Pendidikan Berbasis STEM Jawaban Tantangan Global

Pendidikan Berbasis STEM Jawaban Tantangan Global
Indra Charismiadji, President Director PT Eduspec Indonesia ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / Indah Handayani / PCN Senin, 23 November 2015 | 15:43 WIB

Jakarta - Perkembangan global yang amat pesat akibat kemajuan di bidang teknologi mengharuskan bangsa-bangsa di dunia mengubah sistem pendidikan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara maju maupun negara berkembang, berupaya meningkatkan kualitas pendidikan dengan model Pembelajaran Tematik Terpadu (PTP) atau Integrated Thematic Instruction (ITI).

Pembelajaran ini berangkat dari pendekatan tematis sebagai acuan dasar bahan dan kegiatan pembelajaran di mana tema yang dibuat mengikat baik mata pelajaran tertentu maupun antarmata Pelajaran. Pembelajaran Tematik ini secara ilmiah telah menunjukkan keberhasilannya dalam memacu percepatan dan meningkatkan kapasitas memori peserta didik.

Untuk memacu prestasi pendidikan Indonesia, Eduspec Indonesia mengenalkan sistem pendidikan berbasis Science, Technology, Engineering and Mathematics atau STEM. Ini merupakan sebuah model pembelajaran yang populer di tingkat dunia yang efektif dalam menerapkan Pembelajaran Tematik Integratif karena menggabungkan empat bidang pokok dalam pendidikan yaitu ilmu pengetahuan, teknologi, matematika, dan enjinering.

Direktur Utama Eduspec Indonesia Indra Charismiadji mengatakan metode tersebut mengajak siswa untuk mengintegrasikan mata pelajaran dan mengkorelasikannya dengan kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran melibatkan tujuh keahlian utama bagi siswa abad 21, yaitu, kolaborasi, kreatif, berfikir kritis, komputerisasi, pemahaman budaya, dan mandiri dalam belajar dan berkarir.

"Perkembangan dunia pendidikan sangat cepat, karena itu Indonesia harus menyesuaikan kurikulum agar dapat bersaing di era global," ungkap Indra di sela Simposium Nasional guru dan Tenaga Kependidikan 2015 di Istora Senayan, Jakarta, Senin (23/11).

Indra menjelaskan, STEM sebuah keharusan dalam mempersiapkan anak didik menghadapi dunia nyata yang penuh masalah agar siap dalam persaingan global. Sebab, Science, technology, engineering, and mathematics adalah mata pelajaran yang saling berkaitan dalam kehidupan nyata manusia. Keempat bidang itu, saling kait mengait dan tak bisa berdiri sendiri. Namun, selama ini keempatnya dipelajari terpisah-pisah, jadi seolah-olah hanya bisa dipahami secara teori saja. Padahal, keempat bidng studi itu wajib dikuasai oleh anak didik supaya mereka bisa memecahkan masalah dalam dunia kerja, masyarakat, dan dalam semua aspek kehidupan.

"Saat ini, negara-negara yang menggunakan metode itu antara lain Finlandia, Amerika, dan Australia sejak 10 tahun lalu. Menyusul Vietnam, Tiongkok, Malaysia, Filipina," ujar dia.

Menurut Indra, pihaknya sudah menyiapkan materi kurikulum STEM untuk sekolah-sekolah di Indonesia, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah atas. Ia juga mengklaim kurikulum tersebut juga mengajarkan anak didik tentang computational thinking, bukan sekadar belajar menekan tombol, tetapi belajar memecahkan masalah dengan teknologi. Kurikulum ini kelak akan terintegrasi dengan sistem pendidikan (Sistem Aplikasi Belajar Aktif Elektronik) dalam mengembangkan pendidikan modern yang efektif dan efisien pendidikan berbasis teknologi.

"Indonesia harus menyadari bahwa dunia pendidikan sangat berubah, dengan kertas, kapur, dan lain-lain. Anak juga harus bawa banyak buku. Jadi, yang tadinya banyak buku sudah ada dalam komputer dalam satu kit, dengan e-Sabak, itu semua isi alat yang hanya sebesar satu buku," tutup Indra.

CLOSE