya mengajak dia berbelanja ke supermarket. Dia lalu meminta satu kaleng Coca-cola yang dipajang di rak. Dia bilang, 'Ola-ola'. Saya katakan, 'Kalau mau, ngomongnya yang betul, harus betul'. Dia marah sampai gelimpangan di lantai dan jadi tontonan orang-orang, tetapi saya tidak peduli. Setelah lima menit, dia akhirnya bisa mengucapkan kata 'Coca-cola' dengan benar. Saya kasih minuman itu, lalu dia terima dan langsung melemparnya ke kepala saya. Sampai-sampai kepala di dekat telinga saya robek,” kenang Dewi.

Lewat pengalamannya ini, Dewi ingin menunjukkan, yang terlihat orang dari sosok Giska bukanlah sesuatu yang didapat secara instan. Butuh perjuangan yang tidak boleh mengenal kata lelah. “Yang perlu ‘diobati’ lebih dahulu sebetulnya orangtuanya dan lingkungannya, bagaimana membuat mereka tetap bersemangat dan tak kenal lelah membekali anak-anaknya yang tuli agar bisa mandiri,” ucap Dewi.

Setelah kepergian Giska di usia 28 tahun, fokus utama Dewi kini tertuju pada Rahma dan Surya. Khusus untuk Surya yang juga tuli, karena sudah memiliki pengalaman dalam membesarkan Giska, Dewi mengaku tidak menemui banyak kendala.

“Membesarkan Surya memang lebih mudah, karena ada pengalaman sebelumnya. Namun Surya kadang suka overconfidence, saya suka kewalahan,” aku Dewi.

Seperti halnya Giska, Surya juga akhirnya tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. Menginjak SMA, anaknya itu mulai aktif menjadi aktivis yang memperjuangkan hak-hak kaum tuli, salah satunya memperjuangkan agar Bisindo (Bahasa Isyarat Indonesia) diakui pemerintah sebagai bahasa resmi tuna rungu Indonesia. Bahkan, Surya juga aktif menjadi pengajar Bisindo di Fakultas Ilmu budaya Universitas Indonesia.

Melalui kedua anaknya yang tuli itulah, Dewi mengaku dapat pelajaran berharga tentang kehidupan. “Anak-anak ini bagi saya adalah guru hidup saya, mereka mengajarkan tentang penerimaan, mereka mengajarkan tentang pembebasan dari tekanan sosial. Karena saya bisa menyadari keluarga yang diberikan anak seperti ini (tuli) akan tertekan secara sosial. Mitos kalau ini akibat kutukan, keturunan, atau kesalahan orangtua juga saya pangkas habis saat Giska lahir dengan ketidaksempurnaan. Bahwa, ada tugas besar yang Tuhan berikan untuk saya. Karena ternyata bila kita memberikan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang tepat, mereka juga bisa tumbuh menjadi anak yang membanggakan,” tutur Dewi.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT