Ilustrasi perempuan dan alkohol
Sembilan persen di antaranya adalah kalangan muda.
 
Kontroversi pernyataan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Gamawan Fauzi, seputar rencana revisi peraturan pembatasan atau pelarangan peredaran minuman beralkohol (minuman keras) terus mencuat sejak minggu lalu.

Pemerintah melalui keputusan presiden (Keppres) nomor 3 tahun 1997, mengatur tiga golongan minuman keras (miras), yakni golongan A dengan kandungan alkohol 0-5 persen, B dengan alkohol 5-20 persen, dan C dengan kandungan alkohol 20-55 persen.

Untuk minuman yang mengandung alkohol 0-5 persen peredarannya bebas di masyarakat. Namun di sisi lain ada beberapa daerah yang melalui peraturan daerah (Perda) melarang peredaran minuman beralkohol walau masuk golongan A.

Kesenjangan antara Kepres dan Perda inilah yang menjadi sumber masalah. Sudah ada organisasi masyarakat (ormas) yang menyatakan akan mengajukan uji Kepres No 3 1997 ini ke Mahkamah Konstitusi.

Menanggapi masalah tersebut Dr dr H Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, dari Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo berpendapat, apapun hasilnya miras dalam praktik sehari-hari di masyarakat lebih banyak keburukan daripada kebaikannya.

Menurut catatan World Health Organization (WHO) pada tahun 2011, tercatat 2,5 juta penduduk dunia meninggal akibat alkohol, dan 9 persen kematian tersebut terjadi pada orang muda (15-29 tahun).
 
Ari menilai, ada beberapa alasan mengapa orang minum minuman beralkohol. Pertama, untuk menjaga hubungan baik dengan relasi, baik untuk acara jamuan makan malam atau pesta.

Kedua, menghangatkan tubuh apalagi di musim hujan seperti saat ini. Dan ketiga bisa membuat tubuh lebih relaks sehingga bisa melupakan beban berat (masalah hidup) yang sedang dihadapi seseorang.

"Buat sebagian orang yang memang merasa rendah diri, dengan minum miras dirinya akan merasa  lebih berharga dan sedikit lebih 'berani'," jelas dokter yang juga menjadi dosen di FKUI ini.

Selain itu kebanyakan anak muda, lanjut Ari, menjadikan minuman keras sebagai pelarian karena frustasi menghadapi kehidupan sehari-hari seperti masalah pendidikan, masalah keluarga (broken home), pekerjaan dan masalah sosial lain dalam kehidupan bermasyarakat.

"Minum minuman beralkohol memang bisa melupakan beban hidup tapi hanya sesaat dan sifatnya juga semu belaka," katanya lagi.

Mengingat begitu banyak dampak buruk minuman beralkohol bagi kesehatan, Ari berpendapat,  peredaran minuman tersebut sebaiknya memang harus dibatasi atau bahkan dilarang melalui sebuah peraturan.

Penulis: