Illustrasi pasung
Pemasungan yang dialami penderita gangguan jiwa terjadi, karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), jumlah total penderita gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai sekitar satu juta lebih (0,46 persen).

Selain itu, Kemenkes juga memperkirakan sebanyak 19 juta jiwa (atau sekitar 11,6 persen dari total penduduk Indonesia) mengalami gangguan mental emosional, termasuk depresi.



"Ada sekitar 18.000-20.000 orang dipasung di Indonesia," kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes dr Diah Setia Utami Sp KJ, MARS di Jakarta, pekan lalu.



Sementara berdasarkan laporan dari pemerintah daerah, tercatat terdapat 2.800 orang yang dipasung. Data tersebut berdasarkan laporan dari 17 provinsi.

Berdasarkan laporan tersebut, pemasungan banyak terjadi di daerah Jawa Tengah, yakni mencapai 968 orang. "Daerah-daerah lainnya belum ada laporan angka pastinya," ungkapnya.


Beranjak dari fakta itulah, ia menilai, program Indonesia Bebas Pasung yang seharusnya dicapai pada 2014 ternyata harus mundur, lantaran cukup sulit menemukan mereka yang dipasung.

"Kita terus melakukan evaluasi di seluruh provinsi di Indonesia. Mungkin 2019-2020 kita baru akan menyatakan Indonesia benar-benar bebas dari pemasungan," imbuhnya.



Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit gangguan jiwa dan masih kuatnya stigma gangguan jiwa yang dinilai memalukan, tambah dia, membuat kondisi penderita makin parah. Padahal penyakit tersebut bisa diobati dan pulih.

"Ini menjadi tugas kami agar terjadi destigmatisasi bagi mereka yang mengalami gangguan jiwa. Memang penanganan gangguan kejiwaan di Indonesia masih banyak yang kuratif, sedangkan preventif masih kurang," tutupnya.

Penulis: