Pesantren Ini Banyak Mencetak Pemain Hoki Handal

Pesantren Ini Banyak Mencetak Pemain Hoki Handal
Tim hoki pesantren Al-Zaytun Indramayu ( Foto: beritasatu.com/Shesar Andriawan )
Shesar Andriawan / FER Senin, 26 Mei 2014 | 06:31 WIB

Jakarta - Hoki adalah olahraga yang tak begitu populer di Indonesia. Olahraga asal Persia ini belum banyak dimainkan oleh masyarakat Indonesia. Maka menjadi tak biasa ketika ada sebuah institusi akademi yang secara khusus memiliki ekstrakurikuler hoki sejak tingkat SD.

Institusi tersebut adalah Pesantren Al-Zaytun yang berlokasi di Indramayu, Jawa Barat. Al-Zaytun yang punya sekolah dari tingkat SD hingga perguruan tinggi, punya ekskul hoki sejak 1999. Artinya, sudah 15 tahun warga Al-Zaytun akrab dengan hoki.

Ketua Pembina Harian Ekskul Hoki Al-Zaytun, Budi Satrio, mengatakan bahwa selama 15 tahun Al-Zaytun sudah banyak berkiprah di kompetisi hoki nasional. Seperti dalam keikutsertaan di ISCI International Hockey 8's Festival, 22 - 25 Mei di lapangan hoki Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat.

"Tiap tahun, sejak 2009 kami selalu ikut turnamen ini. Tim putri berhasil jadi juara, empat tahun berturut-turut. Sedangkan yang putra, juaa terus selama lima tahun," kata Budi.

Tahun ini tim putra yang sebagian besar usia pemainnya 16-17 tahun ikut di kategori senior. Lawan-lawan mereka sangat kenyang pengalaman dengan usia yang sebagian besar sudah di atas 30 tahun. Toh, Al-Zaytun tetap bisa keluar sebagai runner-up, hanya kalah dari sang juara ISCI Baggers di final.

Oleh lawan, menurut Budi, timnya dijuluki tim pelatnas jangka panjang. Ini karena siswa-siswi Al-Zaytun tinggal di asrama sepanjang masa pendidikan.

Di sana mereka rutin berlatih hoki setiap hari atau minimal dua kali seminggu. Jangan heran jika secara teknis, para pemain Al-Zaytun sudah cukup matang. Sebagian besar dari mereka baru tertarik bermain hoki di usia 13 tahun atau lebih. Tapi ada juga yang sudah bermain sejak usia 8 tahun.

"Soal populer tetap lebih banyak yang pilih sepak bola. Bisa dibilang 10 persen yang minat ke hoki," kata Budi.

Dengan pengalaman selama 15 tahun, Al-Zaytun pun pernah mengajukan ide pembinaan usia muda ke Pengurus Pusat Federasi Hoki Indonesia (PP FHI). Jika ide itu diterima, nantinya Al-Zaytun akan jadi pusat pembinaan atlet hoki muda dari seluruh Indonesia. Kira-kira sama seperti SMA Ragunan.

Ide tersebut diajukan sudah setahun lalu. Tapi apa mau dikata, Budi mengaku hingga kini belum ada jawaban dari PP FHI. Baik lisan maupun tulisan.

"Mungkin karena terlalu banyak kepentingan bermain jadinya susah," ujarnya menduga.

Kenyataannya, meski hoki sudah cukup tersebar di Nusantara, Indonesia belum punya liga hoki nasional. Yang ada barulah Liga Hoki Jakarta. Sebagai perbandingan saja, Malaysia punya Malaysia Hockey League yang bergulir sejak 1987.

CLOSE