Peneliti Temukan Spesies Baru Orangutan Tapanuli

Peneliti Temukan Spesies Baru Orangutan Tapanuli
Sekelompok peneliti dari berbagai institusi mempublikasi hasil temuan spesies baru orangutan Tapanuli, di Jakarta, Jumat, 3 November 2017. ( Foto: Beritasatu Photo/Ari Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Jumat, 3 November 2017 | 15:43 WIB

Jakarta - Sekelompok peneliti dari berbagai institusi akhirnya mempublikasi hasil penelitian mereka sejak 1997 dan memastikan bahwa telah berhasil mengidentifikasi adanya spesies baru orangutan Sumatera yakni, orangutan Tapanuli. Hasil penelitian ini, telah dilaporkan dalam jurnal internasional, Current Biology, Jumat (3/11).

Spesies baru orangutan ini, diberi nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau Orangutan Tapanuli. Spesies ini merupakan spesies orangutan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (orangutan Borneo) dan Pongo abelii (orangutan Sumatera).

Penelitian ini berawal dari kerja sama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (Unas), Forum Orangutan Indonesia (Forina), Yayasan Ekosistem Lestari, Program Konservasi Orangutan Sumatera, universitas mancanegara dan sejumlah tim peneliti yang bergerak di bidang genomik, genetika konservasi, morfologi, ekologi serta perilaku primata.

Peneliti IPB, Puji Rianti, mengatakan, peneliti menyimpulkan bahwa orangutan yang terletak di habitat terisolir yaitu Ekosistem Batang Toru di ketiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara sebagai spesies baru dari kelompok genus orangutan.

Bukti pertama yang mengukuhkan orangutan Tapanuli sebagai spesies baru, jelasnya, terlihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan.

"Orangutan Tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari dataran Asia pada masa pleistosen sekitar 3,4 juta tahun silam," kata Puji.

Perbedaan morfologi lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan kedua spesies lainnya serta rambut di seluruh tubuh orangutan Tapanuli yang lebih tebal dan keriting.

Berdasarkan studi perilaku dan ekologi, orangutan Tapanuli juga diketahui memiliki jenis panggilan jarak jauh (long call) cara jantan menyebarkan informasi yang berbeda serta jenis pakan unik dari jenis buah-buahan yang hanya ditemukan di Ekosistem Batang Toru.

Berdasarkan laporan tahun 2016, jumlah populasi orangutan Tapanuli yang tersisa tidak lebih dari 800 individu yang tersebar di tiga populasi terfragmentasi di Ekosistem Batang Toru.

"Terdapat tekanan antropogenik yang kuat terhadap keberadaan populasi orangutan Tapanuli karena konversi hutan dan perkembangan lainnya," ucap Puji.

Setelah penemuan ini, tegasnya, tindakan mendesak yang diperlukan adalah peninjauan ulang usulan-usulan pengembangan daerah di wilayah ini sehingga ekosistem alami tetap terjaga demi keberlangsungan hidup orangutan Tapanuli di masa depan.

Puji menambahkan, saat ini tim peneliti juga sedang memproses usulan daftar merah orangutan Tapanuli ke dalam daftar spesies terancam punah The International Union for Conservation of Nature (IUCN).

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Wiratno, menyebutkan, identifikasi spesies baru orangutan Tapanuli sebagai temuan terbesar di abad ini.

Menurutnya, untuk menjawab tantangan kesatuan pengelolaan hutan lindung, dirinya menekankan perlu adanya pengelolaan efektif yang perlu mendapat dukungan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, masyarakat adat dan NGO.

"Bagaimana kawasan konservasi kita kelola bersama dengan didukung privat sektor dan masyarakat," ujarnya.

Terkait adanya usulan, kawasan itu dijadikan suaka margasatwa, Wiratno menyatakan, akan menelaah lebih jauh mengacu pada kajian ilmiah dan komunitas. Pastinya, kata dia, akan ada bentuk perlindungan baru.

"Ini sebagai harta karun nasional yang harus kita selamatkan. Anak cucu kita harus dinikmati keindahannya," ujarnya.

Kawasan Ekosistem Batang Toru, 85 persennya berstatus hutan lindung atau cagar alam. Sayangnya, areal hutan terpenting dengan populasi orangutan Tapanuli tertinggi hanya berstatus areal penggunaan lain sehingga tidak dapat perlindungan dari pemerintah.



Sumber: Suara Pembaruan