Ilustrasi anak makan buah.
Kecukupan zat gizi mikro dibutuhkan dalam perkembangan anak yang optimal.

Bila masalah kekurangan (defisiensi) zat gizi mikro tak diatasi sejak dini, akan ada dampak buruk jangka panjang yang bisa menghambat pertumbuhan anak.

"Kecukupan zat gizi mikro sangat penting terutama untuk ibu hamil dan anak-anak balita," kata guru besar Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Dr Ir Hardinsyah, MS di Jakarta, Selasa (31/7).
 
Ditambahkan Prof Hardinsyah, kekurangan zat gizi mikro (vitamin, mineral, dan sekelumit/trace minerals) seringkali tersembunyi dan tidak disadari. Namun, kata dia, jika tidak segera diatasi bisa membawa dampak buruk dalam jangka panjang.

"Zat gizi mikro memiliki peran untuk membantu pertumbuhan tulang, gigi, sel, termasuk pencernaan dan metabolisme, pembentukan imunitas, tekanan darah dan cairan tubuh, serta pengendalian syaraf," katanya.

Ia menambahkan, kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) lebih sering terjadi terutama untuk kasus kekurangan kalsium, zat besi, zinc, asam folat, B12, C, dan D, pada anak, perempuan, dan ibu hamil.

"Kekurangan ini seringkali diakibatkan karena diet atau pola makan miskin sumber pangan hewani dan buah," katanya.

Menurut dia, tanpa pangan hewani dan sayur maka akan sulit bagi tubuh untuk memenuhi kecukupan asupan zat gizi mikro.

Defisiensi zat gizi mikro, lanjutnya, dalam jangka yang lama dapat memberikan dampak nutrisi yang nantinya akan mempengaruhi peningkatan angka kesakitan dan kematian, serta mempengaruhi gangguan serius pada tumbuh kembang anak.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Standardisasi Konsumsi Makanan, Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak, Kementerian Kesehatan, Titin Hartini, mengatakan, kekurangan zinc pada manusia pertama kali dilaporkan pada 1960-an yang ditengarai bisa menghambat pertumbuhan anak dan remaja.

"Zinc memiliki fungsi katalitik terdiri dari hampir 300 macam enzim yang berperan dalam sintesis dan degradasi karbohidrat, lemak, dan protein serta metabolisme zat gizi mikro lainnya," katanya.

Pihaknya pernah melakukan studi pada 2006 yang menunjukkan prevalensi zinc pada balita di Indonesia sebesar 32 persen sementara asupan zat gizi zinc pada balita 30 persen dari angka kecukupan gizi.

Penulis: /WEB