Minat Baca Dosen Masih Rendah

Minat Baca Dosen Masih Rendah
Ilustrasi Buku di perpusatakaan ( Foto: Istimewa )
Dina Manafe / CAH Rabu, 23 April 2014 | 20:55 WIB

Bekasi - Minimnya akses terhadap sumber bacaan dan daya beli masyarakat yang rendah menjadi salah satu kendala yang menyebabkan minat baca penduduk Indonesia masih rendah. Karenanya, selain menyediakan buku murah dan mendekatkan sumber bacaan kepada masyarakat, juga diperlukan gerakan menulis.

Gerakan menulis ini dimulai dari perguruan tinggi, khususnya dosen, yang biasanya menulis buku sebagai karya ilmiah akademik. Karya tulis yang dihasilkan dosen bisa diubah menjadi karya ilmiah populer, sehingga mudah dicerna masyarakat umum.

Persoalannya di Indonesia, animo dosen untuk menulis masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan minimnya jurnal dan buku yang diterbitkan di Indonesia.

“Bila dibandingkan dengan beberapa negara di Asean, Indonesia yang terendah, jauh di bawah Malaysia, Singapura, dan Thailand,” kata pengamat pendidikan sekaligus Dirut Bina Sarana Informatika (BSI), Naba Aji Notoseputro, di sela-sela BSI Fair 2014, di Bekasi, Rabu (23/4). BSI Fair 2014 digelar dalam rangka HUT ke-26 BSI dan bertepatan dengan Hari Buku Sedunia tahun ini.

Naba menambahkan, rendahnya minat dosen tersebut dikarenakan banyak faktor, di antaranya kecintaan terhadap menulis masih kurang, faktor waktu dan finansial. Belum ada kebanggaan bahwa menulis buku sama dengan mewariskan ilmu kepada masyarakat.

Banyak dosen menghabiskan waktunya mengajar di beberapa universitas, sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk menulis. Ada pula yang menganggap menulis buku belum menjadi sumber pendapatan tambahan.

Alasan yang terakhir ini, menurut Naba, tidak selalu benar. Ia mencontohkan penulis buku Ayat-Ayat Cinta, Habiburrahman El Shirazy, bisa mendapatkan miliaran rupiah ketika karyanya itu meledak di pasaran.

“Kalau pun tidak meledak, ada kebanggaan bahwa kita bisa mewariskan ilmu yang bermanfaat bagi masyarakat, dan itu seharusnya tugas dosen,” kata Naba.

Di BSI sendiri, kata Naba, rata-rata buku umum yang dihasilkan per tahunnya hanya 4-5 buku, sedangkan jurnal ilmiah sebanyak 25. Menurutnya, kalau pun banyak dosen yang menulis tidak sampai diterbitkan dan itu hanya untuk mencerdaskan masyarakan di kampus, bukan masyarakat luas.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta, Afrizal Sinaro. Menurutnya, tidak hanya dosen, masyarakat umumnya juga rendah minat menulis. Tetapi, daya beli masyarakat rendah juga mempengaruhi animo menulis tersebut.

“Jadi percuma kalau penulis dan industri berkembang, tetapi daya beli masyarakat rendah juga percuma,” kata Afrizal.

Ia mengatakan, rendahnya animo menulis terlihat dari buku yang terbit setiap tahunnya. Selain penulisnya orang yang sama terus, jumlah judul buku yang dihasilkan pun masih rendah. Misalnya buku religi, penulisnya itu-itu saja, padahal banyak tokoh agama yang sering memberikan ceramah.

Dari jumlah, ia mencontohkan DKI Jakarta, sepanjang 2013 judul buku yang terbit sebanyak 12.000. Secara rasio, jumlah ini tidak seimbang dengan jumlah penduduk Indonesia. Idealnya di dunia, 1 buku dibaca 1 orang. Di Indonesia sendiri idealnya 1 buku dibaca 15 orang

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE