RSUD Tarakan, Jakarta Pusat.
Pusat pelayanan tersebut dibangun karena angka kematian akibat jantung dan stroke cukup tinggi di Jakarta.

Kini, warga Jakarta bisa bernafas lega, karena bila membutuhkan pelayanan untuk penyakit kritis, tidak perlu lagi ke rumah sakit swasta.

Di Jakarta sudah dibangun critical care center (3C) atau Pusat Pelayanan Kritis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan, Jakarta Pusat. Meski milik daerah, namun pelayanannya menggunakan standar internasional.

Gedung Pusat Pelayanan Kritis ini telah dibangun selama 7 bulan pada 2011, dan baru diresmikan Gubernur DKI Jakarta pada hari ini, Selasa (24/4).

“Melihat tingginya angka pasien penyakit jantung, stroke dan kasus kegawatdaruratan yang ditangani RSUD Tarakan, makanya kami berbenah diri dengan membangun Pusat Pelayanan Kritis untuk melayani para pasien dengan cepat dan tepat, sehingga keselamatan jiwa pasien terjaga,” kata Direktur Utama RSUD Tarakan, Koesmedi Priharto, usai acara Peresmian Pusat Pelayanan Kritis di RSUD Tarakan, Selasa (24/4).

Jantung dan Stroke
Dia mengatakan latar belakang dibangunnya gedung Pusat Pelayanan Kritis ini, dikarenakan angka kematian akibat jantung dan stroke cukup tinggi terjadi di rumah sakit ini.

Bahkan pasien penyakit jantung cukup tinggi berobat ke RSUD Tarakan, yaitu mencapai 202 kasus per tahun dengan angka kunjungan poliklinik antara 45 hingga 60 pasien per hari. Sama halnya dengan pasien penyakit stroke jauh lebih tinggi mencapai 293 kasus per tahun dengan angka kunjungan poliklinik antara 30-45 pasien per hari.

Begitu juga dengan angka pasien yang mengalami kasus kegawatdaruratan yang ditangani di instalansi gawat darurat rata-rata mencapai 80 hingga 100 per hari.

Pusat Pelayanan Kritis ini, lanjutnya, tetap akan melayani pasien peserta dari Kartu Keluarga Miskin (Gakin), Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) maupun asuransi kesehatan (Askes) dengan pelayanan kesehatan yang prima. “Tidak ada kata penolakan bagi pasien miskin dan tidak mampu. Mereka tetap mendapatkan pelayanan yang sama dengan pasien lainnya,” ujarnya.

Total anggaran yang dialokasikan untuk pembangunan 3C ini sebesar Rp119 miliar dari APBD DKI 2011, di antaranya Rp52 miliar dialokasikan untuk pembangunan gedung Pusat Pelayanan Kritis hingga 8 lantai. Lalu sisanya, Rp67 miliar dipergunakan untuk pembelian peralatan dan perlengkapan medis berstandar internasional.

Pusat Pelayanan Kritis di RSUD Tarakan memiliki kelengkapan unit perawatan intensif (ICU) dengan 8 tempat tidur, unit perawatan intensif jantung (ICCU) dengan 7 tempat tidur, unit perawatan intensif bayi (NICU) sebanyak 7 tempat tidur, unit perawatan intensif anak (PICU) sebanyak 7 tempat tidur, unit perawatan dengan pengawasan (HCU) sebanyak 15 tempat tidur, ruang penanganan gawat darurat (Emergency Room) sebanyak 24 tempat tidur yang dapat ditingkatkan hingga 50 tempat tidur bila terjadi peningkatan jumlah pasien.

Meningkatkan Kualitas Pelayanan
Selain itu, disana juga disiapkan dua kamar operasi yang diletakkan satu lantai dengan ruang ICU dan NICU untuk pelayakan obstetric neonates emergency komprehensif agar respon time terhadap gawaw janin atau ibu melahirkan kurang dari 5 menit.

Pusat Pelayanan Kritis juga dilengkapi dengan Cath Lab atau cateterisasi laboratorium yang diletakkan satu lantai dengan ruang ICCU. Sehingga respon time terhadap pasien sakit jantung bisa dilakukan kurang dari 5 menit.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, menegaskan pembangunan gedung Pusat Pelayanan Kristis RSUD Tarakan merupakan langkah nyata dan bagian komitmen Pemprov DKI untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas pelayanan kesehatan di Jakarta.

“Kesehatan merupakan prioritas tertinggi dalam program pembangunan Jakarta. Karena ini tuntutan warga Jakarta yang menginginkan pelayanan kesehatan yang tinggi. Ini sudah menjadi standar Jakarta. Saya tahu tidak semua provinsi dan kota di Indonesia mempunyai pelayanan selengkap seperti di RSUD Tarakan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dien Emmawati, mengatakan kebutuhan warga Jakarta untuk mencari tempat ICU dan ICCU sangat tinggi, karena itu pembangunan gedung Critical Care Center ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan mendesak. Menurut dia, semua warga Jakarta baik golongan ekonomi lemah maupun mampu bisa memanfaatkan layanan yang disediakan Pemprov DKI Jakarta tersebut.

“Saya jamin, warga miskin yang berobat ke Critical Care Center tidak akan dikenai biaya apapun dengan memanfaatkan kartu gakin. Warga Jakarta berhak mendapat perlayanan kesehatan terbaik dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” tegasnya.

Diungkapkannya, memang hampir seluruh RSUD milik Pemprov DKI Jakarta sudah mempunya layanan kegawatdaruratan, seperti di RSUD Cengkareng, RSUD Pasar Rebo dan RSUD Koja. Namun, belum ada peralatan dan perlengkapan medis yang selengkap dan secanggih di RSUD Tarakan.

Penulis: