Melongok Praktik Klinik Tong Fang yang Kontroversial Itu

Melongok Praktik Klinik Tong Fang yang Kontroversial Itu
Inilah tempat praktik Klinik Tong Fang yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta Utara. ( Foto: Anggoro Pramudya/Berita Satu )
Minggu, 12 Agustus 2012 | 09:41 WIB
Klinik yang menggunakan jasa dokter asal China itu mematok harga mahal.

Gencarnya iklan Klinik Tong Fang, sebuah klinik pengobatan tradisional China (traditional chinese medicine/TCM) di dua stasiun televisi swasta -- TV One dan RCTI -- yang menuai teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) belum lama ini, membuat nama klinik ini semakin populer di telinga masyarakat.

Bahkan klinik yang membuka praktik di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Surabaya, Jawa Timur itu, sempat pula menjadi trending topik di sosial media belakangan ini.

Iklan klinik yang mengklaim mampu mengobati berbagai penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga berat dengan ramuan (herbal) China itu memang menimbulkan banyak pertanyaan, dan menuai kontroversi dari berbagai pihak. Mulai dari Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), KPI hingga DPR.

Beranjak dari kondisi itulah Beritasatu.com tergelitik untuk mengetahui lebih dekat, seperti apa praktik Klinik Tong Fang.

Nah, saat menyambangi klinik tersebut, saya bertemu dengan seorang penerima tamu (pasien) yang meminta setiap pasien yang datang untuk mengisi lembar pendaftaran. Untuk mendaftar, setiap pasien dikenakan biaya  sebesar  Rp20.000.

Sementara untuk harga obatnya yang terbilang mahal itu kisarannya bervariasi, tergantung penyakitnya. Bila pasien menderita penyakit seperti paru-paru atau asma misalnya, maka biayanya sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Harga tersebut merupakan harga obat untuk satu paket.

Untuk penyakit yang lebih berat atau parah, maka harga obatnya jauh lebih mahal. Sang penerima pasien yang tak mau disebut namanya itu mengatakan, bahwa biaya obatnya mencapai sekitar Rp10 juta.

Harga tersebut merupakan harga paket yang meliputi empat kali resep obat yang terdiri dari ramuan herbal dan serbuk mirip seperti puyer. Semua obat tradisional tersebut, lanjut dia, dikonsumsi untuk jangka waktu yang sudah dianjurkan oleh sang dokter.

Setelah mendaftar, para pasien kemudian diminta menunggu di ruang tunggu sampai seorang petugas memanggilnya untuk masuk ke ruangan praktik dokter.

Di dalam ruangan tersebut ada seorang dokter yang berkomunikasi dengan bahasa Mandarin. Ia didampingi oleh seorang perempuan yang bertugas sebagai penerjemah untuk memudahkan komunikasi antara pasien dengan dokter asal China tersebut.

"Saya sudah dua kali ke sini dan sekarang kunjungan yang ketiga untuk mengobati penyakit diabetes saya. Perubahan yang saya rasakan memang sedikit. Saya diminta untuk rutin datang ke sini, karena menyembuhkan penyakit itu membutuhkan proses. Atau, bisa saja ini kunjungan saya yang terakhir kali karena hasilnya tidak memuaskan seperti apa yang saya harapkan," jelas lelaki berwajah lesu yang tak mau menyebutkan namanya itu.

Setelah berbincang-bincang dengan salah satu pasien, saya beranjak keluar dari tempat praktik klinik tersebut lalu menemui salah satu warga sekitar.

Seorang warga berjenis kelamin lelaki dengan nama inisial AS mengungkapkan,  bahwa banyak pasien yang berobat  ke Klinik Tong Fang, memang terkadang harus beberapa kali berkonsultasi ke klinik tersebut.

Kunjungan rutin tersebut dilakukan  agar sang dokter mengetahui perkembangan penyakit pasiennya. Namun ada juga pasien yang datang satu atau beberapa kali, tapi setelah itu tidak pernah terlihat lagi.

“Saya sering berbicara dengan pasien-pasien tersebut, entah ia bercerita mengeluhkan penyakit yang dideritanya atau harganya yang sangat mahal dibandingkan dengan pengobatan pada umumnya, " jelasnya yang sudah tinggal di daerah itu selama tiga tahun. Sementara Klinik Tong Fang itu sendiri, kata AS, sudah buka praktik selama empat tahun lebih.


CLOSE