Ilustrasi.
Meningkatkan risiko kerusakan hati, jantung, otak dan masih banyak lagi.

Minuman beralkohol dalam jumlah berapapun dapat membahayakan siapa pun, terutama perempuan.

Hasil penelitian terkini menunjukkan, minuman memabukkan itu lebih membahayakan perempuan ketimbang lelaki dengan meningkatnya risiko kesehatan seperti gangguan hati, penyakit jantung dan gangguan kesuburan (infertilitas).

Menurut Monika Jain, seorang hepatologi senior dengan Fortis Hospital, fisiologi perempuan yang sedemikian rupa memungkinkan untuk toksisitas (keracunan dalam tubuh) yang lebih besar meski minum alkohol dalam jumlah sedikit dan dalam waktu yang lebih kecil, dibandingkan dengan laki-laki.

Ini dikarenakan, kata Jain, kemampuan tubuh perempuan dalam memecah alkohol tidak secepat tubuh lelaki. Kondisi inilah yang menyebabkan tingkat alkohol yang lebih besar dalam darah. Akibatnya toksisitas pun menjadi lebih tinggi.

"Enzim, alkohol dehidrogenase (ADH) yang memecah alkohol di perut diproduksi dalam jumlah lebih kecil pada perempuan yang mengakibatkan tindakan lebih lambat dibandingkan lelaki," tambahnya.

Berdasarkan publikasi US National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA), perempuan peminum berat menghadapi risiko kesehatan yang lebih besar daripada lelaki yang juga peminum berat.

Lebih lanjut NIAA menyebutkan, bahwa perempuan pecandu alkohol lebih rentan terhadap kerhati, kerusakan hati, jantung dan otak.

Masalah lain yang bisa muncul pada perempuan pecandu alkohol adalah gangguan menstruasi, infertilitas, dan menopause dini. Bila kecanduan minuman ini sudah terjadi sejak remaja, para ahli mengatakan, dapat dapat mengganggu masa pubertas, pertumbuhan, dan kesehatan tulang.

Tapi yang paling rentan adalah perempuan hamil, karena tak hanya berbahaya bagi kesehatan ibu, tapi juga janinnya.

"Konsumsi alkohol pada ibu hamil dapat menimbulkan masalah seperti Disorder Fetal Alcohol (FAD) dan abruption," kata Shivani Gour, seorang ginekolog dan direktur rumah sakit Isis, IANS.

FAD atau sindrom alkohol pada janin adalah kondisi yang merupakan akibat dari paparan alkohol sebelum kelahiran. Sindrom ini merupakan penyebab yang paling sering dari keterbelakangan mental yang terjadi pada anak.

Gangguan lain yang bisa dialami bayi akibat sindrom tersebut antara lain, kelainan bentuk kerangka dan sistem prgan besar (terutama jantung dan otak), gangguan pertumbuhan, masalah sistem saraf pusat, miskin keterampilan motorik, kematian, masalah belajar, memori, interaksi sosial, gangguan perhatian, gangguan bicara dan atau gangguan pendengaran.

Sedangkan abruption (solusio plasenta) adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal sebelum janin lahir. Ini merupakan bukti, bahwa alkohol yang dikonsumsi oleh ibu hamil berdampak buruk bagi janin, baik selama dalam kandungan maupun setelah dilahirkan. 

Gour menambahkan, kaum perempuan lebih rentan terhadap alkohol karena persentase penambahan lemak serta estrogen yang menunda kerusakan alkohol sehingga toksisitas alkohol pada perempuan menjadi meningkat.

Namun kerusakan bukan hanya fisik. Di luar efek fisiologis, NIAAA melaporkan, perempuan pecandu alkohol juga lebih rentan terhadap kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Bahkan mereka dua kali lebih mungkin meninggal akibat penyebab yang terkait dengan alkohol seperti bunuh diri, kecelakaan, dan penyakit.

Penulis: /SES