Ilustrasi PSK.
Menjadi PSK sebagai tulang punggung keluarga.

Sebut saja namanya Puput. Perempuan mungil berparas ayu itu kini masih berusia 20 tahun. Namun ia sudah banyak makan asam garam kehidupan lantaran memiliki kisah dramatis yang dianggapnya akan selalu membekas seumur hidup.

Sejak usianya 15 tahun, Puput terpaksa menjadi seorang PSK (Pekerja Seks Komersial). Namun Bandungwangi, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang menaunginya, lebih memilih untuk menyebutnya PSP (Pekerja Seks Perempuan).

Menjadi PSP memang bukanlah cita-cita Puput dari kecil. Namun lantaran himpitan ekonomi keluarga, ia terpaksa menjajakan tubuhnya untuk dinikmati para lelaki hidung belang.

Puput hidup dalam keluarga yang memprihatinkan. Ayahnya dirasa tidak bertanggungjawab lantaran meninggalkan keluarga dalam kondisi sulit. Puput hanya mengetahui jika sang ayah bekerja sebagai petugas keamanan di salah satu tempat hiburan besar di Jakarta Pusat.

Puput berkisah, saat itu ia duduk di kelas 3 sebuah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Warga Jakarta Utara itu tergiur ajakan temannya, rekan ayahnya, yang menawarkan pekerjaan sebagai waitress di sebuah kafe. Upah yang disebutkan, membuat Puput tidak lantas menyelidiki kebenaran ajakan tersebut.

Namun yang terjadi, saat bekerja ia malah diajak om-om untuk melakukan hubungan intim. Puput yang masih perawan dan polos tentu saja berontak. Namun  ia terpaksa menerima tawaran tersebut lantaran butuh uang untuk membiayai adiknya yang sedang sakit.

"Melepas keperawanan, saya dikasih uang Rp2,5 juta," ujar Puput kepada Beritasatu.com dengan malu-malu belum lama ini.


Karena tuntutan materi, ketagihan melayani lelaki hidung belang

Melihat penghasilan yang cukup lumayan untuk menghidupi ibu dan dua orang adiknya, Puput kemudian mulai melirik dan mendalami 'dunia hitam' sebagai PSP. Apalagi ia merasa sudah tidak suci lagi semenjak keperawanannya direnggut lelaki hidung belang.

"Aku itu karena enggak ada biaya untuk sekolah, akhirnya saat SMU enggak melanjutkan sekolah lagi," kenang Puput.

Puput bukanlah PSP yang manggal sembarangan. Ia merupakan perempuan panggilan yang terbiasa melayani pelanggan yang memesannya melalui telepon.

"Aku enggak mau mangkal karena enggak mau teman atau keluarga memergoki. Makanya aku terima pesanan melalui telepon. Untuk promosi dari mulut ke mulut saja sampai banyak pelanggan aku," ujar Puput tersipu malu.

Puput merupakan salah satu kembang 'perempuan panggilan' yang melayani nafsu bejat lelaki hidung belang dengan bayaran berkisar antara Rp200 ribu hingga Rp300 ribu.

"Kalau pelanggan puas bahkan ada yang kasih Rp500 ribu," tuturnya.

Dalam satu pekan, ia biasa melayani empat sampai lima pelanggan. Karena kehati-hatiannya agar tidak diketahui teman dan keluarga, Puput memang tidak terlalu getol untuk menerima pelanggan.

"Kalau satu minggu dapat Rp1,2 juta, selama sebulan bisa dapat Rp4,8 juta itu sudah cukup buat aku menghidupi keluarga dan menyekolahkan adik aku," ujar Puput yang mengaku memiliki dua orang adik.


Berkenalan dengan Bandungwangi, mulai sadar dengan aktivitas seksual

Dalam perjalanannya menjadi seorang PSP, Puput menyadari jika apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Apalagi jika di lihat dari sisi agama.

"Tapi mau bagaimana lagi, aku butuh uang saat itu untuk menghidupi keluarga," ujarnya.

Setiap memasuki Ramadan, perasaan dosa teramat besar pun kerap menghantuinya. Meski tidak gencar, namun Puput tetap menerima pelanggan saat Ramadan tiba.

"Tapi aku kadang juga suka puasa dan salat. Aku paham tentang apa yang aku lakukan itu enggak boleh di mata agama. Aku berusaha imbang saja saat itu. Apalagi kalau menerima pelanggan kan sudah malam, sudah berbuka puasa," tuturnya sambil tersenyum.

Puncak kesadaran Puput dimulai pasca menjalani masa dua tahun setengah menjadi PSP. Saat itu ia bertemu dengan para staf Bandungwangi yang memberikan penyuluhan tentang bahaya HIV AIDS akibat hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

Pihak Bandungwangi saat itu, menurut Puput coba menyadarkan para PSP dengan pendekatan yang lebih manusiawi, yakni bimbingan dan penyuluhan. Saat itu, Puput pun merasa perlu untuk melindungi diri dengan alat-alat kontrasepsi seperti kondom untuk mencegah penularan HIV AIDS.

"Dulu aku cuma pakai KB saja seperti pil," ujar Puput.

"Aku dahulu menganggap kondom itu seperti minyak rambut karena waktu kecil pernah bercanda dengan teman-teman. Jadi terekam seperti itu," imbuhnya sambil tertawa kecil.

Setelah mendengar penyuluhan dan bimbingan tentang penyakit HIV AIDS, Puput mulai menyadari bahaya dan risiko profesinya. Meski demikian, ia masih belum bisa lepas dari profesinya, pemuas nafsu lelaki hidung belang.

"Aku bahkan pernah satu minggu sama sekali enggak mau melayani pelanggan karena takut terkena HIV AIDS," ujarnya.

Ia kemudian memberanikan diri untuk melakukan pemeriksaan darah. Puput merasa bersyukur karena dirinya dinyatakan negatif terinveksi virus HIV.

"Baru satu tahun lalu akhirnya aku memutuskan untuk benar-benar berhenti total menjadi PSP," ujar Puput dengan nada lega.


Memperbaiki diri

Sejak memutuskan untuk berhenti, perempuan berambut panjang tersebut kemudian mulai menata hidupnya kembali. Hatinya memang luluh lantak dan merasa tidak suci lagi. Namun bimbingan dari Bandungwangi, menjadikan Puput tegar menghadapi kehidupannya dan memulai sesuatu yang baru.

Setelah bertaubat, Puput kemudian aktif dalam organisasi Bandungwangi sebagai sukarelawan. Tugasnya adalah memberikan kesaksian dan juga membantu penyuluhan bagi rekan-rekannya yang masih 'beroperasi' menjajakan tubuhnya.

Kini kehidupan Puput seudah kembali normal. Ia masih mencari-cari pekerjaan dengan hanya bermodalkan ijazah SMP. Meski kerap menemui kegagalan, namun dirinya tidak putus asa untuk berusaha.

"Aku ingin benar-benar sadar. Aku hanya berdoa mudah-mudahan Tuhan memberikan jalan buat aku untuk menghidupi keluarga dengan pekerjaan yang lebih baik," ujar Puput.

Hingga keluar dari 'lembah hitam', keluarga dan teman-temannya tidak pernah ada yang mengetahui, jika dirinya pernah menjadi seorang PSP. Ia mengungkapkan, dahulu saat masih 'beroperasi' ibunya kerap bertanya tentang uang yang selalu diberikan kepada sang bunda.

"Aku bilangnya ya dari hasil kerja aku sebagai pelayan kafe," ujarnya.

Tidak hanya keluarga dan teman, kekasih Puput pun diakuinya, tidak mengetahui masa lalu Puput yang kelam.

"Dia sempat bertanya, kenapa aku mau jadi aktivis Bandungwangi. Pacar aku sudah tahu apa itu Bandungwangi. Aku jawab karena memang ingin mencari pengalaman," tuturnya.

Puput beruntung memiliki kekasih yang baik dan sangat perhatian dengan keluarganya. Ia juga yang ikut membantu kehidupan keluarganya hingga saat ini.

"Pacar sering kasih uang sama aku untuk membantu kehidupan keluarga. Ia sayang keluarga aku juga," ujar Puput yang masih mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan Kejar Paket B (setingkat SMA) tersebut.

"Uangnya sayang. Untuk pendaftaran dan biaya pendidikan butuh Rp1,5 juta. Aku pernah dikasih uangnya sama pacar, tapi enggak jadi mendaftar karena lebih baik untuk hidup keluarga saja," ujarnya.

Bersama Bandungwangi, Puput berusaha untuk menyadarkan rekan-rekannya yang masih beroperasi di beberapa penjuru Jakarta dan sekitarnya untuk mewaspadi penyakit AIDS yang ditularkan virus HIV.

"Mudah-mudahan dengan mengetahui risiko pekerjaan ini (PSP) banyak teman-teman yang menyadarinya untuk selalu menjaga kesehatan. Bahkan aku berharap, mereka bisa berhenti beroperasi dan menjalani kehidupan ini dengan lebih baik lagi," pungkas Puput.




Penulis: