Masyarakat Bisa Bantu Peserta JKN-KIS lewat Baznas

Kerja sama BPJS Kesehatan dengan Baznas. (SP/Dina Manafe)

Oleh: Dina Manafe / AB | Jumat, 21 April 2017 | 10:11 WIB

Jakarta - Indonesia tidak hanya berpenduduk terbesar keempat dunia, tetapi juga dihuni oleh orang-orang yang memiliki jiwa kedermawanan tinggi. Ini terbukti dana amal ibadah melaui zakat, infak, dan sedekah masyarakat Indonesia yang berhasil dihimpun dan dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mencapai Rp 7 triliun setiap tahun. Jumlah itu masih jauh dari potensi yang diperkirakan mencapai Rp217 triliun. Dana ini belum terhimpun semua karena kurang sosialisasi.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosal (BPJS) Kesehatan bekerja sama Bazanas memanfaatkan potensi tersebut untuk membantu peserta program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang menunggak iuran karena tidak mampu dan tidak ditanggung oleh pemerintah. Masyarakat bisa membantu peserta JKN-KIS melalui program crowdfunding (urun dana) berbasis donasi lewat Baznas yang berperan sebagai pengumpul dana.

Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan, Kemal Imam Santosa mengatakan dana itu akan digunakan untuk membiayai peserta yang memiliki masalah kemampuan membayar . Berdasarkan hasil penelitian Pusat Kajian UGM 2016, kemampuan membayar peserta JKN-KIS khususnya kelas III mandiri hanya sebesar Rp 16.571 per orang per bulan. Ini menunjukkan kemampuan membayar masyarakat sangat jauh dari nilai keekonomian iuran program JKN-KIS yang ideal.

“Kami berharap melalui program urun dana ini dapat menggerakkan semangat gotong royong masyarakat untuk membantu peserta JKN-KIS yang kemampuan membayar iurannya rendah dan tidak ditanggung oleh pemerintah,” kata Kemal di Jakarta, Kamis (20/4).

Kemal mengatakan tujuan program urun dana ini bagi masyarakat sendiri adalah membangun kesadaran, keinginan dan juga kebanggaan masyarakat untuk mendaftar sekaligus berpartisipasi dalam program JKN-KIS. Program ini juga sebagai strategi untuk mengakomodir partisipasi masyarakat dalam mempercepat perekrutan sektor informal dan menjaga kontinuitas pembayaran iuran mereka.

Media yang digunakan untuk menjalankan program ini adalah web BPJS Kesehatan www.bpjs-kesehatan.go.id dan web Baznas, yakni www.pusat.baznas.go.id. Media tersebut merupakan sarana informasi mengenai tata cara mengikuti program crowdfunding.

Peserta penerima manfaat program crowdfunding adalah peserta program JKN-KIS tergolong sebagai mustahik dengan manfaat di kelas III dan yang menunggak selama minimal tiga bulan. Besaran iuran peserta yang akan dibayarkan melalui program ini sebesar Rp 25.000 per orang per bulan. Jumlah pembayaran iuran yang ditanggung oleh Baznas kepada BPJS Kesehatan adalah besaran tunggakan iuran peserta dan besaran iuran peserta dikali jumlah peserta dikali 12 bulan.

Kepala Grup Keuangan BPJS Kesehatan, Heru Chandra mengatakan lebih dari 30 persen atau sekitar 3 juta peserta mandiri yang menunggak membayar iuran. Ketidakdisiplinan membayar iuran ini bisa jadi karena rendahnya kesadaran atau keinginan membayar, atau tidak mampu. Baznas bertugas melakukan verifikasi untuk menentukan peserta layak atau tidak menerima bantuan ini.

Direktur Koordinasi Pengumpulan, Komunikasi dan Informasi Zakat Nasional Baznas, Arifin Purwakananta mengatakan nilai tunggakan dari peserta kelas III mencapai Rp 700 miliar. Bila hanya melunasi 10 persen saja, maka ada potensi dana Rp 70 miliar yang masuk ke BPJS Kesehatan. Baznas sendiri menargetkan pada tahap awal akan membantu Rp 15 miliar, dan khusus tahun ini Rp 7 miliar.

“Target awal ini untuk melihat respons masyarakat. Kalau responsnya baik dan berhasil, maka kami akan lanjutkan dengan target lebih tinggi,” kata Arifin.

Menurut Arifin, masih banyak dana amal masyarakat yang belum terkumpul karena kurang sosialisasi. Ke depan, BPJS Kesehatan dan Baznas juga bekerja sama untuk membantu mendaftarkan masyarakat miskin yang belum terdaftar sebagai peserta JKN-KIS.

Sebelumnya, Baznas melalui berbagai program penyaluran zakat telah membantu pasien BPJS yang menunggak iuran. Misalnya, Heroe Wibowo Stefanus yang tinggal di Menteng, Jakarta Pusat. Heroe adalah kepala keluarga yang mencari nafkah untuk istri dan empat anak yang masih sekolah. Ia seorang karyawan kontrak di sebuah perusahaan kontraktor. Pendapatannya sebulan Rp 3,4 juta dengan besar pengeluaran Rp 2,973 juta.

Istri Heroe jatuh sakit dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Namun biaya pengobatan istrinya tidak dapat diproses lantaran belum membayar iuran JKN. Tunggakan mencapai Rp 3, 649. juta yang harus dilunasi terlebih dahulu dirasa sangat berat bagi Heroe. Keluarga itu akhirnya dibantu Baznas yang membayar tunggakan tersebut. 




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT