Suku Momuna, Buku Subu, dan Pohon Keramat

Suku Momuna, Buku Subu, dan Pohon Keramat
Suku Momuna ( Foto: TabloidJubi.com / Piter Lokon )
Nurlis E Meuko / NEF Selasa, 22 Mei 2018 | 02:31 WIB

Suku Momuna memiliki kesamaan dengan masyarakat Korowai terutama model rumah, yaitu rumah pohon yang mereka sebut “Buku Subu”.

Laman tabloidjubi.com melaporkan bahwa masyarakat suku Korowai, tersebar di tiga wilayah administrasi: Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Sementara suku Momuna, tersebar di dataran rendah kota Dekai, Yahukimo.

Kini sudah jarang masyarakat suku Momuna menempati rumah pohon. Mereka bermukim di rumah biasa hasil bantuan sosial pemerintah Kabupaten Yahukimo.

Kendati demikian, upaya untuk membangun “Buku Subu” tetap dilakukan guna menarik turis lokal dan nusantara untuk berkunjung ke kampung mereka di Dekai, ibukota Kabupaten Yahukimo.

Secara spiritual, orang Momuna memiliki keyakinan dan kepercayaan sendiri soal penciptaan terutama Allah pencipta.

"Kami tidak percaya kepada pohon atapun kali, kami meyakini bahwa ada yang menciptakan kami," kata Kepala Suku Besar Momuna, Ismail Keikera, kepada Jubi belum lama ini di kediamannya.

Kendati demikian, Ismail meyakini soal pohon keramat. Ia mencontohkan pada pohon, ada larangan orang tua bahwa kayu merah atau dengan bahasa Momuna disebut "koweni“ jangan ditebang atau disentuh, sebab jika menyentuh ataupun memotong pasti bisa menjadi gila.

"Jadi kita lihat orang banyak yang seperti gila meronta-meronta di rumah sakit itu bukan karena apa, itu mereka sentuh pohon Koweni, kalo kami kena tidak perlu kerumah sakit tetapi tinggal tiup sebentar saja sudah sembuh," katanya.

Menurut Ismail, kepercayaan kepada Allah telah membuat masyarakat Momuna sangat dekat dengan alam dan lingkungan mereka.

Karena itu, katanya, mereka selalu mempertahankan hidup dengan mencari ikan atau dalam bahasa Momuna disebut Ci, menokok sagu atau (Mbi) dan Mate atau ubi hutan sudah menjadi makan pokok sehari-hari dari orang Momuna.

Selain itu, orang Momuna juga berburu hasil hutan, seperti babi hutan, burung kasuari, buaya, dan kura-kura. Setiap kali berburu selalu dibekali dengan sagu, baru bisa mencari daging atau burung dan ikan.

Umumnya orang Momuna mengenal Ubi Gubu atau Matei dalam bahasa Momuna mulai dikenal setelah misionaris datang membawa turun Injil ke Dekai.

Sejak dulu orang tua selalu hidup berpindah-pindah, kata Ismail. Karena ketika sumber makanan habis, maka mereka harus pindah dan membuka kebun baru lagi.

Makanan pokok orang-orang Momuna sejak dulu sagu dan ubi-ubian tetapi sagu adalah makanan pokok masyarakat setempat.

"Tidak ada sagu juga orang bisa lemah, tetapi sekarang ini baru ada nasi," kata Kepala Suku besar Momuna.

Menurut dia tak boleh sembarang orang menebang sagu, karena itu makanan pokok orang asli Momuna, jika ditebang jelas membunuh orang Momuna.

“Siapapun yang tebang sagu dendanya bisa sampai Rp50 juta , jangan macam-macam karena itu makanan pokok kami orang Momuna, karena ini sama saja membunuh satu orang nyawa,” katanya.

Dia tak memungkiri kalau pemerintah juga pernah memberikan beras miskin atau beras sejahtera yang diterima dari Pemerintah Yahukimo melalui PD Irian Bhakti dan diserahkan kepada aparat desa.

“Kami berharap kedepan melalui desa bisa dapat beras perbulan sebagai warga negara Indonesia,” katanya.



Sumber: TabloidJubi.com
CLOSE