Lifter Indonesia, Wijoyo Surahmat (tengah) dan M Furqon (kiri) meraih emas dan perak cabang medali emas pada ajang Islamic Solidarity Games di Baku, Zaerbaijan, Sabtu, 13 Mei 2015.

Kualitas Atlet di ISG IV Dinilai Lebih Ketat

Lifter Indonesia, Wijoyo Surahmat (tengah) dan M Furqon (kiri) meraih emas dan perak cabang medali emas pada ajang Islamic Solidarity Games di Baku, Zaerbaijan, Sabtu, 13 Mei 2015. (Istimewa)

Baku - Wakil Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang juga wakil ketua CdM Indonesia di Islamic Solidarity Games (ISG) IV, H Muddai Madang, mengatakan, raihan medali tim Indonesia sudah sesuai dengan target yang ditetapkan.

Menurutnya, selain memang atlet timnas sedang persiapan untuk ajang SEA Games di Malaysia, kualitas atlet peserta yang turun di ISG IV di Baku Azerbaijan ini juga sangat ketat dibanding ISG sebelumnya.

"ISG kali ini kualitas atletnya jauh lebih ketat dibanding ISG sebelumnya, artinya atlet-atlet yang berlaga sekarang ini banyak atlet yang mereka malang melintang di Eropa. Karena memang sebagian dari peserta ISG ini, berkompetisi di Eropa," kata Muddai ketika dihubungi Jumat (19/5).

Ia menegaskan, hingga saat ini posisi sementara Indonesia berada di urutan keenam dengan raihan medali sementara 6 emas, 25 perak dan 20 perunggu. Dirinya berharap, masih ada penambahan medali hingga posisi di lima besar bisa diraih.

"Kita masih ada pertandingan cabor loncat indah, wushu dan basket 3x3. Mudah-mudahan masih tetap bisa masuk lima besar," harap Muddai bersama Duta Besar Indonesia untuk Azerbaijan, Husnan Bey Fananie, yang terus memotivasi seluruh atlet yang masih bertanding.

Sementara itu, pelatih tim renang Indonesia Albert C Sutanto, mengungkapkan, saat-saat proses perjuangan tim Indonesia mengumpulkan kepingan medali pada ISG IV di Baku Azerbaijan. Dikatakannya, medali emas pertama tim Indonesia diraih oleh Nathaniel Gagarin di nomor 200 meter gaya dada putra.

"Kalau kita lihat memang itu sebetulnya bukan suatu target yang kita targetkan, tapi secara mengejutkan Gagarin mampu bersaing dan menangnya pun sangat sedikit, hanya 10/100. Jadi pada saat itu kita loncatlah karena ini emas pertama buat kita," ungkap Albert.

Diungkapkannya lagi, untuk dinomor selanjutnya emas kedua diraih oleh I Gede Siman Sudartawa, di nomor ini memang ditargetkan dan memang ada target lain yaitu rekor nasional, namun di 100 meter gaya bebas ini Siman hanya terpaut 13/100 detik dari rekor nasional.

"Itupun karena medali emas, kitapun juga teriak karena memang disini sulit sekali, kita melawan perenang-perenang dari Turki, kemudian dari tuan rumah sendiri Azerbaijan. Mereka itu kan kuat-kuat semua, dan tergolong kelasnya Eropa. Jadi, medali emas ini sangat berharga sekali buat kita, dan ditutup dengan medali emas yang ketiga juga dari I Gede Siman Sudartawa di nomor 50 gaya punggung dan juga memecahkan rekor nasional, itu memang luar biasa sekali," katanya.

Timnya sebenarnya buta dengan peta kekuatan lawan, karena menurut Albert dirinya sendiri sebagai pelatih di ISG ini baru dua kali mengikutinya. Pertama di Palembang, dan kedua kali ini di Azerbaijan.

"Kalau di Palembang kita tuan rumah, jadi mereka tidak turun terlalu banyak, contohnya Turki tidak full tim seperti saat ini. Karena saat ini mungkin karena dekat hanya dua jam perjalanan, jadi mereka datangnya full tim dan solid, mereka benar-benar menargetkan juara umum. Apalagi, tuan rumah selanjutnya di Istanbul Turki," jelas Albert yang sukses mengantarkan tim renang Indonesia meraih 3 emas, 17 perak dan 13 perunggu.

Untuk cabor angkat besi, tim Indonesia juga sukses meraih 3 emas dan 4 perak. Medali emas diraih oleh Surahmat, Sri Wahyuni Agustiani dan Eko Yuli Irawan. Sementara medali perak oleh M Furkon, Dewi Safitri, Accheddya dan Nurul Akmal.

"Menurut saya record track, karena even ini kita jadikan try out tim pelatnas utuk SEA Games, jadi perkembangan mereka sesuai dengan track yang kita harapkan hasilnya. Selanjutnya kita akan fokuskan pelatnas untuk SEA Games, karena target kami kedua di tahun ini adalah di SEA Games di Malaysia bulan Agustus. Kita harus fokuskan mereka kembali ke angkatan terbaiknya, mungkin stretching power, maintaining teknik, maintaining gizi dan recovery," kata manager angkat besi Alamsyah Wijaya.

 



Suara Pembaruan

Hendro D Situmorang/FER

Suara Pembaruan