Untuk Pertama Kali, Wayang Kulit Tampil di Gedung Teater Rusia

Untuk Pertama Kali, Wayang Kulit Tampil di Gedung Teater Rusia
Dalang Ki Anom Suroto, Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarusia Wahid Supriyadi, dan Tim Kesenian Indonesia pada pagelaran Budaya Indonesia di Tchaikovsky Moscow State Conservatory, Moskow, Rusia, Sabtu, 19 Mei 2018. ( Foto: Istimewa / KBRI Moskow )
Asni Ovier / AO Selasa, 22 Mei 2018 | 11:55 WIB

Moskow - Untuk pertama kali wayang kulit lengkap dengan gamelan tampil secara langsung di dua gedung teater terkenal dan sekolah di Rusia. Duet dalang kondang Indonesia, Ki Anom Suroto dan Ki Bayu Aji, ditambah aksi dalang cilik Pramariza Fadlansyah dan Rafi Ramadhan, berhasil membius warga Rusia. Bahkan, seorang mahasiswa semester terakhir dari Moscow State University bernama Eliza, mendekati Ki Bayu seusai pertunjukan dan menyatakan keinginannya untuk menjadi dalang.

Sementara, seorang warga Rusia lainnya yang merupakan guru seni mengatakan, dirinya akan datang ke Kedutaan Besar RI di Moskow untuk belajar menabuh gamelan dan akan membeli seperangkat gamelan dari Indonesia. Sebagai bentuk apresiasi, Ki Bayu memberikan sebuah wayang dan gunungan kepada kedua warga Rusia tersebut.

Dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Selasa (22/5) disebutkan, rangkaian diplomasi budaya itu diselenggarakan KBRI Moskow di tiga kota Rusia, yaitu di kota terbesar kedua Saint Petersburg yang diselenggarakan di Gedung Pusat Kebudayaan “Troitsky” pada Selasa (15/5), Tchaikovsky Moscow State Conservatory, Moskow, pada Sabtu (19/5), dan Sekolah Gimnasium 18, Distrik Korolyov, pada Minggu (20/5).

Kepala Bidang Kebudayaan Distrik Nevsky, St Petersburg, Marina Borisovna yang belum pernah ke Indonesia dan hadir pada acara itu menyambut baik pagelaran budaya Indonesia di St Petersburg. Dia berharap pada masa yang akan datang dapat berkunjung ke Indonesia untuk lebih mengetahui budaya Indonesia.

“Saya sudah berbicara dengan murid-murid sekolah bahwa saya akan segera berkunjung ke Indonesia. Saya pun akan bercerita bahwa untuk pertama kalinya saya dapat menyaksikan wayang kulit di kota saya,” kata Marina pada saat pagelaran di St. Petersburg. Pertunjukan di Gedung Troitsky yang berkapasitas 700 orang pun penuh dengan para pengunjung yang umumnya terdiri atas para pelajar sekolah menengah.

Sementara itu, Kepala Departemen Hubungan Internasional Tchaikovsky Moscow State Conservatory, Margarita Karatyagina mengatakan, pertunjukan seperti itu belum pernah terjadi dalam sejarah Tchaikovsky Moscow State Conservatory yang didirikan pada 1866. Para penonton tidak beranjak dari tempat duduk saat pagelaran selesai dan memberikan tepuk tangan meriah yang panjang saat para seniman wayang dan penari, yang sebagian besar warga Rusia, berdiri berjajar memberikan hormat kepada para penonton.

“Lain kali, saya ingin pertunjukan wayang kulit seperti ini berlangsung selama 8 jam,” ujar Margarita setelah mendengar sambutan Dubes Wahid yang mengatakan bahwa aslinya wayang kulit dipentaskan dari pukul 9 malam sampai pukul 5 pagi.

Pagelaran wayang kulit dengan cerita “Hanoman Duta” dan “Rahwana Gugur” itu memang menarik perhatian dan antusiasme warga Rusia, tidak hanya orangtua dan dewasa, tetapi juga anak-anak, yang datang ke gedung-gedung pertunjukan. Para penonton hanyut dalam suasana tradisi Indonesia melalui tabuhan orkestra gamelan yang dimainkan nayaga (para pemain gamelan) dan lagu-lagu yang dibawakan para sinden. Pertunjukan wayang menggunakan dialog bahasa Jawa, namun di layar lebar ditampilkan sinopsis cerita dalam bahasa Rusia.

Pagelaran menghadirkan Tim Kesenian Amardi Budaya Dadi Indah (ABDI) dari Solo yang dipimpin oleh Prof Ade Saptomo, yang juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Pancasila dan Tim Kesenian KBRI Moskow. Pagelaran dimeriahkan juga dengan penampilan berbagai tarian daerah Indonesia, seperti Lengger Banyumasan, Sekar Pudyastuti, Angguk Kreasi (Ndolalak), Remo, Gambyong Pareanom, dan Genjring, serta Pencak Silat.

Antusiasme warga Rusia membuat Ki Anom Suroto memiliki kesan tersendiri. Menurutnya, warga Rusia sangat menghargai budaya klasik. Bahkan, dia sempat menyeka air mata ketika anak-anak Sekolah Gimnasium No 18 menyanyikan lagu “Indonesia Raya” dengan sangat fasih sebelum acara dimulai. Ki Anom juga sangat terkesan dengan penampilan warga Rusia yang memainkan gamelan dan bergabung dalam Tim Kesenian KBRI Moskow serta berkolaborasi dengan Tim Kesenian ABDI.

“Permainan gamelan mereka sangat bagus. Warga Rusia yang belum lama belajar dan latihan sudah bisa mengiringi pertunjukan wayang kulit dan bahkan ada yang bisa nyinden," ujar Ki Anom Suroto, yang pernah mendalang di sejumlah negara lain di lima benua.

Duta Besar RI untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, M Wahid Supriyadi mengatakan, pergelaran budaya itu dipersembahkan untuk masyarakat Rusia agar lebih mengenal Indonesia serta mempererat hubungan kedua bangsa. “Wayang kulit yang sudah diakui UNESCO diharapkan dapat menjadi bagian diplomasi budaya Indonesia di Rusia,” kata Dubes Wahid.

Warga Rusia tidak hanya menyaksikan pertunjukan wayang kulit, tetapi juga dapat memperoleh penjelasan tentang wayang kulit dan memainkannya dalam sebuah pelatihan yang dipandu langsung oleh Ki Bayu Aji di Tchaikovsky Moscow State Conservatory. Sementara, di Gimnasium No 18 diselenggarakan pelatihan tarian daerah Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com