Cegah Autisme Lewat Neurosains

Ilustrasi autisme. (ist)

Oleh: Indah Handayani / YUD | Kamis, 29 Desember 2016 | 20:53 WIB

Jakarta - Angka penderita autisme atau gangguan spektrum austistik merupakan suatu gangguan perkembangan semakin bertambah belakangan ini. Mengapa demikian?

President Medical Director BioBlast Diacovery Prof Dr Taruna Ikrar MDM MPharm PhD menjelaskan autisme semakin populer karena angka prevalensinya yang tinggi. Penyebab terjadinya autisme bukanlah hanya satu hal saja, melainkan bermacam-macam sehingga memiliki spektrum yang luasn mulai dari keracunan zat mineral yang merusak saraf, mutasi genetik, dan genetis.

Dari tren tersebut, lanjut dia, terlihat hal itu terjadi karena banyaknya orang menunda menikah hingga usia 40 tahun. Pada usia tersebut pembelahan sel saat kehamilan semakin pendek. Sehingga rentan terjadinya mutasi. "Untuk itu, sebaiknya kehamilan terjadi pada usia 20 tahunan hingga dibawah usia 40 tahun," ungkap Prof Taruna di sela kopi darat komunitas Neuronesia di Jakarta, Kamis (29/12).

Selain itu, Prof Taruna menjelaskan penelitian genetik yang dilakukan akhirnya menemukan Gene EphB4 dan PTEN. Keduanya merupakan gen yang bertanggung jawab atas munculnya autisme. Gen EphB4 dan PTEN berpengaruh terhadap sistem saraf pengjambatan yang disebut fast-spiling parvalbumin. Itu mengekspresikan interneuron (sel PV), yabg selanjutnya sel penghambat tersebut berada di sekitat sel-sel perangsabg di salam orak anak.

"Artinya, gangguan pada sel-sel neuron tersebut oleh kerusakan dua gen di atas, maka menyebabkan kegagalan sel-sel saraf pengontrol signal listrik di otak, dengan akibat seperti terjadinya gangguan autisme," kata Prof Taruna.

Lebih lanjut Prof Taruna mengatakan ia bersama dengan tim kemudian melakukan modifikasi dan percobaan di laboratorium. Mereka menggunakan teknik penelitian LSPS (Laser Photo Stimulation), optogenetic serta dan electrophysiology pada otak. "Ternyata, gerakan dan stimulasi tersebut dapat dikontrol menjadi normal, hingga kembali menjadi normal," jelas dia.

Oleh karena itu, Prof Taruna menyimpulkan, autisme dapat diobati dan dicegah sejak dini. Caranya dengan mencegah terjadinya kerusakan pada dua gen sel-sel saraf penghambat tersebut. Pencegahan penanggulangan autisme yang tepat dapat dimulai dari tahap sebelum anak lahir (pre-natal). Ibu harus mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi seimbang.

Sementara itu, Co-founder Neuronesia dr Amir Zuhdi mengatakan dengan informasi tetsebut diharapkan dapat memahami dalam mencegah autisme dan penyakit otak lainnya serta agar dapat meningkatkan kualitas neuron otak anak, misal melaui gizi atau nutrisi, pengalaman anak, stimulan emosi, rangsangan rasio, latihan fisik seperti berenang, memanah, dan berkuda.

"Otak sehat, bukanlah tidak sekadar otak yang tidak sakit, tetapi otak sehat adalah normal yang cakap berpikir benar dan nurani cerah. Otak sehat adalah bagian dari sistem otak yang mengasah potensi hebat," paparnya.

 




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT