Tiga Makanan Asal Indonesia yang Berpotensi Mendunia

Tiga Makanan Asal Indonesia yang Berpotensi Mendunia
Ilustrasi nasi goreng. ( Foto: Suara Pembaruan )
PR/Nadia Felicia Jumat, 26 Juli 2013 | 17:42 WIB

Jakarta - Tiga kuliner yang kental dengan makanan sehari-hari masyarakat Indonesia, yakni nasi goreng, rendang, dan sate, diperkirakan bisa menjadi duta negara di dunia internasional. Demikian disimpulkan hasil riset lembaga riset baru yang berfokus memantau jejaring sosial, Prapancha Research.

Lembaga peneliti yang berisi peneliti asal Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada itu mengatakan, nasi goreng, rendang, dan sate lebih terkenal secara global dibanding rata-rata masakan lain yang berasal dari Asia. Kesimpulan itu didapat dari hasil rangkuman perbincangan di Twitter.

Nasi goreng adalah menu makanan yang paling banyak diperbincangkan di jejaring sosial, dengan 2,3 juta perbincangan di luar Indonesia, diikuti rendang dengan 1,1 juta perbincangan di luar Indonesia. Selanjutnya, sate dengan 533 ribu perbincangan di luar Indonesia.

Sementara untuk masakan mancanegara, tom yam di luar Thailand memperoleh hanya 254 ribu perbincangan, bulgogi dan bibimbap di luar Korea masing-masing memperoleh 210 ribu dan 162 ribu perbincangan.

“Dibandingkan dengan tom yam, makanan terkenal khas dari Thailand. Bulgogi, masakan daging tersohor dari Korea. Lalu bibimbap, nasi campur dari Korea, jauh tertinggal dibandingkan pembicaraan tentang masakan Indonesia” kata Cindy Herlin Marta, analis Prapancha Research, dikutip dari siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat (26/7).

Nasi goreng, rendang, dan sate memiliki posisi di daftar 50 makanan terlezat dunia hasil jajak pendapat yang dihelat situs CNN Go. Rendang menempati posisi pertama, dan nasi goreng menempati posisi kedua.

Dengan serbuan makanan-makanan Asia lain ke dalam negeri dan mengenali ketenaran makanan-makanan tersebut, tak heran banyak yang mengira makanan Asia lain lebih memikat hati dan selera orang-orang mancanegara.

Di Indonesia, sudah ada begitu banyak restoran bahkan gerai kecil yang menjual makanan Asia. Sayangnya, di luar negeri, tidak begitu banyak restoran khusus makanan Indonesia, hanya segelintir saja. Padahal, di jejaring sosial, makanan Indonesia justru lebih terkenal.

Menurut Prapancha Research, kebanyakan warga dunia menikmati makanan asal Indonesia di restoran China atau restoran umum yang menyediakan masakan Asia. Akibatnya, menjadi hal yang lazim jika orang-orang asing cenderung mengira nasi goreng, sate, atau rendang berasal dari Thailand, Singapura, atau Malaysia.

Bila Indonesia diikutsertakan dalam pantauan, total perbincangan sate di Twitter akan mencapai 8,6 juta perbincangan, nasi goreng 5,4 juta perbincangan, dan rendang 2,5 juta perbincangan. Jumlah perbincangan sate dan nasi goreng bahkan melampaui perbincangan lasagna, masakan internasional asal Italia, yang perbincangannya mencapai 3,8 juta, dan mendekati spaghetti yang mencapai 9 juta. Bahkan perbincangan bibimbap dan bulgogi di luar Korea sendiri, paling banyak kedua adalah di Indonesia (bulgogi 40 ribu, bibimbap 26 ribu).

Kesimpulan yang bisa didapat, Indonesia memiliki komoditas kuliner yang potensial. Untuk makin memopulerkan kuliner asal Indonesia, menurut Prapancha Research, dibutuhkan dukungan pasar dalam negeri yang kuat, dukungan dari pemerintah (pelatihan, informasi, peminjaman dana), dan menyusun strategi bersama.

Nilai strategis ekspansi ini berlimpah, menurut Prapancha Research, hal ini bisa memperkuat kebanggaan nasional, mengundang turis ke tanah air, membuka pasar ekspor bahan pangan, mendatangkan devisa, dan akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi.