Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) ini merupakan kerjasama antara LPPM UTA 45 Jakarta dengan SLB bagian B/C Harapan Ibu dan SLB C1 Makna Bakti sebagai mitra yang berlokasi di wilayah Jakarta Pusat.

UTA 45 Latih Anak Berkebutuhan Khusus

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (Abdimas) ini merupakan kerjasama antara LPPM UTA 45 Jakarta dengan SLB bagian B/C Harapan Ibu dan SLB C1 Makna Bakti sebagai mitra yang berlokasi di wilayah Jakarta Pusat. (Istimewa)

Jakarta- Tim dosen pelaksana pengabdian kepada masyarakat Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta (UTA) melakukan program pendidikan dan pelatihan kepada anak berkebutuhan khusus (ABK) sejak April sampai Desember 2016. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (abdimas) ini merupakan kerja sama antara Sekolah Luar Biasa (SLB) bagian B/C Harapan Ibu dan SLB C1 Makna Bakti sebagai mitra yang berlokasi di wilayah Jakarta Pusat.

Tim pelaksana abdimas ABK adalah Ari Soeti Yani, Riris Rotua Sitorus dan Fauziah. Kegiatan abdimas ini bagian dari Visi Misi Tridharma Perguruan Tinggi UTA’45 Jakarta yang dicanangkan Ketua Dewan Pembina Rudyono Darsono dan Rektor UTA’45 Jakarta Dr Virgo Simamora.

“Untuk peningkatan kemampuan ABK tidak hanya melalui pelatihan-pelatihan saja, tim Abdimas UTA’45 Jakarta juga memberikan bantuan peralatan seperti komputer, peralatan kerajinan tangan, peralatan memasak dan bina diri. Peralatan ini sangat membantu dan mendukung kelancaran proses belajar mengajar," kata Ketua LPPM UTA’45 Sihar Tambun dalam siaran pers yang diterima redaksi, Senin (9/1).

Dana pembelian peralatan berasal dari program hibah iptek bagi masyarakat. Program berkelanjutan ini diharapka membuat ABK dapat mengoperasikan program komputer yang sulit, seperti Excel dan kemampuan berbahasa Inggris.

Sementara itu Kepala SLB Harapan Ibu Suwarto mengatakan siswa-siswanya membutuhkan bimbingan dan atensi khusus untuk membantu pengembangan diri mereka.

“Secara Psikologis, ABK merupakan anak yang mengalami gangguan keterlambatan, sehingga mengalami kesulitan apabila di sekolah umum. Anak seperti ini dapat dikategorikan sebagai anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya,” kata Suwarto.

Kategori ABK B adalah penyandang tunarungu, yaitu anak yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen, sehingga mereka juga memiliki hambatan dalam berbicara.

Sementara ABK bagian C atau tunagrahita, yaitu anak yang memiliki keterbelakangan mental atau intelegensianya rendah serta sulit menyesuaikan diri dan berkembang. Untuk kategori ini dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkatan IQ, yaitu tunagrahita / C (IQ.20-35), tunagrahita sangat berat (IQ di bawah 20).



“Kegiatan Abdimas dilakukan karena keberadaan SLB B/C Harapan Ibu dan SLB C1 Makna Bakti sangat membantu masyarakat sekitarnya terutama bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus di samping keberadaan SLB itu sendiri terbatas jumlahnya”, kata Ari, dari tim pelaksana abdimas ABK, dalam paparannya di depan reviewer Dikti, Rabu (7/12).

Melalui FGD, lanjut Ari, pelatihan difokuskan pada pengoperasian komputer dan ketrampilan kerajinan tangan memanfaatkan barang-barang daur ulang seperti bungkus minuman instan. Selain itu ada Pplatihan memasak dan bina diri melatih siswa SLB percaya diri bersosialisasi di masyarakat.

“Kendala pada SLB Harapan Ibu dan SLB Makna Bakti yaitu fasilitas, sarana dan prasarana, ruang kelas, ruang ketrampilan belum memadai, kurang tersedianya alat bantu, alat peraga menunjang kegiatan belajar mengajar, tidak tersedianya tempat (rak-rak) untuk memajang hasil karya peserta didik serta kurang tersedianya guru-guru bagi ABK dan masih kurangnya perhatian pemerintah pada siswa ABK,” papar Ari.

Siswa ABK SLB Harapan Ibu dan Makna Bakti berusia 13 sampai 17 tahun sangat antusias mengikuti semua pelatihan meliputi pelatihan pengenalan peralatan komputer, belajar mengetik menulis nama, alamat dan membuat power point yang sederhana, membuat tirai dari bahan daur ulang sisa teh gelas Sisri, membuat tikar dari sisa bungkus kopi, Milo, membuat gantungan kunci dari manik-manik. Hasil karya siswa ABK dijual saat mengikuti pameran-pameran yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan. Satu tikar dapat dijual dengan harga Rp 75.000, gantungan kunci seharga Rp 10.000 dan satu sandal hias dihargai Rp 20.000.


Selain itu praktik membuat kue cubit, membuat es timun ceria, pelatihan bina diri, mencuci baju, menyetrika baju dan melipat baju, menyiapkan hidangan di meja makan, menyiapkan piring, gelas, sendok-garpu, tempat sayur, tempat nasi dan tempat lauk diletakan pada posisi di atas meja makan, merupakan rangkaian kegiatan pelatihan yang dijalankan siswa ABK. 

Melalui abdimas tim UTA’45 Jakarta, kata Ari, diharapkan siswa ABK dapat meningkatkan kemampuan mandiri, motivasi, rasa percaya diri, dapat bersosialisasi dan diterima masyarakat luas.







Galuh Parantri/GP

PR