Dari sekian banyak jenis jajanan yang berada di pinggir sekolah, minuman es, menurut hasil penelitian BPOM, merupakan jenis jajanan yang paling banyak mengandung zat berbahaya.

Jakarta - Asupan makanan yang sehat dan bergizi sangat dibutuhkan anak. Namun, di tengah gaya hidup modern saat ini, tidak semua orangtua sempat mengawasi secara langsung makanan yang dikonsumsi buah hatinya.

Wajar jika sebagian besar anak memilih untuk membeli jajanan di sekolah. Selain praktis, warna dan bentuk yang menarik menjadi pemicu mereka gemar jajan di sekolah.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI melalui temuannya mengatakan, bahwa kualitas kehiegenisan pada pangan jajanan anak sekolah merupakan tantangan terbesar yang harus segera disikapi.

Survei pengawasan jajanan anak pada 2013 dengan 5.668 sampel sekolah menunjukkan, terjadi penurunan bahan tambahan pangan berlebih. Penurunan terjadi dari 24 persen di 2012, menjadi 17 persen di 2013. Tapi cemaran mikroba meningkat dari 66 persen di tahun lalu menjadi 76 persen saat ini.

Yang mengejutkan, hasil produk yang paling banyak tercemar mikroba atau bakteri tahun ini -- dari survei sejak 2009, adalah minuman es yang banyak dijajakan di sekitar area sekolah. "80 persen hasil kajian menunjukkan es tidak memenuhi syarat," ungkap Roy Sparringa, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, belum lama ini.

Jajanan es, lanjut dia, baik berupa es sirup maupun jeli ternyata menggunakan sumber air yang tidak layak. Akibatnya kandungan bakteri pencemar tinggi. "Es-es yang dipakai itu bukan suplai untuk makanan," kata Roy.

Bahkan ia melihat langsung, penggunaan es batu diobok-obok tapi masih digunakan sebagai makanan. "Ini yang belum banyak disadari masyarakat," ujar dia. Cemaran mikrobiologi yang diteliti, kata Roy, adalah kandungan e.coli, kapang dan kamir, serta bakteri salmonela.

Membiasakan Sarapan di Rumah
Lebih lanjut Roy menjelaskan, bahwa penggunaan bahan tambahan pangan (BTP), seperti pemanis buatan, pewarna, dan pengawet dalam jajanan memang mengalami penurunan sebanyak tujuh persen. Meski begitu, para produsen juga belum memperhatikan kebersihan dan sanitasi saat pembuatan makanan. Sehingga pangan yang diproduksi, berisiko mengandung bakteri Esterichia coli.

"Hasil uji produk beberapa jajanan sekolah yang paling banyak mengandung zat berbahaya baik BTP yang tidak disarankan maupun faktor kebersihan yang kurang adalah es-es yang banyak dijual di pinggir sekolahan. Mereka (penjual) mungkin kurang memperhatikan kebersihan dari bahan-bahan yang dipakai maupun proses pembuatannya," ujarnya kepada Beritasatu.com.

Melihat fakta ini, Roy mengimbau kepada orangtua, guru maupun masyarakat sekolah untuk bersama-sama
membentuk lingkungan yang sadar, dan menerapkan jajanan sehat untuk anak sekolah. Tak hanya itu, pengawasan juga sebaiknya dilakukan di rumah. Para orangtua, lanjut dia, harus mengawasi makanan apa saja yang dikonsumsi anak.

"Orangtua seharusnya membiasakan anak untuk sarapan sebelum sekolah. Hal ini bisa mengurangi nafsu anak untuk jajan sembarangan yang tidak terjamin mutunya karena sudah dalam kondisi kenyang," pesan Roy.

Penulis: Firsta Putri Nodia