Manggar Manding-Gudeg Pawon, Warung Gudeg Terunik di Jogja

Manggar Manding-Gudeg Pawon, Warung Gudeg Terunik di Jogja
Gudeg Jogja untuk oleh-oleh dibawa dengan kendil atau besek (Sumber: Investor Daily/Gora Kunjana) ( Foto: Investor Daily/Gora Kunjana )
L Gora Kunjana / GOR Kamis, 25 Februari 2016 | 12:24 WIB

Tak salah jika Jogja disebut Kota Gudeg. Sebab gudeg adalah makanan khas kota ini yang gampang ditemui. Dari gang sempit hingga jalan raya, dari warung kecil, di dalam foodcourt di mal, sampai restoran besar. Mirip-mirip nasi uduk lah kalau di Jakarta.

Jogja bahkan punya sentra gudeg di daerah Wijilan atau di sebelah Timur alun-alun utara Jogja. Di sini kita bisa menemui para pembuat gudeg berkumpul dan menjajakan dagangannya.

Dari puluhan mungkin juga seratusan lebih warung gudeg, boleh jadi ada dua warung yang unik, berbeda dan wajib dicoba. Yakni Manggar Manding, dan Gudeg Pawon.

Berlainan dengan gudeg yang umumnya terbuat dari nangka muda, gudeg yang disajikan di Rumah Makan Manggar Manding terbuat dari manggar atau bunga kelapa yang masih muda. Gudeg ini mempunyai cita rasa gurih dan biasanya disajikan dengan sayur krecek dan tempe bacem.

Konon, gudeg manggar ini merupakan menu istimewa kerajaan yang memiliki khasiat sangat bagus karena bisa memancarkan kecantikan penikmatnya dari dalam. Tak heran jika gudeg manggar menjadi menu favorit para puteri kerajaan dahulu kala.

Selain gudeg manggar sebagai menu andalannya, rumah makan yang terletak di Jalan Parangtritis Km 11,5 Manding, Bantul, Jogjakarta dan baru dibuka 12 September 2014 ini, juga menyediakan menu lainnya seperti brongkos, gurameh organik bakar madu, bothok, nasi goreng manding dan sebagainya.

Lantas apa keunikan Gudeg Pawon? Selain umur warung yang lebih tua --berdiri sejak 1958-- Gudeg Pawon melayani pelanggannya langsung dari dapur atau pawon dalam bahasa Jawa. Pengunjung yang ingin menikmati gudeg ini harus rela mengantre dengan sedikit berdesak-desakan di pawon pemiliknya.

Saat mengantre, kita bisa melihat tungku sederhana yang digunakan untuk memasak. Terbuat dari batu bata yang disusun sedemikian rupa menjadi tungku. Juga dandang untuk menanak nasi yang terbuat dari anyaman bambu, Di dapur atau pawon inilah kita memesan, menerima makanan, hingga membayarnya.

Sedangkan untuk menikmati gudeg yang baru saja selesai dimasak ini, pemilik warung menyediakan beberapa bagian rumahnya. Seperti ruang tamu, serambi depan, di teras samping, dan tentu saja kita juga boleh menyantap di meja makan yang ada di dalam pawon itu sendiri.

Tidak seperti gudeg pada umumnya yang berwarna coklat kemerahan, kering, dan sangat manis, gudeg pawon agak berkuah, berwarna coklat muda keabu-abuan yang berasal dari areh atau santan kental, dan memiliki cita rasa lebih gurih atau asin.

Untuk minuman, selain pilihan umum di sebuah warung makan, Gudeg Pawon juga memiliki minuman spesial yakni Wedang Uwuh. Wedang berarti minuman, uwuh artinya sampah jadi wedang uwuh adalah “minuman sampah”. Dinamai demikian karena minuman ini terbuat dari berbagai dedaunan dan rempah mirip sampah. Dedaunan resep tradisional Jawa ini diseduh dengan air panas dan disajikan tetap menyertakan “sampah” tersebut. Wedang uwuh memiliki rasa pedas, sedikit manis, dan beraroma agak menyengat, namun diakui berkhasiat terhadap kesehatan.

Keunikan berikut warung gudeg yang berlokasi di Jalan Janturan 36-38, Warungboto, Jogjakarta, dekat dengan halte bus Kusumanegara ini adalah jam buka. Jika kebanyakan warung gudeg buka pagi, siang hingga malam, Gudeg Pawon buka menjelang tengah malam yakni pukul 22.30 WIB hingga habis di dini hari.

Tempatnya boleh saja sederhana, namun kenikmatan dan sensasi menyantap gudeg pawon ini tak mudah dilupakan. Ketika para tetangga kiri dan kanan sudah mulai terlelap di ranjang, kita serasa sedang bertamu ke rumah saudara dan diajak makan bareng di rumahnya.

CLOSE