Salah satu pendaftaran peserta KB yang diselenggarakan oleh BKKBN.
Meski mengakui baru 30 persen peserta Jampersal yang akhirnya ber-KB, Menkes menilai itu sudah merupakan kemajuan yang bagus.

Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih menyatakan bahwa program persalinan gratis yang dikenal dengan nama Jampersal, telah membantu meningkatkan jumlah peserta Keluarga Berencana (KB).

"Memang, baru 30 persen dari peserta Jampersal yang akhirnya ikut KB, tapi untuk tahap awal, jumlah ini sudah cukup bagus," ujar Menkes di Jakarta, Rabu (29/2).

Endang mengakui bahwa banyak bidan belum sepenuhnya memahami metode kontrasepsi pasca persalinan (Post-natal Placental Insertion), sehingga mereka tidak berani melakukan tindakan tersebut terhadap ibu yang baru saja melahirkan.

Menurut Endang, saat ini Kemenkes sedang melakukan kerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk melaksanakan pelatihan bagi bidan, sehingga bisa memahami metode Post-natal Placental Insertion dengan lebih baik. "Kerja sama ini juga bertujuan supaya lebih banyak lagi pasangan yang mau ikut program KB," ujarnya.

Saat diluncurkan di tahun 2011, program Jampersal mendapat dukungan sekaligus kritikan. Beberapa pihak berpendapat bahwa persalinan gratis hanya akan mendorong ledakan jumlah penduduk.

Namun, Endang berargumen bahwa peserta Jampersal akan dibiayai persalinannya, bahkan mendapat perawat sebelum dan sesudah persalinan, dengan syarat mau bergabung dengan program KB, sehingga tidak akan menyumbang meledaknya populasi penduduk Indonesia. Saat itu Endang mengatakan, Kemenkes tidak dapat mewajibkan peserta Jampersal untuk ikut ber-KB, sehingga metode yang akan digunakan adalah metode persuasif.

Penulis: