Prevalensi Penderita Kanker Meningkat

Prevalensi Penderita Kanker Meningkat
Konsulen Hematologi dan Onkologi Siloam Hospital Kebon Jeruk, dr Jeffrey Tenggara, Sp.PD-KHOM. ( Foto: Beritasatu Photo / Dina Manafe )
Dina Manafe / FER Kamis, 6 Desember 2018 | 19:03 WIB

Jakarta - Kanker merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia. Kelompok peneliti kanker dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, setidaknya ada 18 juta kasus kanker dengan jumlah kematian sebesar 9 juta jiwa di tahun 2018. Di Indonesia, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 memperlihatkan prevalensi kanker meningkat dari 1,4 persen di tahun 2013 menjadi 1,8 persen di 2018.

Riskesdas yang baru-baru ini dipublikasikan menyebutkan, kenaikkan kasus-kasus penyakit tidak menular, termasuk kanker, berhubungan dengan gaya hidup, seperti merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur.

Sejak tahun 2013, prevalensi merokok pada remaja usia 10 tahun hingga 18 tahun terus meningkat, yaitu 7,2 persen menjadi 9,1 persen di 2018. Sementara, proporsi konsumsi minuman beralkohol meningkat dari 3 persen menjadi 3,3 persen. Demikian pula aktivitas fisik kurang juga naik dari 26,1 persen menjadi 33,5 persen. Sementara, 95,5 persen penduduk usia di atas 5 taun kurang konsumsi sayur dan buah.

Konsulen Hematologi dan Onkologi Siloam Hospital Kebon Jeruk, dr Jeffrey Tenggara SpPD-KHOM, mengatakan, tubuh manusia memiliki berbagai organ dengan fungsinya masing-masing yang bekerja secara simultan untuk mempertahankan fungsi hidup. Setiap hari organ seperti paru, jantung, usus, hati dan lainnya terus menerus mengalami pertumbuhan dan kematian sel secara seimbang. Penyakit kanker terjadi apabila keseimbangan ini terganggu dan pertumbuhan sel menjadi jauh lebih besar dibandingkan kematian sel.

"Seseorang yang menderita kanker umumnya menunjukan gejala-gejala tertentu yang biasanya berhubungan dengan organ dari mana sel kanker tersebut berasal. Namun, tidak sedikit juga penderita baru merasakan gejala ketika kanker sudah berada di tahap akhir," kata Jeffrey pada acara media gathering di Siloam Hospital Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (6/12).

Menurut Jeffrey, ketika seseorang sudah terdiagnosa kanker, maka terapi yang tepat harus segera dilakukan baik dalam bentuk operasi, kemoterapi, radiasi, dan lain-lainnya. Operasi bisa dilakukan dalam kasus-kasus tumor jinak, sedangkan kemoterapi dilakukan tanpa maupun dengan pengobatan lainnya.

Jeffrey menjelaskan, kemoterapi digunakan untuk mengobati kanker, mengurangi kemungkinan kambuhnya sel kanker, menghentikan atau menghambat pertumbuhan sel kanker, serta mengurangi gejala atau efek samping dari kanker. Kemoterapi dapat juga digabungkan dengan pengobatan lain, misalnya kemoterapi dapat diberikan untuk memperkecil tumor sebelum tindakan radiasi atau diberikan setelah operasi atau terapi radiasi untuk menghancurkan sel kanker yang masih tersisa.

Adapun bentuk dan cara pemberian kemoterapi beranekaragam, tergantung pada jenis kanker dan tingkat penyebaran, histori pengobatan pasien, dan permasalahan kesehatan lain yang diderita oleh pasien. Mempertimbangkan kompleksitas dan efek samping dari kemoterapi, maka pasien harus berada di bawah pengawasan dokter dan perawat yang berkompeten selama proses kemoterapi dilaksanakan.

"Di Siloam Hospital Kebon Jeruk, ada Unit Kemoterapi, Sistemik, dan One Day Care yang di bawah pengawasan konsulen hematologi dan onkologi. Di unit ini, para tim berkomitmen untuk mendampingi serta membantu pasien dalam setiap proses kemoterapi yang berlangsung," kata Jeffrey.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE