Mengenalkan Rugby di Indonesia: Sudah Dimainkan sejak 30 Tahun Lalu (1)

Mengenalkan Rugby di Indonesia: Sudah Dimainkan sejak 30 Tahun Lalu (1)
Seorang pemain melempar bola rugby kepada salah seorang rekannya saat berlatih di kompleks Senayan, Jakarta, Senin (2/9). ( Foto: Beritasatu.com/Zulfikri Syatria / Zulfikri Syatria )
Shesar Andriawan / HA Selasa, 3 September 2013 | 15:40 WIB

Jakarta - Pengurus Besar Persatuan Rugby Union Indonesia (PB PRUI) baru resmi terbentuk pada 28 Agustus 2013 lalu. Namun, ternyata olahraga yang sarat kontak fisik ini sudah lama dimainkan di Indonesia, sekitar 30 tahun lalu oleh para ekspatriat Australia, Selandia Baru, dan Inggris.

Mereka yang sebagian besar bekerja di perusahaan tambang bermain rugby union untuk menghilangkan kebosanan. Tak heran kala itu rugby lebih sering terlihat di sekitar area pertambangan.

"Dimana ada (area) tambang, di situ ada tim rugby," jelas Akmal Nasser, Sekretaris Jenderal PB PRUI, di lapangan hoki Senayan, Senin (2/9) malam.

Rugby union juga dimainkan oleh militer Indonesia seperti yang diakui oleh Mayjen TNI AU (Purn) Pieter Wattimena.

"Dulu memang terkadang main rugby di camp," ujarnya seusai dilantik menjadi Ketua Umum PB PRUI masa jabatan 2013-2017, Rabu (28/8).

Rugby union mulai dikenal banyak pada awal tahun 2000. Dengan popularitas yang semakin menanjak, sekelompok kecil relawan berkumpul dan memutuskan untuk mendirikan PRUI pada Mei 2004. Tujuannya adalah untuk memasyarakatkan rugby union di Indonesia. Puncaknya, pada 2006, timnas rugby union Indonesa terbentuk dan memiliki sebutan "Rhinos". Kala itu, Rhinos yang dikapteni Nelson Joku diperkuat oleh 22 pemain, yaitu 15 pemain inti dan tujuh pemain cadangan.

Saat ini menurut Akmal, PRUI juga menjalin kerjasama dengan Australia Youth Ambassador for Development (AYAD) dalam pengembangan pemain rugby union, administrasi, kantor, pemasaran, dan sponsor. Juga ada kerjasama dengan Japan Rugby Football Union (JRFU).

"Itu dulu saya minta pinjam dua pelatih JRFU untuk bantu saya menyeleksi timnas," kata Akmal.

Liga Reguler Masih Tingkat Jakarta
Dalam hal kompetisi, rugby union memiliki liga yang saat ini baru berskala DKI Jakarta. Tahun lalu liga tersebut bergulir pada Februari - Maret 2012 dan diikuti oleh empat klub : Jakarta Banteng, Jakarta ISCI Komodo, Jakarta Japan Rugby Gila (JJRG) Samurai, dan Bandung Rams. Yang kemudian keluar sebagai juara liga adalah ISCI Jakarta Komodo.

Akmal mengatakan, membuat sebuah liga berskala nasional saat ini belum memungkinkan. Selain terkendala pada masalah pendanaan, juga disebabkan para pemain rugby union di Indonesia masih berstatus amatir. Belum ada satupun yang berstatus profesional. Untuk itu, yang baru bisa diadakan adalah kejuaraan nasional (kejurnas) yang akan dihelat November tahun ini.

"Setelah nanti punya dana yang cukup untuk membayar pemain, baru bisa dibikin liga yang berskala nasional," ujar Akmal.

PB PRUI saat ini lebih berfokus pada pengenalan rugby union secara luas dan mencari bibit pemain daripada fokus kepada performa tim yang sudah ada. Untuk itu saat ini PB PRUI sedang menggodok kurikulum rugby union dari IRB (International Rugby Board) untuk siswa SD dan SMP. Program sosialiasi itu dinamai 'Get Into Rugby'. Namun, mereka belum akan bisa berkompetisi karena sesuai aturan IRB, usia minimal yang diperbolehkan adalah 16 tahun.

Untuk kompetisi usia muda, PB PRUI memiliki kejuaraan rugby union antar SMA yang sudah dihelat dalam tiga tahun terakhir. Sampai saat ini skalanya masih di DKI Jakarta dan baru diikuti oleh 12 SMA.

Wasit Lokal Belum Banyak
Untuk wasit sendiri di Indonesia saat ini jumlahnya masih belum banyak. Wasit rugby union di Indonesia masih didominasi oleh para ekspatriat. Selain karena mereka jauh lebih berpengalaman, di Indonesia sendiri belum ada asosiasi wasit rugby union dan kurikulum pendidikan wasit.

Dengan masuk ke dalam kepengurusan KONI, tidak secara otomatis PB PRUI mendapatkan bantuan finansial. Akmal mengatakan, pihaknya sadar akan hal itu sehingga tidak terlalu berharap akan adanya bantuan finansial.

"KONI sudah bilang nantinya mereka akan bantu kami cari sponsor untuk pembiayaan bermacam hal," terangnya.

Akmal juga mengatakan bahwa saat ini PB PRUI sedang menjajaki kemungkinan mendapat bantuan dari BUMN. Harapannya nantinya perusahaan BUMN mengalokasikan 1% keuntungannya untuk olahraga.

Dan meskipun sampai saat ini belum terlalu dikenal luas, rupanya timnas rugby Indonesia punya prestasi yang bisa dibilang lumayan membanggakan. Pada pertandingan penentuan Divisi III Asian Five Nations di Petaling Jaya, Malaysia, Juni 2013 timnas Indonesia sukses mengalahkan China dengan skor 37-13. Akibatnya China terdegradasi ke Divisi IV, sementara Indonesia sukses bertahan di Divisi III.

Agenda terdekat, PB PRUI akan mengirim timnas U20 ke Johor Baru, Malaysia pada 14 September 2013 untuk mengikuti ajang Asian Rugby Seven Series (A7S). Seri I akan berlangsung di Johor Baru, dilanjutkan dengan Seri II di Hong Kong pada Desember. Seri setelahnya menurut Akmal masih belum ditentukan waktu dan lokasinya.

Saat ini Indonesia memiliki 16 klub rugby union yang tersebar mulai dari Banten sampai Papua. Ke-16 klub tersebut adalah sebagai berikut :

1. Jakarta Bantengs (Jakarta) – 92% Indonesia, 8% ekspatriat
2. ISCI Komodos (Banten) – 100% ekspatriat
3. Jakarta Japan Rugby Gila Samurai (Banten) – 100% ekspatriat Jepang
4. Jago Dulu (Jakarta) – 100% ekspatriat
5. Bandung Rams (Jawa Barat) – 80% Indonesia, 20% ekspatriat PNG
6. Bandung Ewes (Jawa Barat) – 75% Indonesia, 25% ekspatriat
7. Sengata Hornbills (Kalimantan Timur) – 90% Indonesia, 10% ekspatriat
8. Balikpapan Bears (Kalimantan Timur) – 80% Indonesia, 20% ekspatriat
9. Gosowong (Maluku Utara) – 100% Indonesia
10. Mantano Miners (Sulawesi Tenggara) – 90% Indonesia, 10% ekspatriat
11. Banti Menagas (Papua) – 100% Indonesia
12. Kotekas (Papua) – 100% Indonesia
13. Sumbawa Nagas (Nusa Tenggara Barat) – 100% ekspatriat
14. Sumbawa Development (Nusa Tenggara Barat) – 100% Indonesia
15. Bali Stiff Chillis (Bali) – 20% Indonesia, 80% ekspatriat
16. Bali Red Chillis (Bali) – 100% Indonesia

 

 

CLOSE