Januari - Mei 2015, Sebanyak 1.918 Anak di NTT Alami Gizi Buruk

Januari - Mei 2015, Sebanyak 1.918 Anak di NTT Alami Gizi Buruk
Ilustrasi penderita gizi buruk ( Foto: Antara / Ampelsa )
Yoseph A Kelen / PCN Rabu, 24 Juni 2015 | 16:57 WIB

Kupang- Sebanyak 1.918 anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) menderita gizi buruk selama Januari - Mei 2015. Sebanyak 11 orang di antaranya meninggal dunia akibat gizi buruk. Selain itu, masih ada 21.134 anak balita yang mengalami kekurangan gizi dari jumlah belita yang ditimbang sebanyak 330.214 orang. Kasus kurang gizi buruk ini tersebar di 22 kabupaten kota di NTT.

Kepala Seksi Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan NTT, Isbandrio, kepada wartawan di Kupang, Rabu, (24/6), mengatakan, penderita gizi buruk dialami keluarga miskin yang tinggal di wilayah terpencil yang sulit dijangkau. "Kasus ini terjadi diduga karena pemahaman ibu terhadap gizi masih rendah. Hal Itu diperparah dengan kemarau panjang yang terjadi sejak tahun 2014 sehingga banyak petani gagal panen," katanya.

Kondisi tersebut menimbulkan krisis pangan sehingga makanan yang dikonsumsi anak pun berkurang, bahkan tidak bergizi. "Kekurangan gizi itu membuat anak mudah terserang berbagai penyakit, seperti diare yang menimbulkan kematian," jelas Isbandrio.

Kasus gizi buruk terjadi di hampir semua kabupaten di NTT. Sementara kasus gizi buruk terbanyak di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU).

Buruknya infrastruktur dan sulitnya akses transportasi membuat penderita gizi buruk tidak terkontrol oleh petugas kesehatan. Akibatnya, penderita dengan mudah digerogoti berbagai penyakit lain, tambahnya.

Kepala Dinas Kesehatan NTT, dr Stef Bria Seran mengatakan, gizi buruk muncul karena orang tua tidak mampu menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anak mereka yang kemudian memicu timbulnya berbagai jenis penyakit. "Akar permasalahan terjadinya gizi buruk di NTT akibat kemiskinan," ujar Stef Bria Seran.

Menurut dia, angka kefatalan kasus (case fatality rate/CFR) 11 balita yang meninggal tersebut hanya 0,002 persen, tapi kematian bayi merupakan persoalan serius. Persoalan itu bukan tanggung jawab Dinas Kesehatan, melainkan pemerintah dan DPRD sebagai penyelenggara pemerintahan dan pembangunan daerah itu.

Ia menyebutkan, selama 2014 lalu sebanyak 361.696 anak ditimbang. Dari jumlah itu, 310.497 orang belita di antaranya memiliki gizi normal dan 27.327 orang yang gizinya bermasalah, terdiri dari gizi kurang 23.963 orang, gizi buruk tanpa gejala klinis 3.351 orang, dan gizi buruk dengan gejala klinis 13 orang, serta 15 anak di antaranya meninggal dunia.

Data tersebut menunjukkan kasus gizi buruk di NTT masih ada dan membutuhkan perhatian dari pemerintah, DPRD, dan masyarakat. Gizi buruk baru berhasil diatasi jika persoalan kemiskinan di daerah itu dientaskan karena orang tua tidak memiliki cukup uang dan ketersediaan pangan untuk menyiapkan makanan bergizi untuk anak-anak mereka.

Karena itu, ia menolak bertanggung jawab dan menolak Dinas Kesehatan disalahkan jika ada balita yang masih menderita gizi buruk. "Jangan salahkan kami (pihak Dinas Kesehatan), jika ada balita gizi buruk," katanya.

Untuk pencegahan gizi buruk harus melibatkan seluruh instansi di NTT. "Penanganan harus dimulai sejak anak mengalami masalah gizi. Jangan tunggu sudah gizi buruk atau kronis baru ditangani," tambahnya.

Sumber: Suara Pembaruan