Cegah Diabetes, 2.000 Remaja Komitmen Membatasi Gula dan Lemak

2000 remaja kampanye membatasi GGL (gula, garam, lemak) di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (20/12) (Investor Daily)

Oleh: Mardiana Makmun / MAR | Selasa, 20 Desember 2016 | 14:50 WIB


Jakarta - Sebanyak 2.000 remaja SMP dan SMU berikrar membatasi mengonsumsi gula, garam, dan lemak atau disingkat GGL. Ikrar diucapkan di Jakarta, Selasa (20/12) demi tercapainya hidup sehat dan sejahhtera di masa depan.

“Ada 87 anak di Indonesia dan kami ingin anak-anak ini menjadi pelopor untuk hidup sehat dengan membatasi gula, garam, dan lemak. Ini harus dilakukan sejak dini kalau tidak mau anak-anak kita nantinya mengidap obesitas, diabetes melitus, dan penyakit jantung koroner yang semakin banyak diderita dalam usia muda,” kata Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Lenny N Rosalin saat membuka Generasi ZI (Genzi) Indonesia Bicara bertema ‘Batasi Konsumsi GGL’ di Gedung Smesco, Jakarta, Selasa (20/12).

Lenny mengungkapkan, kecenderungan anak mengonsumsi GGL sangat tinggi. “Paling banyak GGL didapat dari paket junk food. Makanannya berkadar tinggi garam dan lemak, belum lagi minuman bersoda dengan kadar gula tinggi. Ditambah lagi anak-anak sekarang sedikit bergerak karena lebih banyak memainkan gadget, ini bikin anak-anak kita kelebihan kalori sehingga menjadi obesitas, dan jangka panjang berisiko menderita diabetes dan jantung koronoer,” ujar Lenny prihatin.

Lenny berharap, semua pihak mendukung kampanye membatasi GGL. Terkait program menuju Kota Ramah Anak, Lenny berharap, orang tua, pihak sekolah, masyarakat, dan industri juga memiliki komitmen yang sama ikut mendukung anak membatasi konsumsi GGL. “Di sekolah, kantin diharapkan menyediakan makanan sehat. Begitu juga di rumah, orang tua mengawasi anak dan menyediakan makanan sehat rendah GGL namun tinggi serat,” harapLenny.

Selain membatasi GGL, kampanye juga menyerukan penurunan rokok pada anak, perkawinan pada anak, dan tertib lalu lintas. Menurut data Departemen Kesehatan yang dirilis pada 2016, prevalensi remaja usia 16-18 tahun yang merokok meningkat tiga kali lipat dari 7,1% di tahun 1995 menjadi 20,5% di tahun 2014. “Dan yang mengejutkan usia perokok semakin muda. Perokok pemula usia 10-14 tahun meningkat 100% dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun, yaitu dari 8,9% di 1995 menjadi 18% pada 2013,” ungkap Indra Jamal, Asdep Pemenuhan Hak Anak Atas Kesehatan dan Kesejahteraan, Deputi Tumbuh Kembang Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Indra juga mengungkapkan, perkawinan anak masih menjadi masalah di Indonesia. “Jumlah anak yang melakukan perkawinan masih tinggi di Indonesia, bahkan Indonesia menempati urutan ke-2 di Asean. Saya harap edukasi ini dapat menurunkan angka perkawinan anak,” tandas Indra.






Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT