Banana Chili Fritter, hidangan pisang goreng yang dibalut tepung roti dipadu dengan sambal yang diolah dari tomat, cabe rawit merah, dan bumbu rahasia ala Chef Danny sehingga rasa yang dihasilkan merupakan perpaduan manis, pedas, asam, gurih.

Pontianak Raih Rekor MURI Sebagai Penggoreng Pisang Terbanyak di Indonesia

Banana Chili Fritter, hidangan pisang goreng yang dibalut tepung roti dipadu dengan sambal yang diolah dari tomat, cabe rawit merah, dan bumbu rahasia ala Chef Danny sehingga rasa yang dihasilkan merupakan perpaduan manis, pedas, asam, gurih.

PONTIANAK - Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat, mencatatkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai penggoreng pisang terbanyak di Indonesia.

"Rekor tersebut terpecahkan dengan jumlah 131 penggorengan pisang serta jumlah pisang sebanyak 2.017 buah," kata Wali Kota Pontianak, Sutarmidji di Pontianak, seperti dilansir Antara.

Penyerahan penghargaan MURI itu merupakan rangkaian Pontianak Food and Fashion Festival (PFFF) yang digelar di halaman parkir A Yani Mega Mal Pontianak.

Sutarmidji mengatakan, rekor itu merupakan kelima kalinya dari rekor-rekor yang berhasil dipecahkan Kota Pontianak dan dibukukan MURI. Ke depan, pihaknya dengan dukungan Bank Mandiri dan beberapa BUMN yang lain akan memecahkan rekor-rekor lainnya.

"Kami sedang menyiapkan rekor apa yang akan kita pecahkan. Mudah-mudahan bertepatan peringatan Hari Jadi Kota Pontianak tahun ini, Oktober mendatang, akan ada satu atau dua rekor MURI yang bisa dicatatkan lagi di sini," ungkapnya.

"Ada banyak pilihan kuliner yang bisa dicatatkan dalam rekor MURI. Sutarmidji menyebut, bisa saja talas Pontianak yang diklaimnya lebih bagus dari pada talas Bogor.

Talas bisa menjadi pengganti makanan pokok, selain itu talas Pontianak juga mempunyai rasa yang enak. "Lidah buaya dan sebagainya tetap jadi pilihan untuk jenis-jenis pemecahan rekor," katanya.

Terkait pemecahan rekor yang berhasil dibukukan Pontianak sebagai penggoreng pisang terbanyak, menurutnya, hal itu sudah sepantasnya disandang Pontianak. Karena Pisang Nipah atau kerap disebut pisang kepuk ini sudah cukup terkenal di luar Pontianak dan Kalbar.

"Bukan hanya di dalam negeri saja bahkan hingga mancanegara. Di Jakarta, cukup banyak yang membuka gerai pisang goreng Pontianak," ujarnya.

Sementara itu, Senior Manajer MURI, Awan Rahargo mengatakan pemecahan rekor ini merupakan peristiwa superlatif sebab melibatkan peserta terbanyak. Hal itu merupakan satu dari beberapa kriteria MURI, selain unik dan langka.

"Hari ini dalam rangka mengangkat kuliner ikonik khas Pontianak, selain jeruk Pontianak, pisang goreng Pontianak ini digoreng oleh peserta terbanyak dan dicatat dalam rekor MURI," katanya.

Kuliner Lokal Asli

Ketua Panitia PFFF, Edi Hartono menambahkan, digelarnya pemecahan rekor MURI untuk penggoreng pisang terbanyak ini supaya pisang goreng Pontianak jangan sampai diklaim pihak lain.

"Sebab pisang goreng Pontianak adalah kuliner asli Pontianak. Makanya kita buat rekor MURI bahwa pisang goreng identik dengan Kota Pontianak," jelasnya.

Ke depan, kata Edi, acara serupa akan digelar dengan menggali kuliner khas Pontianak untuk memecahkan rekor MURI. "Ada banyak pilihan, yang jelas khas Pontianak, mungkin ada dua atau tiga jenis," katanya.

Senior Vice President Group Head Transaction Banking SME Sales, PT Bank Mandiri Persero Tbk, Angga Erlangga Hanafie menuturkan, digelarnya pemecahan rekor itu, karena pisang goreng Pontianak pada dua atau tiga tahun lalu pernah menjadi happening, bukan hanya di Jakarta tetapi hampir di seluruh Indonesia.

Bahkan, kata dia, gerai pisang goreng Pontianak yang ada di Jakarta disesaki pembeli yang mengantri.

"Ada satu kekhasan yang berbeda dengan pisang-pisang lain. Di sini bisa dikreasi, ada yang menggunakan karamel dan lain sebagainya," katanya.

Bentuk kreatifitas tersebut dinilai Angga sebagai peluang terbuka untuk industri UMKM berkembang lebih kreatif.

Untuk pemecahan rekor MURI ke depan di Kota Pontianak, Angga menyatakan pihaknya siap mendukung. Ia meminta kegiatan ini harus meningkat dari tahun ke tahun sehingga bisa membawa kearifan lokal itu menasional bahkan mendunia.



/ELY

ANTARA