Ilustrasi logo MRCCC Siloam Hospital Semanggi.
Untuk pertama kalinya, Indonesia ditunjuk menjadi educational and training center semacam ini oleh WFNS

Setiap beberapa tahun sekali, para ahli bedah syaraf (neurosurgeon) berkumpul untuk saling belajar dari satu sama lain, membangun pertemanan, dan merayakan bersama perkembangan dalam dunia bedah sayaraf. Tradisi ini dilanjutkan hingga sekarang oleh World Federation of Neurosurgical Societies (WFNS) dan telah diadakan di negara-negara seperti, Jepang, Amerika Serikat, India, Kanada, dan Belanda. Kini, Indonesia menjadi salah satu negara yang diberikan kehormatan tersebut. Acara dalam bentuk workshop ini diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FKUPH) dan dikepalai oleh Eka J. Wahjoepramono, MD, PhD., selaku Dekan FKUPH dan Professor of Neurosurgery.

"Untuk pertama kalinya, Indonesia ditunjuk menjadi educational and training center semacam ini oleh WFNS. Tentunya ini adalah sesuatu yang membanggakan," jelas Prof. Dr. Eka. "Alasannya tentu karena WFNS melihat bahwa Siloam telah bertahun-tahun mengadakan workshop seperti ini. Workshop tersebut pun didukung oleh alat-alat yang canggih, serta fasilitas yang memadai. sekarang, dengan diadakannya acara ini, sebagai educational and training center, siapa saja boleh belajar di sini," tambah Prof. Dr. Eka.

Hal ini adalah penting karena ini berarti tingkat bedah syaraf di Indonesia telah diakui secara internasional dan telah setaraf dengan level internasional. "World Federation sendiri yang meminta Indonesia untuk menjadi tuan rumah, dan ini adalah satu hal yang perlu dicatat," sambung Prof. Dr. Eka.

"Sebelum-sebelumnya selalu kita yang mengirim tenaga ahli untuk belajar dan mencontoh dari negara lain, kini terjadi yang sebaliknya. Sudah dimulai sebuah program di mana seorang dokter muda asal Beijing di kirim ke Indonesia untuk mengikuti program magang dan belajar di level spesialis. menggali ilmu di Indonesia dan dari Indonesia," jelas dia.

Workshop yang diadakan selama dua hari yakni 24-25 Januari 2013 ini terdiri dari 3 seminar yang berbeda. Spine Workshop, yang dikoordinatori oleh Dr. Ronny Setiawan. Endovascular Workshop yang dikoordinatori oleh Dr. Harsan, dan Microanstomosis Workshop yang dikoordinatori oleh Dr. Julius July.

Spine workshop ini bertujuan memperbarui keterampilan dan kemampuan para dokter bedah syaraf dalam teknik pembedahan sesuai dengan perkembangan teknologi dan peralatan bedah yang terus berkembang. Dalam penanganan kelainan tulang belakang, sekarang ini dilakukan tehnik pembedahan sedikit mungkin, sehingga diperlukan keterampilan akan teknik terbaru. Selain paparan presentasi dari para pakar bedah syaraf dalam dan luar negeri, acara juga diisi dengan praktik bedah pada jenazah di ruang bedah lantai 3 FKUPH.

Endovascular workshop diadakan untuk pengembangan ilmu dan teknik endovaskuler (neuro-intervensi), yaitu suatu teknik terapi minimal invasive berbagai kasus kelainan pembuluh darah maupun kelainan-kelainan lain pada otak dan sistem saraf lainnya. Melalui teknik ini, dengan menggunakan akses langsung dalam pembuluh darah, maka sebuah kateter kecil dapat memberikan terapi pada kelainan di otak dan saraf tulang belakang. Karena tindakan ini tidak memerlukan pembedahan maka lama perawatan dan efek samping juga dapat ditekan.

Microanastomosis Workshop diikuti para ahli bedah sayaraf yang ingin lebih Memahami indikasi untuk prosedur bypass, Memahami persiapan dan pelaksanaan anastomosis pembuluh darah, juga Menguasai teknik anastomosis pembuluh darah. "Peserta yang mengikuti workshop ini berasal dari berbagai negara seperti Vietman, Filipina, India, dan Cina. Peserta paling banyak berasal dari Indonesia sendiri. Setiap workshop mempunyai dua instruktur yang berasal dari Indonesia dan Jepang," tutur Dr. Julius July.

Penulis: /FEB