Perjuangan Gianti Giadi Membesarkan Gigi Art of Dance

Perjuangan Gianti Giadi Membesarkan Gigi Art of Dance
Penari Gianti Giadi. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 26 Juni 2018 | 16:52 WIB

Jakarta - Nama Gianti Giadi merupakan sosok dibalik Gigi Art of Dance, sebuah studio tari yang ada di bilangan Jakarta Selatan (Jaksel). Wanita cantik dan energik kelahiran 5 Oktober 1985 ini, akrab dengan nama panggilan Gigi.

"Nama Gigi itu sebenarnya judul musikal, soalnya Mamaku suka sekali dengan musikal itu dan kalau punya anak perempuan mau diberi nama Gigi," jelas Gigi di Jakarta, Selasa (26/6).

Ibunda Gigi merupakan seorang penari tradisional Sunda, yang kemudian menurunkan talenta dan passion-nya kepada Gigi, yang mulai belajar menari di usia 4 tahun. Sejak kecil, Gigi mengikuti ibundanya tampil di acara-acara. Ketika duduk di bangku SMP, Gigi mulai membantu ibunya mengajar.

"Ternyata, seru juga ya ngajar nari. Waktu itu jadi punya penghasilan sendiri dari dance dan jadi berpikir seru juga ya kalau bisa menari untuk cari pemasukan, extra uang saku," katanya.

Gianti Giadi

Menginjak bangku SMA, Gigi mulai menari dengan serius dengan mempelajari modern dan jazz dance. Namun, selepas sekolah menengah atas (SMA), dirinya bingung hendak melanjutkan kemana. Kemudian, sang ibu menawarkan untuk masuk jurusan menari.

"Soalnya aku kan tidak pernah berhenti menari dari kecil, mau ngambil jurusan yang aku tidak tertarik, takut putus di tengah jalan. Untungnya, ada support dari orang tua, mereka bilang kalau mau nari terus ya harus jadi penari yang terbaik," kenangnya.

Gigi kemudian memilih untuk melanjutkan kuliah di Lasalle College of The Arts, Singapura, dan berhasil lulus dengan gelar BA (Hons). Selepas meraih gelar sarjana, Gigi ditawarkan mengajar di Lasalle, dan kemudian di beberapa sekolah lain di Singapura.

Sepulangnya ke tanah air, Gigi mendirikan Gigi Art of Dance, Gigi Dance Company dan Gigi Foundation bagi anak muda Indonesia yang memiliki passion yang sama dengan dirinya. Di studio Gigi Art of Dance banyak hal yang dapat mengembangkan potensial murid. Contohnya, terdapat kelas untuk dance journalist, dance critiques dan reviews.

"Jadi misalnya mereka suka nulis, aku ajak mereka nonton performance dan menulis review-nya. Soalnya, kritikus dance juga bisa jadi karir," jelasnya.

Bagi Gigi, penari itu tidak hanya aktif menari. Sewaktu duduk di bangku SMA, dirinya sudah memutuskan untuk menjadi penari profesional, namun belum terbayang jalur karirnya akan seperti ini. Begitu masuk Lasalle, baru ditunjukkan ternyata jalan karir itu banyak sekali.

"Dari situ aku percaya, menari bisa dijadikan karir dan tidak sedangkal 'kita hanya menari saja'. Misalnya, kita juga bisa belajar otot mana yang digunakan untuk menari. Jadi, kita bisa jadi dokter yang spesialis dance injury. Kemungkinan karirnya banyak, bukan hanya menari di atas panggung. Misalnya, suka technical theatre, kita bisa jadi lighting designer atau set designer," jelasnya.

Saat ditanya akan kemana arah karirnya di masa mendatang, wanita cantik yang selalu ramah senyum hanya berkata singkat. "Tetap dan terus bahagia (tertawa). Dengan karirku, aku ingin memberi dampak yang positif bagi masyarakat dan generasi muda," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE