Sosialisas Asuhan Paliatif kepada Masyarakat Masih Banyak Hambatan i

Kiri ke kanan: Diah Saminarsih (Staff Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs Kementrian Kesehatan RI), Lynna Chandra (Pendiri Yayasan Rumah Rachel) dan Mardi Wu (CEO Nutrifood)

Oleh: Kharina Triananda / PCN | Selasa, 13 Oktober 2015 | 23:46 WIB

Jakarta - Asuhan paliatif merupakan perawatan secara holistik yang tidak hanya membantu mengurangi nyeri dan gejala pasien dengan penyakit kronis, tetapi juga menguatkan pasien dan keluarga secara psikososial dan juga spiritual.

Adapun Yayasan Rumah Rachel adalah salah satu organisasi nonprofit yang sudah sembilan tahun fokus terhadap asuhan paliatif berbasis rumah. Yayasan ini memberikan asuhan paliatif terhadap anak-anak (0-18 tahun) dengan kanker dan HIV. Program-program mereka termasuk penyediaan asuhan paliatif rawat rumah, yang mencakup penanganan nyeri dan gejala, dukungan psikososial dan spiritual bagi pasien dan keluarga, serta memfasilitasi asuhan paliatif bagi tenaga kesehatan rumah sakit dan Puskesmas, mahasiswa keperawatan, hingga relawan komunitas.

"Namun, saat awal kita berdiri hingga sekarang masih ada beberapa hambatan yang kita temui dalam mensosialisasikan asuhan paliatif ini. Seperti, kekurangan pemahaman di masyarakat tentang asuhan paliatif. Lalu, hambatan sosial budaya di mana banyak orang yang tidak mau atau tidak berani membicarakan nyeri hati (kesedihan) dan fisik atau tentang kematian," ungkap pendiri Yayasan Rumah Rachel, Lynna Chandra pada jumpa pers "Memperingati World Hospice Day dan Palliative Care Day" oleh Yayasan Rumah Rachel dan Tropicana Slim di Jakarta, Selasa (13/10).

Kemudian, tambah Lynna, hambatan yang lain adalah kurangnya ketrampilan dan kapasitas tenaga kesehatan. Oleh karena itu, Yayasan Rumah Rachel memiliki program pelatihan kepada tenaga kesehatan.

"Selain itu, regulasi yang terlalu ketat terkait obat nyeri opioid juga menjadi hambatan. Tapi untungnya sekarang ada peraturan Menteri Kesehatan terkait asuhan paliatif ini. Tapi, tetap distribusi obat kadang masih kurang merata," ungkapnya.

Terkait distribusi obat, Staf Khusus Menteri Bidang Peningkatan Kemitraan dan SDGs Kementrian Kesehatan, Diah Saminarsih, membenarkan Lynna. Menurutnya, kebijakan terkait asuhan paliatif yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor: 812/Menkes/SK/VII/2007, membuat asuhan paliatif ini terintegrasi dengan layanan kesehatan dan juga anggaran.

"Tapi memang distribusi obat-obatan kadang terhambat karena masalah infrastruktur. Menjadi kewajiban Pemerintah Daerah (Pemda) juga untuk menyediakan obat-obatan, walaupun tetap ada porsi dari (pemerintah) pusat juga," terang Diah.

Walaupun menghadapi beberapa hambatan, namun, Yayasan Rumah Rachel hingga saat ini telah berhasil menyentuh 2.088 pasien dan keluarga, dan melatih 312 mahasiswa keperawatan, 1619 tenaga kesehatan, dan 1.817 anggota komunitas.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT