Menjaga Eksistensi Permainan Tradisional di Era Permainan Digital

Menjaga Eksistensi Permainan Tradisional di Era Permainan Digital
Olahraga tradisional obah owah dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tampil sebagai pemenang atau peraih nilai tertinggi pada Festival Olahraga Tradisional Nasional XI 2018 yang digelar di Kota Jambi, Sabtu - Minggu (7- 8/7). ( Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih )
Radesman Saragih / FMB Senin, 9 Juli 2018 | 21:40 WIB

Jambi - Kepedulian masyarakat dari berbagai daerah terhadap kelestarian olahraga tradisional yang kini semakin punah ternyata masih cukup tinggi. Hal tersebut tercermin antusiasme warga masyarakat berbagai daerah mengikuti mengikuti Festival Olahraga Tradisional Nasional XI 2018 yang digelar di Kota Jambi, Sabtu - Minggu (7- 8/7).

Sedikitnya 200 peserta dari 18 provinsi dan dua kabupaten di Provinsi Jambi mengikuti festival olahraga tradisional secara nasional tersebut. Sedikitnya 20 jenis olahraga tradisional dari Aceh hingga Papua dipertandingkan pada festival olahraga tradisional tersebut. Olahraga tradisional obah-owah asal Daerah Istimewa Yogyakarta mendapat penilaian tertinggi dalam festival tersebut.

Festival olahraga tradisional nasional di Jambi tersebut tampak lebih meriah karena dipadukan dengan Liga Santri Nusantara Region Sumatera VI Wilayah yang diikuti 12 pondok pesantren (ponpes) dari seluruh persada nusantara.

Deputi III Pembudayaan Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga RI, Raden Isnanta pada Festival Olahraga Tradisional Nasional 2018 tersebut mengatakan, olahraga dan permainan tradisional dari seluruh pelosok Tanah Air belakangan ini semakin banyak yang punah akibat pengaruh budaya digital.

Gempuran permainan modern secara online (internet) membuat olahraga dan permainan tradisional semakin ditinggalkan. Anak-anak di berbagai daerah sudah semakin jarang melakukan olahraga tradisional karena lebih tertarik bermain game online di internet, Playstation, dan handphone (telepon genggam).

“Pemerintah Pusat melihat olahraga tradisional lama kelamaan sudah mulai punah. Satu per satu olahraga tradisional tidak lagi dikenal oleh generasi muda karena pesatnya kemajuan teknologi saat ini. Generasi muda zaman now semakin terjebak pada dunia digital yang menawarkan banyak pilihan permainan,” katanya.

Identitas Bangsa
Isnanta mengatakan, olahraga dan permainan tradisional merupakan identitas budaya dan aset kekayaan bangsa yang perlu diselamatkan. Banyaknya aneka olahraga dan permainan tradisional di Indonesia menunjukkan kekayaan dan kehebatan budaya bangsa.

“Namun jika olahraga tradisional ini mulai punah, maka kekayaan dan kehebatan itu tidak ada lagi. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat di berbagai daerah terus berupaya menghidupkan dan melestarikan olahraga tradisional dan permainan,”katanya.

Dikatakan, Pemerintah Pusat (Kementerian Pemuda dan Olahraga) terus berupaya menggelorakan semangat olahraga tradisional di seluruh daerah melalu festival olahraga tradisional setiap tahun.

Melalui festival olahraga tradisional tersebut, lanjut Isnata, warga masyarakat seluruh daerah berusaha menggali kembali olahraga tradisional yang sudah punah. Kemudian melalui festival olahraga tradisional tersebut juga, berbgai jenis olahraga tradisional yang sudah lama hilang bisa dipopulerkan kembali secara nasional.

Sementara itu Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jambi, HM Dianto pada festival olahraga tradisional tersebut mengatakan, olahraga tradisional merupakan olahraga bernuansa tradisional yang menunjukkan jati diri suatu kebudayaan daerah. Karena itu seluruh daerah diharapkan menggali kembali dan melestarikan olahraga tradisional sebagai warisan leluhur bangsa dan kekayaan budaya bangsa.

"Olahraga tradisional memiliki nilai luhur yang perlu kita wariskan kepada generasi muda untuk meningkatkan semangat persahabatan, kebersamaan, kekeluargaan dan menciptakan suasana keceriaan. Saat ini merupakan momen yang tepat bagi kita untuk mulai melestarikan nilai-nilai historis dan sosial kemasyarakatan bangsa ini,"ujarnya.

Dikatakan, festival olahraga tradisional nasional tidak menonjolkan kompetisi, namun lebih mengedapankan sajian pertunjukan olahraga dan permainan tradisional yang dimiliki oleh masing-masing daerah.

“Olahraga dan permainan tradisional yang disajikan tersebut didaftarkan dan diseleksi di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia menjadi jenis olahraga dan permainan tradisional nasional,” kata dia.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE