Kesadaran untuk Deteksi Dini Kanker Serviks Masih Rendah

Kanker Serviks (Istimewa)

Oleh: Herman | Kamis, 26 Juni 2014 | 17:38 WIB

Jakarta - Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Nila Moeloek menyayangkan masih rendahnya angka kesadaran perempuan Indonesia untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim atau serviks. Padahal, bila dideteksi dan ditemukan dini, tingkat kesembuhan jenis kanker semacam ini lebih tinggi.

"[Diperkirakan] tingginya angka kasus kanker serviks di Indonesia karena tidak cepat terdeteksi. Pada stadium awal, kanker ini tidak menimbulkan gejala atau keluhan sama sekali. Ketika berobat, tahu-tahu sudah pada stadium lanjut. Cakupan skrining juga masih sangat rendah, kurang dari lima persen," kata Nila Moeloek saat acara pencanangan "Gerakan Nasional Deteksi Dini Kanker Leher Rahim" yang digelar BPJS Kesehatan dan YKI di Tangerang, Kamid (26/6).

Kanker serviks disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV) yang menyerang leher rahim dan membutuhkan proses yang panjang antara 3-20 tahun untuk menjadi sebuah kanker. Dijelaskan Nila Moeloek, penyebaran virus ini terjadi melalui hubungan seksual. Sehingga bila seseorang sudah pernah melakukan hubungan intim, ia menyarankan untuk rutin melakukan skrining IVA atau tes Papsmear.

"Bila ada keputihan dengan bau menyengat dan flek di luar masa menstruasi, kondisi ini juga perlu dicurigai dan harus segera melakukan pemeriksaan. Namun sebaiknya melakukan skrining sebelum timbul gejala karena biayanya jauh lebih murah. Apalagi pemerintah juga telah menanggungnya lewat program Jaminan Kesehatan Nasional," ujar dia.

Seperti diketahui, kanker serviks merupakan kanker terganas nomor dua yang menyerang kaum perempuan setelah kanker payudara. Di Indonesia, prevalensi kasus kanker serviks cukup tinggi. Berdasarkan data dari Globocan 2008, ditemukan 20 kasus kematian akibat kanker serviks setiap harinya. Penyakit ini juga menjadi penyebab kematian nomor tujuh di Indonesia.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT