Noor Aziz, Direktur Zakat Watch
www.zakatwatch.org
Zakat Watch
Bebagai ketentuan harta yang dikenakan zakat.

Maal adalah bahasa Arab yang berarti harta benda, yaitu segala sesuatu yang dapat dimiliki (dikuasai) dan dapat digunakan (dimanfaatkan) menurut kelazimannya. Zakat Maal merupakan ketetapan Allah menyangkut harta yang telah diperoleh seseorang atau individu. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai dengan kehendak pemilik sebenarnya (Allah SWT) (Q.S. al-Maidah, 5: 6; al-Mukminun, 20: 6; al-An'am, 6: 12).

Zakat maal merupakan salah satu mekanisme yang harus dijalankan terkait dengan penggunaan harta. "Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bahagian" (Q.S. adz-Dzariyaat, 51: 19).

Dalam kaitan ini kita akan membahas tentang hal-hal teknis yang terkait dengan zakat maal, antara lain: Harta apa saja yang wajib terkena zakat? Apakah seluruh jenis harta, ataukah harta-harta tertentu? Bilamanakah suatu harta itu dapat dikenakan kewajiban zakat? Lalu, bagaimana ukuran atau nishabnya masing-masing?

Bilamanakah suatu kekayaan wajib zakat? 

Hal pertama sebelum masuk kepada jenis dan penghitungan harta, terlebih dahulu penting untuk dipastikan kondisi harta tersebut, terutama dalam hubungannya dengan si pemegang/pemilik harta. Hal ini merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk menentukan suatu harta wajib zakat atau tidak.

Ketentuan dalam fiqh menyebutkan bahwa syarat suatu harta yang terkena kewajiban zakat adalah sebagai berikut:


•    Milik Penuh (tamam al-milk), yaitu : harta tersebut berada dalam kontrol dan kekuasaa  secara penuh, dan dapat diambil manfaatnya secara penuh. Harta tersebut didapatkan melalui proses pemilikan yang dibenarkan menurut syariat islam, seperti : usaha, warisan, pemberian negara atau orang lain dan cara-cara yang sah.

•    Memiliki potensi dapat Berkembang, yaitu : harta tersebut dapat bertambah atau berkembang bila diusahakan atau mempunyai potensi untuk berkembang.

•    Cukup Nishab, yaitu: harta tersebut telah mencapai jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan syara'.

•    Lebih dari Kebutuhan Pokok, yaitu: bahwa Kebutuhan pokok adalah kebutuhan minimal yang diperlukan seseorang dan keluarga yang menjadi tanggungannya, untuk kelangsungan hidupnya. Artinya apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi yang bersangkutan tidak dapat hidup layak. Kebutuhan tersebut seperti kebutuhan primer atau kebutuhan hidup minimum (KHM), misal, belanja sehari-hari, pakaian, rumah, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

•    Bebas Dari hutang, yaitu : Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari zakat.

•    Berlalu Satu Tahun (Al-Haul), yaitu adalah bahwa pemilikan harta tersebut sudah belalu satu tahun. Persyaratan ini hanya berlaku bagi ternak, harta simpanan dan perniagaan. Sedang hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak ada syarat haul.


Jenis Harta yang Wajib di Zakati dan Ukurannya

•    Binatang Ternak, yaitu: Hewan ternak meliputi hewan besar (unta, sapi, kerbau), hewan kecil (kambing, domba) dan unggas (ayam, itik, burung).

•    Sapi, Kerbau dan Kuda

Hitungan nishab kerbau dan kuda disetarakan dengan nishab sapi yaitu 30 ekor. Artinya jika seseorang telah memiliki sapi (kerbau/kuda), maka ia telah terkena wajib zakat.
Hadits yang diriwayatkan oleh At Tarmidzi dan Abu Dawud dari Muadz bin Jabbal r.a. menyebutkan bahwa, perhitungan zakat sapi dan yang sejenisnya adalah sebagai berikut:

Jumlah Ternak(ekor) Zakat
30 - 39 1 ekor sapi jantan/betina tabi' (a)
40 -5 9 1 ekor sapi betina musinnah (b)
60 - 69 2 ekor sapi tabi'
70 - 79 1 ekor sapi musinnah dan 1 ekor tabi'
80 - 89 2 ekor sapi musinnah
Keterangan :
a. Sapi berumur 1 tahun, masuk tahun ke-2
b. Sapi berumur 2 tahun, masuk tahun ke-3




Selanjutnya setiap jumlah itu bertambah 30 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor tabi'. Dan jika setiap jumlah itu bertambah 40 ekor, zakatnya bertambah 1 ekor musinnah.

•    Kambing/domba

Nishab kambing/domba adalah 40 ekor, artinya bila seseorang telah memiliki 40 ekor kambing/domba maka ia telah terkena wajib zakat. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik menyebutkan bahwa, perhitungan zakat kambing / domba adalah sebagai berikut:

Jumlah Ternak(ekor) Zakat
40-120 1 ekor kambing (2th) atau domba (1th)
121-200 2 ekor kambing/domba
201-300 3 ekor kambing/domba

Selanjutnya, setiap jumlah itu bertambah 100 ekor maka zakatnya bertambah 1 ekor.

•    Ternak Unggas (ayam, bebek, burung, dll) dan Perikanan

Nishab pada ternak unggas dan perikanan tidak diterapkan berdasarkan jumlah (ekor), sebagaimana halnya sapi dan kambing. Tapi dihitung berdasarkan skala usaha. Nishab ternak unggas dan perikanan adalah setara dengan 20 Dinar (1 Dinar = 4,25 gram emas murni) atau sama dengan 85 gram emas. Artinya bila seorang beternak unggas atau perikanan, dan pada akhir tahun (tutup buku) ia memiliki kekayaan yang berupa modal kerja dan keuntungan lebih besar atau setara dengan 85 gram emas murni, maka ia terkena kewajiban zakat sebesar 2,5 %

Contoh :

Seorang peternak ayam, pada akhir tahun (tutup buku) terdapat laporan keuangan sbb:

1

Ayam broiler 8500 ekor seharga

20,000,000

2

Uang Kas/Bank setelah pajak

15,250,000

3

Stok pakan dan obat-obatan

6,300,000

4

Piutang (dapat tertagih)

5,500,000


Jumlah

47,050,000

5

Utang yang jatuh tempo

7,500,000


Saldo

39,550,000






Dari laporan tersebut, maka besar Zakat = 2,5 % x Rp.39.550.000,- = Rp 988.750

Catatan :
Kandang dan alat peternakan tidak diperhitungkan sebagai harta yang wajib dizakati.


•    Emas Dan Perak

Islam memandang emas dan perak sebagai harta yang (potensial) berkembang. Termasuk dalam kategori emas dan perak, adalah mata uang yang berlaku pada waktu itu di masing-masing negara.

Segala bentuk penyimpanan uang seperti tabungan, deposito, cek, saham atau surat berharga lainnya, termasuk kedalam kategori emas dan perak, karena penentuan nishab dan besarnya zakat disetarakan dengan emas dan perak.

Demikian juga pada harta kekayaan lainnya, seperti rumah, villa, kendaraan, tanah, dll. yang melebihi keperluan menurut syara' atau dibeli/dibangun dengan tujuan menyimpan uang dan sewaktu-waktu dapat diuangkan. Sementara pada emas dan perak atau lainnya yang berbentuk perhiasan, asal tidak berlebihan, maka tidak diwajibkan zakat atas barang-barang tersebut.

Nishab emas adalah 20 dinar (85 gram emas murni) dan perak adalah 200 dirham (setara 672 gram perak). Artinya bila seseorang telah memiliki emas sebesar 20 dinar atau perak 200 dirham dan sudah setahun, maka ia telah terkena wajib zakat, yakni sebesar 2,5 %. Demikian juga segala macam jenis harta yang merupakan harta simpanan dan dapat dikategorikan dalam "emas dan perak", seperti uang tunai, tabungan, cek, saham, surat berharga ataupun yang lainnya.

Maka nishab dan zakatnya sama dengan ketentuan emas dan perak, artinya jika seseorang memiliki bermacam-macam bentuk harta dan jumlah akumulasinya lebih besar atau sama dengan nishab (85 gram emas) maka ia telah terkena wajib zakat (2,5 %).

Penulis: