Ilustrasi diagram biopori yang bermanfaat untuk resapan air.

Jakarta - Selama belasan tahun, permukiman di RW 010 Cipinang Elok, Kelurahan Cipinang Muara, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur kerap direndam banjir.

Jalanan di permukiman bisa terendam air hingga setinggi satu meter. Bahkan, air dari badan jalan itu akan masuk ke rumah-rumah warga dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter. Banjir itu disebabkan karena permukiman ini berada di daerah cekungan yang posisinya lebih rendah dari permukiman lain di sekitarnya. Sehingga aliran air di permukiman tidak dapat mengalir ke Kali Cipinang.

Namun, kondisi itu telah berubah. Banjir tak lagi menjadi ancaman setelah warga berinisiatif membuat lubang-lubang biopori yang berfungsi sebagai penanggulang banjir dan sarana deposit air. Lubang-lubang tersebut dibuat di lahan hijau atau halaman rumah dengan luas sekitar 1,3 hektar dari 13 hektar total lahan permukiman tersebut.

Alhasil, permukiman yang awalnya kerap dilanda banjir, saat ini hanya tergenang air setinggi 20 cm dan langsung cepat surut. Genangan itu pun hanya terjadi jika hujan yang turun intensitasnya tinggi.

Adalah Saksono Soehodo, yang saat ini menjadi Ketua RW setempat yang menggagas ide biopori ini empat tahun lalu. Ditemui di rumahnya di Blok AG No 13 RT 12/10 Komplek Cipinang Elok beberapa waktu lalu, ia menuturkan, ide membuat biopori ini muncul setelah dirinya membaca artikel salah seorang dosen Institut Pertanian Bogor (IPB), bernama Kamil mengenai teknik pembuatan biopori.

Saat diusulkan kepada warga, ide tersebut sempat tidak ditanggapi. Namun, sebanyak 18 lubang biopori yang dibuat Saksono di halaman rumah membuka mata warga.

"Ketika saya usulkan pembuatan lubang biopori, warga justru acuh dan tidak tertarik. Tapi setelah melihat genangan jadi lebih cepat surut karena adanya lubang biopori, warga justru berlomba-lomba untuk membuat lubang biopori di lingkungannya. Akhirnya kami buat 500 lubang di permukiman ini, dan sekarang sudah ada 2.400 lubang," tuturnya.

Tak hanya membuat biopori, sebanyak 718 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di wilayah itu berperan aktif dalam menjaga lingkungan rumah mereka. Menurut Saksono, 15 Ketua RT yang ada di wilayahnya dengan suka rela menyerahkan uang operasional untuk RT dari Pemprov DKI masing-masing Rp 975.000.

Jumlah tersebut ditambah uang operasional RW sebesar Rp 1,2 juta. Lebih jauh dari itu, sebanyak sekitar dua meter kubik sampah organik dari 12 meter kubik sampah yang dihasilkan permukiman itu setiap harinya turut dimanfaatkan.

Sisa sampah organik yang dikumpulkan dan digunakan warga sebagai kompos untuk kebutuhan biopori dan tanaman dijual sebagian dengan harga Rp 1.500 per kilogram untuk menambah kas RW.

"Lalu kas kita itu juga ditambah dengan iuran warga yang kisarannya antara Rp 80.000 hingga Rp 200.000 tiap bulannya. Semua itu untuk membayar pekerja lingkungan, taman, keamanan, saluran air, dan pemeliharaan biopori. Tentu warga juga menyumbangkan tenaganya untuk melakukan penghijauan di halaman dan depan rumahnya," jelas Saksono.

Ia mengungkapkan, pengolahan sampah organik menjadi kompos, telah ditekuni warga sejak tahun 2005 lalu. Pengolahan sampah ini dengan menggunakan sarana yang ada. Dikatakan, pengolahan sampah dan pemeliharaan lubang biopori tersebut sampai saat ini menjadi program berkelanjutan di wilayah tersebut.

"Sementara untuk sampah non organik yang tidak dapat diolah menjadi kompos, dibawa langsung oleh Dinas Kebersihan ke tempat pembuangan akhir," tutur Saksono.

Dijelaskannya, untuk membuat satu lubang biopori yang dibutuhkan hanya dana sebesar Rp 15.000 untuk membeli paralon, kawat, dan alat pengeruk serta pembuat lubang biopori.

Selain itu, peralatan sederhana, seperti bor dan linggis digunakan untuk membuat lubang dengan kedalaman sekitar satu meter dan berdiameter 10 sentimeter. Antara satu lubang dengan lubang lainnya terdapat jarak sekitar satu meter. Di bagian atas atau mulut lubang, ditanam pipa paralon sepanjang 15 sentimeter yang berfungsi mencegah tanah gugur ke dalam lubang yang telah digali. Lalu, lubang ditutup menggunakan kawat jaring untuk menghindari masuknya kotoran atau hewan.

"Hewan atau partikel keras menyebabkan penyumbatan ataupun pendangkalan. Lubang seperti itu kita buang di jalur hijau, halaman, bahkan jalan-jalan beraspal sekalipun," papar Saksono.

Ia melanjutkan, di dalam lubang biopori dimasukkan kompos agar membantu pertumbuhan cacing dan hewan pengurai lainnya di dalam lubang. Hewan-hewan ini berfungsi membentuk lubang kapiler di dalam tanah yang membuat lubang biopori dapat menyerap air. Berdasar penelitian yang ada setiap lubang biopori mampu menyerap 120 liter air per jamnya

"Rencananya tahun depan kami tambah 500 lubang lagi. Mudah-mudahan wilayah lain juga bisa melakukan hal yang sama. Tapi selain itu, kami berharap agar Pemrov DKI juga membantu warga untuk membuat lubang biopori salah satunya dengan pengadaan alat," tuturnya.

Sementara itu, Warsa (45), salah seorgang warga RT 12/10 Kelurahan Cipinang Muara mengakui manfaat lubang biopori tersebut. Dengan adanya lubang biopori ini genangan air yang kerap terjadi di wilayahnya kini lebih sedikit dan lebih cepat surut. "Biasanya bisa berjam-jam surutnya, sekarang udah ada lubang biopori cuma kurang dari sejam langsung surut," katanya.

Penulis: F-5