Deteksi Kelainan Saluran Cerna dengan Endoskopi

Ilustrasi dokter. (Istimewa)

Oleh: Indah Handayani / YUD | Sabtu, 17 Desember 2016 | 12:40 WIB

Jakarta - Seiring dengan berkembangnya ilmu dan teknologi kedokteran yang pesat menghasilkan cara diagnostik yang canggih, mudah, dan tepat. Salah satunya adalah endoskopi yang merupakan suatu alat digunakan untuk memeriksa saluran cerna secara visual mendeteksi adanya berbagai kelainan dan penyakit lainnya.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi Siloam Hospitals TB Simatupang dr Epistel P Simatupang SpPD KGEH FINASIM FPCP mengatakan sebaiknya mereka yang telah memasuki usia 50 tahun melakukan endoskopi pada saluran cerna. Terlebih, bagi mereka yang mengalami muntah-muntah, BAB berdarah, riwayat keluarga, Tujuannya adalah untuk mendeteksi adanya kelainan dan masalah sehingga dapat segera tertangani dengan baik. Serta, terhindar dari kanker kolon yang menjadi penyebab utama kematian di dunia.

Dr Epistel menambahkan berdasarkan diameter dan fungsinya saluran cerna dibagi menjadi dua bagian besar. Dari kerongkongan sampai usus 12 jari dinamakan saluran cerna bagian atas. Sedangkan bagian akhir dari usus kecil hingga anus disebut sengan saluran cerna bagian bawah. Dengan demikian, pengamatan menggunakan endoskopi pun dibagi menjadi dua. Apabila saluran cerna bagian atas dikenal dengan esofago gastro duodenoskopi (EGD). “Sementara saluran cerna bagian bawah disebut dengan kolonoskopi," ungkap dr Epistel di sela media gathering Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta, Jumat (16/12).

Lebih lanjut Dr Epistel menjelaskan EGD merupakan pemeriksaan di dalam saluran kerongkongan, lambung hingga usus 12 jari. Pemeriksaan ini untuk mendeteksi adanya kelainan di tiga organ tersebut. Namuan, paling sering ditemukan adalah kelainan pada lambung dan penyakit tersering ditemuka adalah kanker. Selain itu, kelainan yang sering ditemukan adalah erosi pada saluran cerna. Hal ini terjadi karena kebiasaan dari seseorang yag menelan obat tanpa meminum air putih. Hal itu karena ada beberapa jenis obat yang tidak bisa ke lambung tanpa bantuan air putih.

“Biasanya, erosi tersebut ditandai dengan sulit dan sakit menelan. Hal ini bisa dideteksi dengan menggunakan EGD,” ujar dr Espitel.

Selain untuk mendeteksi, lanjut dia, endoskopi juga bisa untuk digunakan dalam penanganan. Salah satunya adaah masalah tukak lambung yang bisa dihentikan dengan endoskopi. Ada pula penanganan perdarahan pada saluran cerna. Hal ini membuat penanganan menjadi lebih cepat dan tepat. Sebab, biasanya penanganan masalah tersebt dilakukan melalui pembedahan. Tidak hanya itu, penanganan obesitas juga bisa meggunakan endoskopi.

Caranya adalah dengan memasukan balon ke lambung lewat endoskopi tersebut. Sehingga mereka yang dimasukan balon ini akan merasa kenyang walau makan sedikit. Pada akhirnya, mereka akan mengalami penurunan berat badan dalam hitungan bulan.

“Di Siloam Hospitals TB Simatupang, tindakan ini berkisar antara Rp 3-4 juta. Angka ini sangat terjangkau dan jauh dari standar di luar negeri terutama Singapura,” jelas dia.

Sementara itu, dr Epistel menambahkan Kolonoskopi adalah suatu tindakan untuk melihat keadaan saluran cerna bagian bawah (SCBB) mulai dari anus hingga bagian akhir usus kecil dengan menggunakan kolonoskopi. Dibanding EGD, tehnik kolonoskopi relatif lebih sulit sehingga untuk menguasai tehnik ini dibutuhkan keterampilan dan pengalaman yang cukup.

Kolonoskopi ini menjadi hal wajib bagi warga Jepang, terutama pada mereka yang berusia diatas 50 tahun. Sebab, di negara tersebut angka kejadian kanker kolon sangatlah tinggi. Namun, bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga kanker kolon sebaiknya melakukan pemeriksaan kolonoskopi setiap lima tahun sekali.

“Seperti halnya EGD, kolonoskopi juga bisa melakukan tindakan. Terutama pabila terjadinya polip pada saluran cerna. Hal itu harus segara dihilangkan mengingat polip merupakan cikal bakal terjadinya kanker kolon. Di Siloam Hospitals TB Simatupang, kolonoskopi biasanya memakan biaya Rp 5-6 juta,” tutup dr Epistel.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT