Luhut Ingin Santri Melek Teknologi

Luhut Ingin Santri Melek Teknologi
Ilustrasi santri ( Foto: kemenag.go.id )
/ YUD Kamis, 18 Januari 2018 | 20:59 WIB

Kediri - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan meminta santri agar tidak buta teknologi dan mendorong mereka untuk belajar serta bekerja sehingga siap dengan kemajuan zaman.

"Teknologi industri berkembang cepat. Pemerintahan Presiden Jokowi juga melakukan perubahan lebih efisien dan efektif, dan itu menggunakan teknologi informasi. Sekarang terkoneksi dalam jaringan, jadi kalian (santri) juga harus berpikir ke sana," katanya saat pertemuan dengan para ulama dan santri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, Kamis (18/1).

Ia juga mengaku sengaja datang ke PP Lirboyo untuk silaturahim. Sebelumnya, dirinya pernah berjanji akan berkunjung ke pesantren ini saat bertemu pengasuh di Jakarta belum lama ini. Dalam kesempatan pertemuan itu, ia memberikan pesan pentingnya tentang kemajuan teknologi pada santri.

"Saya memberikan pesan pada anak muda bagaimana kemajuan teknologi. Mereka juga bisa mengisi kemampuan di bidang teknologi dan agama yang membuat mental lebih baik," ujarnya.

Ia juga berharap Pesantren Lirboyo bisa menjadi salah satu pesantren yang maju di bidang teknologi. Sumber daya manusia di pesantren ini banyak dan mereka bisa belajar bahkan hingga luar negeri.

Ia mengatakan sudah banyak contoh santri yang berhasil, misalnya Presiden keempat RI KH Abdurrahman Wahid. Dulu, Gus Dur, sapaan akrab KH Abdurrahman Wahid bahkan pernah menyekolahkan santri yang kini menjadi rektor di salah satu perguruan tinggi Islam di Indonesia.

Lebih lanjut, ia mengatakan teknologi industri kini berkembang cepat. Dengan mendorong para santri terus belajar dan tidak buta teknologi, ke depan mereka juga bisa menjadi tumpuan negara ini, mengingat masa depan bangsa adalah para pemuda.

Saat ini, tambah dia, para pemuda juga sudah berpikir untuk maju. Salah satunya, diterapkan dalam teknologi membuat kereta api yang saat ini lebih canggih. Dengan berbagai kemajuan teknologi, produksi kereta api kini banyak dibuat oleh Indonesia, oleh PT Industri Kereta Api (Inka) di Madiun. Bahkan, perusahaan itu berhasil mendapatkan proyek pembuatan kereta hingga Rp40 triliun, nominal besar yang pernah didapatkan oleh perusahaan ini.

Ia juga mengingatkan, perjuangan santri bukan hanya di pondok pesantren, tapi justru di masyarakat ke depannya. Saat menjadi santri diajarkan untuk belajar, tapi jika tidak punya hati yang kuat, justru tidak bisa menghadapi dunia. Terlebih lagi, dengan kemajuan teknologi tantangan akan semakin berat. Bahkan, komputer bisa lebih cepat dari otak manusia.

"Saya berharap siapkan mental yang baik. Membaca, melihat kitab kuning, membaca Al Quran dan mempunyai hati yang baik. Kalau punya hati yang baik, tahu membedakan yang baik dan tidak. Karena itu, jadi pemimpin nanti bisa tegas, berani," ujarnya.

Menteri Luhut datang bersamaan dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. Selain itu, ada juga sejumlah pejabat lainnya. Mereka datang ke Kediri setelah sebelumnya mengadakan kunjungan ke PT Inka (Persero) di Madiun.

Dalam pertemuan dengan para ulama serta santri di Aula Muktamar PP Lirboyo, juga hadir Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf dan sejumlah tamu undangan lainnya.



Sumber: ANTARA