Psikolog: Hoax Mengekploitasi Sisi Psikologis Manusia

Psikolog: Hoax Mengekploitasi Sisi Psikologis Manusia
Hoax penerbangan gratis dari Makasar menuju Palu gratis bagi keluarga korban. ( Foto: Dok. Kemkominfo )
Indah Handayani / FER Kamis, 4 Oktober 2018 | 16:39 WIB

Jakarta - Belakangan, hoax marak tersebar di dunia maya. Sayangnya, banyak yang percaya dan banyak menimbukan kesalah pahaman. Lalu bagaimanakah sebenarnya hoax apabila dilihat dari sisi psikologi?

Psikolog Roslina Verauli mengatakan, tidak banyak penelitian terkait hoax dalam psikologi. Dalam wikipedia, hoax dimaksudkan sebagai pemberitaan palsu berupa informasi yang sesungguhnya tidak benar namun dibuat seolah benar adanya. Dalam salah satu artikel, Mark D Griffith menyebutkan, hoax umumnya dilakukan dengan tujuan memperoleh keuntungan finansial dengan pembohongan yang disebarkan. Ada pula mendiskreditkan atau 'menjatuhkan' seseorang atau kelompok tertentu.

"Bahkan, sekedar bersenang-senang karena telah mengelabui bahkan membodohi orang lain, mencari perhatian, hingga memenuhi kepercayaan atau prejudice akan sesuatu di masyarakat," ujar Roslina Verauli dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/10).

Psikolog yang biasa dipanggil Vera ini menambahkan, hoax merupakan eksploitasi terhadap sisi psikologis manusia yang menimbulkan keresahan, kecemasan, hilangnya hormat pada tokoh otoritas, bahkan dapat memicu pertikaian dan perpecahan. Sebab, dalam berita hoax yang masuk kategori pembohongan, emosi manusia dijadikan 'obyek' bahkan 'alat' untuk memicu reaksi tertentu.

"Sehingga, memengaruhi orang lain untuk melakukan hal-hal bodoh karena perasaan ingin membantu, sekedar konformitas, bahkan takut turut terpicu. Tak heran teknik social engineering seperti penggunaan hoax untuk kepentingan tertentu seringkali sukses," jelasnya.

ă…¤Vera menambahkan, namanya pembohongan tetaplah aksi penipuan. Akan banyak pihak yang merasa dirugikan, setidaknya secara emosional karena telah percaya. Bahkan merasa 'terbodohi', terutama bila disebarkan dalam ranah publik semisal sosial media (Sosmed).

"Semoga kita semua cukup bijak dalam membuat dan menyebarkan berita khususnya di ranah publik. Agar tak menimbulkan keresahan, terutama dalam iklim politik seperti saat ini," tutupnya.



Sumber: Investor Daily
CLOSE