Sejumlah murid Taman Kanak-Kanak  mensimulasikan tata tertib di jalan raya pada sosialisasi lalu llintas di Satuan Lalu Lintas Polrestabes, Makassar, Sulsel, ,sosialisasi yang berikan kepada anak TK ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang lalu lintas sejak usia dini.  FOTO: Dewi Fajriani/ANTARA
Masih ada orang tua yang memaksa anaknya belajar membaca dan menulis.

Anak usia dini hingga usia Taman Kanak-kanak tidak boleh dipaksa belajar membaca, menulis, dan berhitung karena daya pikirnya belum mampu, sehingga cara yang tepat menanganinya adalah dengan bermain sambil belajar.

"Selama ini masih banyak ditemukan orang tua yang memaksa anaknya agar bisa membaca dan menulis, bahkan dipaksa dapat berhitung,  padahal cara seperti belum dapat diterima dengan kemampuan IQ anak," ujar Ketua Yayasan Bima Tadzkiya, Hj Nani Heriyani di Samarinda, Sabtu.
 
Pernyataan itu diungkapkan Nani saat memberikan sambutan dalam pelepasan siswa Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Raudhatul Jannah di Jl. P Suryanata, Gg Hikmah, Samarinda.

Anak usia dini, lanjutnya, daya pikirnya lebih banyak menyerap hal-hal yang bersifat permainan, sehingga jika ada orang tua atau guru Paud yang masih memaksakan anak untuk calistung, maka hal itu jelas tidak sesuai dengan kemampuan dan cara berpikir anak.

Cara yang paling tepat agar anak dapat melakukan calistung adalah melalui permainan yang di dalamnya mengandung unsur bacaan, pengenalan huruf secara perlahan, dan terdapat angka-angka dalam permainan tersebut.

Anak usai dini juga merupakan masa keemasan dalam berpikir, yakni setiap tingkah laku dan setiap karakter yang dengan sengaja maupun tanpa disengaja terlihat dan dirasakan oleh anak, maka contoh dan karakter itu akan tertanam hingga dewasa.

Untuk itu, dalam mendidik anak tidak boleh keras dan memaksa, termasuk anak-anak tidak boleh melihat hal-hal yang memperlihatkan kekerasan. 

Penulis: