Fasli Jalal

Jakarta - Sempat dikabarkan sengaja ditunda, Survei Demografi dan Kependudukan (SDKI) 2012 akhirnya diluncurkan secara resmi oleh pemerintah, di Jakarta, Rabu (25/9) siang ini. Peluncuran dilakukan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono, Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti, dan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal.

Fasli Jalal mengungkapkan, hasil SDKI 2012 menunjukkan sejumlah indikator kesehatan dan program Keluarga Berencana (KB) tidak tercapai atau stagnan dalam 5-10 tahun terakhir.

Angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) misalnya tidak mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir (2002-2012) yakni 2,6 anak perwanita. Angka fertilitas pada usia remaja juga masih tinggi, yang ditandai dengan angka kelahiran menurut kelompok umur (Age Specific Fertility Rate/ASFR) sebesar 48 per 1.000 wanita umur 15-19 tahun.

Yang lumayan mengembirakan adalah meningkatnya median usia kawin pertama wanita dari 19,8 tahun (SDKI 2007) menjadi 20,1 tahun, meskipun masih belum sesuai dengan yang diharapkan, yaitu 21 tahun.

Sementara tingkat prevalensi pemakaian alat kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR), yang menunjukkan tingkat kesertaan ber-KB di antara pasangan usia subur (PUS) mencapai 61,9 persen. Sebanyak 57,9 persen di antaranya menggunakan cara KB modern hanya meningkat sebesar 0,5 persen dari 57,4 persen dalam lima tahun terakhir.

"Penggunaan kontrasepsi didominasi oleh alat kontrasepsi jangka pendek, terutama suntikan, yang mencapai 31,9 persen. Tingkat pemakaian metode KB jangka panjang, yaitu IUD, implan, metode operasi pria atau vasektomi, dan metode operasi wanita atau tubektomi hanya sebesar 10,6 persen," kata Fasli Jalal.

Kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) sudah berhasil diturunkan menjadi 8,5 persen namun masih jauh dari sasaran yang telah ditetapkan.

Fasli mengatakan, sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia setelah Tiongkok, India, dan Amerika Serikat yakni sebanyak 237 juta jiwa, seharusnya isu kependudukan dan KB menjadi prioritas penting bagi pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia. Sayangnya, kata dia, hal ini masih jauh panggang dari api. Faktnya, hasil SDKI 2012 menunjukkan program pemerintah terkait KB berjalan di tempat.

Fasli mengatakan, SDKI 2012 memberikan gambaran yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan SDKI sebelumnya karena mengambil responden seluruh wanita usia subur (WUS) 15-49 tahun yang belum pernah kawin. Sedangakan SDKI sebelumnya hanya mewawancarai wanita pernah kawin usia 14-49 tahun. Selain sampel WUS, SDKI 2015 juga mewawancarai sejumlah pria berstatus kawin usia 15-49 tahun dan pria usia 15-24 tahun yang belum pernah kawin.

"SDKI 2012 merupakan representasi tingkat nasional hingga provinsi kecuali indikator angka kematian ibu, yang hanya mewakili kondisi di tingkat nasional," ungkapnya.

Hasil SDKI 2012 adalah survei yang dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia secara berkala setiap lima tahun sekali untuk mengumpulkan data kelahiran, kematian, prevalensi Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan (khusus reproduksi).

SDKI merupakan bagian dari survei serupa yang dilaksanakan di 85 negara di Amerika Latin, Asia, Afrika, dan Timur Tengah untuk memenuhi kebutuhan data dasar berketerbandingan internasional di bidang pendidikan kependudukan serta kesehatan. SDKI telah diselenggarakan sebanyak 7 kali, yaitu sejak 1987 sampai 2012.

 

Suara Pembaruan

Penulis: D-13/AF

Sumber:Suara Pembaruan