Ilustrasi tikus.
Kontak dengan kencing tikus yang bisa masuk melalui luka.

Kasus leptospirosis karena faktor lingkungan yaitu, adanya tikus di rumah yang menjadi faktor dominan.

Demikian hasil survei yang dikemukakan oleh Widoyono, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Jawa Tengah.

Karenanya, masyarakat diminta menghindari kontak dengan tikus, karena kencing binatang mengerat ini berpotensi menyebarkan virus leptospirosis.

Sementara berdasarkan faktor risiko, kasus leptospiroris disebabkan adanya kontak dengan kencing tikus dan masuk melalui luka.

"Permasalahannya, banyak di antara kita tidak menyadari luka kecil tidak sebagai luka," kata Widoyono.

Mereka yang terkena leptospiroris biasanya terkena saat ada kontak dengan tikus, banjir, atau lumpur dan terdapat kencing tikus, ada tikus di rumah, kontak dengan air tergenang, saat sedang membersihkan selokan, memancing, dan mandi di sungai.

"Bisa saja membersihkkan selokan, tetapi tidak mengenakan alat pelindung," katanya.

Gejala leptospirosis di antaranya, penderita akan mengalami demam, badan lemas, sakit kepala, dan nyeri otot terutama otot betis.

"Penyakit ini menyerang hati seperti terkena liver dan ada yang mengira terkena demam berdarah," katanya.

Di Kota Semarang kasus leptospirosis tercatat pada tahun 2007 (delapan kasus), 2008 (178 kasus), 2009 (235 kasus), 2010 (71 kasus), dan 2011 (70 kasus).

Jika dilihat dari persentase angka kematian terdapat kenaikan yakni pada tahun 2007 (13 persen), 2008 (empat persen), 2009 (lima persen), 2010 (delapan persen), 2011 (36 persen), 2012 (44 persen).

Widoyono menambahkan, untuk mencegah terjadinya kasus leptospirosis adalah membiasakan hidup sehat dan menjaga kebersihan dan lingkungan.

"Yang terpenting adalah hindari kontak dengan tikus. Jika ingin membersihkan saluran air harus dengan pengaman. Ciptakan rumah yang tahan tikus, kurangi jalan tikus, dan terus menjaga pola hidup sehat," jelasnya.

Penulis: